Saturday, October 8, 2011

warna

Mari kita ngobrol tentang warna.

Warna kesukaan gue?

Semenjak kecil sampai udah sebesar ini, warna kesukaan gue berganti-ganti. Dulu waktu masih sangat kanak-kanak, gue suka warna merah. Sampai-sampai rapot TK pun gue minta warna merah. Padahal kata teman-teman, merah itu artinya nilainya jelek. Akhirnya gue memang mendapat apa yang gue inginkan. Bukan merah yang artinya nilai jelek. Tapi rapot berwarna hijau, dengan gambar di atasnya ikan warna merah.

Nyokap gue suka dengan warna bumi, yaitu coklat dan hijau, sehingga baju-baju gue pun sebagian besar berwarna itu. Ga ngerti juga sih suka apa ngga dengan warna-warna yang 'dipaksakan' itu.

Menjelang abege sampai dengan pertengahan masa kuliah, gue menyukai warna hitam dan biru tua. Mungkin hitam mewakili sisi gue yang sebenarnya memang agak tertutup, sementara biru mewakili gue yang bisa misterius, bisa juga semangat.

Ya. Itulah. Gue si penyuka warna biru.

Lalu gue hari ini mengganti layout blog gue dengan warna abu-abu. Alasannya? Gue pikir karena pada saat ini terlalu banyak hal abu-abu dalam hidup gue. Banyak ketidakjelasan, banyak hal yang ga dimengerti. Ga tahu apa yang mau dilakukan, apa yang mau diputuskan, dikungkung kebingungan. Sekaligus banyak kekelabuan yang tersimpan dalam hati dan pikiran. Mendung yang mengancam akan hujan.

Berharap segera, entah kapan, ada warna lain yang datang memecah kelabu. Toh, gue pikir, pelangi juga ga seru dan ga cantik kalau warnanya hanya satu atau dua macam saja.

Sunday, August 21, 2011

Toleransi

Di jalan tol, yah, yang paling gampang sih tol Cikampek-Cipularang yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung, ada rambu-rambu yang menyatakan batas terendah kecepatan berkendara adalah 60km/jam, dan batas tercepat adalah 80km/jam. Dengan kata lain, itulah batas toleransi yang diperkenankan bagi mobil-mobil di jalan tol.

Di Indonesia sendiri sih peraturan itu jarangggg banget ditepati. Contohlah gue, selalu memacu mobil rata-rata di atas 100km/jam, kalau beruntung bahkan bisa sampai 140-150km/jam. Lain dengan di negara-negara lain.

Oke, posting ini sesungguhnya bukan tentang mobil, tol ataupun batas kecepatan.

Berbicara tentang toleransi, yang mana sayangnya seringkali dilanggar, atau paling tidak dikompromikan, sebetulnya seberapa jauh sih toleransi itu diberlakukan atas suatu tindakan? Terutama jika menyangkut suatu relasi. Apa sih yang menjadi dasar ditentukannya suatu batas toleransi? Dulu di sekolah, ada batas toleransi keterlambatan, 10 menit. Ada batas toleransi panjang rok seragam, selutut. Ada batas toleransi kesabaran, yang mana pasti relatif bagi tiap orang. Apa sih yang sebetulnya dijadikan patokan?

Memang, diri gue yang sekarang mungkin lebih bisa mengembangkan batas toleransi kesabaran. Malah salah satu mimpi gue adalah bahwa suatu hari nanti gue bisa mencapai suatu titik dimana ga ada garis batas kesabaran. Juga demikian halnya dengan memaafkan.

Kalau disangkutkan dengan memaafkan, apakah toleransi itu berarti juga memaafkan sampai dengan batas tertentu? Tapi, bukankan kita harus selalu memberi maaf pada kesalahan apapun? Tapi kalau disangkutkan dengan kompromi, apakah maknanya jadi berubah? Karena, sepengetahuan gue, ada hal-hal yang punya harga mati, alias tidak bisa dikompromikan.

Pada akhirnya, kesimpulan gue ialah, toleransi memiliki beberapa kesamaan makna dengan memaafkan (namun tidak semua); toleransi memiliki beberapa kesamaan makna dengan kompromi (tidak semua); memaafkan memiliki beberapa kesamaan makna dengan kompromi (sekali lagi, tidak semua).

So. Sampai di mana batas toleransi kita bermain makna 'toleransi' ini?

Monday, August 15, 2011

Melangkah


Perubahan. Ada yang bilang revolusi. Ada yang bilang perpindahan. Tapi gue lebih suka menyebutnya melangkah, bergerak maju.

Dalam kehidupan nyata, melangkah secara harafiah tidaklah susah. Dulu waktu masih pergi ke sekolah Minggu, seringkali gue menghitung langkah gue dari rumah sampai ke sekolah Minggu, dan saking banyaknya, biasanya memasuki hitungan ke tiga ratus sekian, gue sudah lupa. Menunjukkan bahwa betapa biasanya kegiatan melangkah ini.

Melangkah, berarti melakukan suatu kegiatan transportasi. Meninggalkan satu titik dan tiba di titik lain. Berpindah. Bergeser. Bukan sekedar bergerak. Segampang itu, sebetulnya, secara kata-kata.

Tidak demikian jika menyangkut sebuah keputusan yang bukan lagi soal mengayunkan kaki. Menghidupi sebuah periode yang sangat luar biasa selama beberapa tahun, gue akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar dari sebuah lingkaran, bergerak maju. Bagaimana gue tahu gue bergerak maju? Gue bergerak maju karena gue memasuki suatu masa yang baru, yang belum pernah gue alami. Fase baru. Level baru. Yang belum pernah ditempuh.

Sulit? Luar biasa sulit. Sakit? Pastinya. Keputusan yang akhirnya gue lakukan setelah berbulan-bulan lamanya, bahkan mungkin hampir setahun terakhir, digumuli. Sulit meninggalkan sebuah periode yang luar biasa. Sebuah periode yang mendewasakan gue, menumbuhkan gue secara iman. Sebuah periode luar biasa, dimana gue merasakan excitement hampir sepanjang waktu, getaran-getaran hangat yang menjalar di perut dan naik ke muka dan membentuk senyuman. Sebuah periode dimana gue merasakan kasih Tuhan mengalir lewat seseorang yang tanpa sengaja membawa gue mengenal Tuhan melalui berbagai-bagai peristiwa dalam hidupnya.

Sebuah perubahan yang sangat besar, drastis, signifikan. Melangkah keluar dari sebuah mimpi yang tadinya gue sangat yakini akan menjadi awal dari masa depan gue. Keluar menuju lahan kosong yang baru, yang entah akan membawa gue ke mana, tapi yang gue imani adalah sesuatu yang terbaik di sana.

Jadi di sinilah gue, lebih kuat, sekaligus lebih rapuh. Kuat karena gue sudah dan sedang dilatih, rapuh karena gue sangat membutuhkan Tuhan memeluk gue menjalani masa sulit ini. Melakukan langkah pertama ke fase yang baru. Gue rasa, inilah saat dimana cerita Footprints in The Sand sedang terjadi sama gue. Dimana di pasir hanya terlihat sepasang jejak kaki saja. JejakNya yang sedang menggendong gue.

Monday, July 11, 2011

Interpretasi

Gue banyak bergaul dengan istilah ini pada saat aktif-aktifnya di paduan suara. Singkatnya, pemahaman untuk membawakan lagu sesuai artinya, pesan yang ingin disampaikan, cara membawakan, emosinya, dan membawakannya dengan cara menyanyikannya, bukan hanya baca not.

Tapi bukan soal lagu yang mau gue singgung di sini.

Gue pikir, gue telah salah menginterpretasikan arti dari cinta. Jangan salah. Seharusnya, standarnya, idealnya, cinta itu menutupi segala kesalahan, sabar, murah hati, tidak egois, tidak buta, tidak memaksakan apapun yang bukan haknya. Cinta itu manis, lembut.

Tapi gue ada kesalahan dalam interpretasi. Saat ini, dua bulan terakhir ini, yang gue rasakan adalah sedih. Ragu. Perasaan negatif yang berkecamuk. Takut. Gundah. Gelisah. Marah. Murung.

Tapi apa yang salah sehingga gue salah menginterpretasikan cinta, gue sendiri bingung. Ga ngerti. Ga tahu harus mengusahakan apa. Ga bisa santai.. Seharusnya gue hanya perlu duduk tenang,diam, berharap dengan iman. Sepert Daud bilang, "I will be still, know that You are God."

Ini yang jadi PR besar gue.

posted from Bloggeroid

Tuesday, July 5, 2011

Idealisme, idealisme dan idealisme

Seberapa jauh sih sebetulnya kita mau setia?
Seberapa jauh sih sebetulnya kita mau tetap dengan pendirian kita, tanpa tergoyahkan?
Seberapa jauh sih sebetulnya kita mau mempertahankan idealisme kita?

Banyak berpikir, dan akhirnya gue menemukan salah satu dari segudang kekurangan sekaligus kekuatan gue. Idealisme. Standar.

Standar dan idealisme jugalah yang membuat gue terlihat seperti kutu loncat, berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dari satu kantor ke kantor lain. Terlanjur nyaman dan akhirnya menerapkan sebuah standar atas diri gue sendiri, dalam hal pekerjaan, akhirnya gue menuntut yang sama dari pihak manapun, siapapun, yang mempekerjakan gue. Bertemu dengan sistem, dan jika ada satu hal saja yang ga sesuai dengan prinsip, gue memilih untuk beralih ke tempat lain yang gue harapkan sesuai dengan nilai-nilai yang gue anut.

Prinsip. Satu hal yang sangat berkorelasi dengan idealisme.

Hal itu jugalah yang membuat sekarang gue bertengger di kantor baru, kembali ke media dan PR Agency. Dan hal itu jugalah yang akhirnya membuat gue dan teman-teman memutuskan untuk membentuk usaha barengan. Dengan idealisme yang sama, prinsip yang sama, sistem yang sama, interest yang bertemu, kloplah sudah.

Standar dan idealisme jugalah yang membuat gue tetap setia dan bertahan dengan segala perasaan, iman, percaya, kepada satu hal yang sudah terbangun selama hampir empat tahun lamanya. Walau didera dari luar, didera juga di dalam, didera satu sama lain, tapi gue memilih untuk tetap tinggal, apapun resikonya. Idealisme jugalah yang membuat gue terus menggumuli hal ini, dan baru akan mundur kalau Ia sudah menyuruh gue mundur.

So intinya adalah, gue justru bergumul dengan idealisme dan prinsip gue sendiri. Yang sebetulnya adalah, gue harus belajar untuk menggunakannya sebagai kekuatan dan pijakan dan 'gift' untuk maju dan berkembang.

Wednesday, April 27, 2011

takut? tidak takut?

Baru saja mengikuti kuis online yang diadakan sebuah majalah lisensi yang fokus pada kesehatan mind, body, soul. Banyak pertanyaan mengenai, apakah kamu sudah merasa hidup secara maksimal, apakah pertumbuhan umur menakuti kamu, apakah bertambahnya umur semakin membuat kamu cemas, makin pede sama tubuh ga saat makin tambah umur, dan lain-lain.

Jujur, buat gue bertambah umur itu tidak menakutkan. Sama sekali. Malah kayaknya ada hal-hal baru yang ingin dipelajari, ingin didalami, mata makin terbuka akan banyak hal. Gue sama sekali tidak takut juga pada saat itu berkaitan dengan fisik, karena gue selalu jaga kesehatan jasmani dan rohani.

Bukan itu yang membuat gue cemas. Bukan kerut-kerut di sudut mata. Bukan juga karena bertambahnya umur berarti berkurangnya jam biologis. Bukan itu.

Yang membuat gue merasa agak mudah kalah dalam hal pertambahan umur ini ialah bahwa semakin dewasa, makin kompleks masalah yang dihadapi, sesuai dengan porsi umur kita. Jika kita masih kecil, masalah kita adalah bahwa kita harus pintar di sekolah, banyak teman, ga kuper, disayang guru, dapat nilai bagus. Memang betul, bahwa masalah-masalah pun menjadi tanda bahwa kita sudah 'naik kelas' dari grade sebelumnya. Kita bertumbuh. Tuhan pun memakai masalah dan pergumulan sebagai cara menumbuhkan kita.

Intinya, gue tidak sebetulnya tidak merasa takut. Tapi gue benci perasaan yang membuat gue tidak nyaman. Bingung juga tidak, tapi kesal karena merasa kesal. Gue tidak takut akan sebuah kehilangan; gue benci perasaan kehilangan. Gue tidak takut akan tantangan; gue benci kalau tantangan itu membuat perasaan gue susah dan sedih.

Banyak hal yang harus gue hadapi sekarang. Satu sisi gue tahu Tuhan lagi melatih kekuatan otot iman gue, namun di satu sisi gue merasa sangat lelah.

Wednesday, February 9, 2011

Ayam tumis cabe

Gue baru mencoba sebuah resep baru.. Entahlah ini apa judulnya.

Bahan:
- Dada ayam tanpa tulang, tanpa kulit, potong2 sebesar dadu
- 2 cabe merah, iris2
- 1 rawit or cengek, iris2 juga
- bawang merah 2 siung, iris2 tipis
- bawang putih 1 siung, memarkan, cacah halus
- 2 sdm minyak goreng
- sedikit air
- bumbu teriyaki Saori (harus nyebut merk karena ini yang gue pake) secukupnya

Cara membuat:
- Tumis minyak goreng bersama cabe merah, rawit, bawang merah, bawang putih
- Masukkan sedikit saja air
- Masukkan bumbu teriyaki
- Aduk rata
- Masukkan daging ayam
- Aduk rata (sampai si ayam matang)
- Sajikan

Catatan:
Less sugar, less salt, less cholesterol, less fat, high protein. Cocok buat yang diet. Yang penting mah enakkkk!

Thursday, January 20, 2011

lie to me

Sepertinya tidak berlebihan kalau gue bilang semua orang ingin tampak bagus di mata orang lain. Seringkali kita memakai topeng-topeng yang seolah tercipta sempurna buat kita yang tersedia satu lemari penuh. Satu topeng mewakili setiap perasaan kita akan sesuatu, seseorang, sebuah kondisi. Dengan orang-orang terdekat pun kita terbiasa memasang topeng. Topeng-topeng biasanya mulai terkuak sedikit kalau sudah banyak mengorol, atau sering ketemu. Dan itu 'terbaca' dari perilaku, pemilihan bahasa, mimik, sikap, body language. Well, yang jelas, lemari gue penuh sesak ;D

Tapi lately, seiring perkembangan teknologi, ada facebook, ada blog, ada twitter, dan semua kroni-kroninya, berhati-hatilah, koleksi topeng Anda mungkin mulai agak sering terabaikan. Tanpa disadari, seseorang cenderung 'memperlihatkan' diri mereka sendiri melalui pilihan kata-kata, gaya bahasa, komentar-komentar, kicauan. Ada foto-foto yang diposting, memperlihatkan kedekatan dengan teman-teman, keceriaan, gimana sikap teman-teman terhadap kita. Raut muka, senyum, kerutan-kerutan emosi. Pilihan-pilihan, prinsip, nilai-nilai yang dianut, terlihat dari itu semua.

Pernah nonton Lie To Me? Serial di AXN ini menarik banget. Bisa ketahuan apakah seseorang berbohong atau tidak, tulus menyampaikan senyuman dan ucapan atau bersungut-sungut. Itu bisa kelihatan dari kerut-kerut di sudut mata, dari cara mengangkat alis, gimana kalau kita interesting on something, gimana kalau kita lagi tersipu.

Dulu gue adalah orang yang sering memakai topeng. Sampai sekarang masih, apalagi jika berkaitan dengan tempat baru, orang baru, situasi baru. Pingin terlihat baik, outgoing, keren, cool, gaya, pingin orang-orang punya kesan baik terhadap gue. Tapi kekurangannya adalah, gue ga pintar basa-basi. Padahal bidang kerja gue berkaitan dengan komunikasi. Hummm.. ;p
Alih-alih mau terlihat cool dan disegani (ini salah satu akal gue untuk menyamarkan sifat pemalu gue), gue malah dibilang sombong. Kalau jalan, dagu selalu terangkat tinggi dan gue jarang melihat ke bawah. Hahaha..

But anyways, gue baru saja memperbaharui layout dan design kedua blog gue. Dari situ sebetulnya terlihat what kind of people I am.

Ingin tahu jauh lebih banyak tentang gue?
Bacalah blog ini.

Monday, January 10, 2011

Old and New

"Although it's been said many times, many ways, Merry Christmas to you.."
"Merry Christmas, darling. We're apart, that's true. But I can dream, and in my dream I'm Christmas-ing with you.."

Tahun 2010 adalah yang kedua kali gue mengikuti perayaan Natal awal Desember di GTI. Berlokasi di Gelora Bung Karno, kali ini gue sedikit lebih pintar dengan datang lebih awal dan parkir di dalam. Tahun sebelumnya gue naik taxi, terlambat, terjebak macet, berjalan kaki ke dalam. Tapi tahun 2010, gue datang lebih cepat. Walaupun sebelum masuk gue dilanda kegeraman luar biasa karena seorang teman mengubah janji di saat terakhir.

Anyways, gue duduk dengan manis, sendirian, di VIP Timur. Untungnya cuaca dingin, walaupun tidak hujan. Jadi gue ga keringatan seperti babi. Dan, Natalan selalu menyenangkan. Kali ini, 7 orang dokter spesialis menyaksikan mujizat-mujizat yang mereka alami. Dan gue selalu senang dengan pesta fireworksnya yang luar biasa. Gue bertepuk tangan, tertawa-tawa, menjerit-jerit senang, walaupun sendirian (bodo amat, justru karena sendirian).

Ibadah Malam Natal sendiri, hanya gue dan nyokap, karena kakak gue bernatal di Manila atas undangan teman-teman yang di sana. Kami pergi bermalam Natal di GTI (pertama kalinya buat gue bermalam Natal di GTI dan pertama kali buat nyokap di GTI), dan suprise surprise! Ketemu seorang sahabat lama, Wimam. Jadilah kami bertiga. Berlokasi di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, karena ga boleh pasang api, jadi kita 'berlilin' pakai candle stick. Ibadah agak lama dan nyokap agak kecapekan setelah itu.

Natal tahun 2010 itu, gue berkeliling banyak mall di Jakarta untuk memotret hiasan-hiasan, ornamen dan pohon-pohon Natal yang dibuat dari berbagai macam bahan. Lucu sekali.

Tahun baru 2011, seperti biasa kami rayakan bertiga saja di rumah. Doa-doa dipanjatkan, ayat-ayat pertama di tahun 2011 dibacakan, dan nasihat-nasihat diberikan. Ditutup dengan toasting Baileys dan kue Mocha Rhum Tart, tahun 2011 pun dimulai.

Resolusi? Nothing specific. Gue lebih banyak mengharapkan hal-hal yang bersifat jangka panjang. Bukannya gue tidak terlalu berharap akan terjadi di tahun 2011, walaupun jika tercapai gue akan sangat bahagia dan bersyukur. Namun gue lebih banyak berharap, berdoa, terserah waktu Tuhan saja. Tapi yang gue yakini, yang gue tahu, yang gue percaya, adalah bahwa kerinduan-kerinduan itu PASTI dijawab.

Saat ini, yang paling gue rindukan adalah kesembuhan total nyokap, dan bahwa suatu waktu, dengan mulut dan hatinya ia mengaku percaya...
Apa yang gue inginkan untuk diri gue sendiri, tidaklah penting :)

Dengan post ini, berarti blog ini sudah berumur 4 tahun.
Merry Christmas 2010 and Happy New Year 2011.

"And face to face, we will embrace the perfect year.."

Friday, December 17, 2010

trips

Salah satu hal yang gue syukuri dalam hidup gue adalah gue punya lebih banyak kesempatan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota-kota besar dunia. Dan bahwa gue tidak perlu membayar semahal jika bepergian secara 'normal'.

Bergabung dengan salah satu paduan suara kampus yang cukup ternama di Indonesia, gue mulai mendapatkan kesempatan itu. Pada dasarnya gue memang suka sekali traveling, dan berada di organisasi itu seolah melegitimasi kesenangan tersebut, over anything. Dulu waktu gue masih sangat kanak-kanak dan belum bisa mengingat-ingat, orangtua gue yang pada saat itu berdomisili di Solo sering sekali membawa kami terbang Jakarta-Solo dengan pesawat. Dan gue ga rewel di pesawat, malah asyik main-main sama orang bule sesama penumpang.

Anyways, my first abroad traveling was OZ. Pada saat kenaikan kelas dari SMA kelas 1 ke kelas 2, dan mungkin sekaligus juga hadiah dari bonyok karena gue berhasil masuk ke kelas unggulan, gue dan kakak gue diijinkan ikut tour ke Australia. Nama programnya gue masih inget banget, Australia Dreamland. Berdua saja, bersama rombongan grup yang kita sama sekali ga kenal. Selama 8 hari mengitari OZ. Brisbane, Goldcoast, Melbourne, Sidney. Waktu itu gue masih cupu banget, dan gue inget beberapa kali kena tegur sama orang sana karena ga sengaja lewati garis kuning waktu nunggu trem. It was fine by me then, soalnya yang negurnya ganteng. Ahiiiyyy ;)

I had my second travel abroad to Linz, Austria, 2000. Masih belum ada setahun kuliah, not even 17 y.o. Waktu itu ada Choir Olympic yang pertama. Abis dari situ, kita concert tour juga ke Bolzano, Italia, lalu ke Firenze (also known as Florence), ngamen di pelataran Basilica Vatican, dan berakhir di Roma.

The next was 2003, Marktoberdorf, Germany. Dekat dengan Muenchen. Kami juara 1 untuk lomba di sana. Selepas dari Marktoberdorf, kita concert tour ke Vienna, Austria. Kota yang rada hectic menurut gue. Dari sana, gue dan beberapa teman memutuskan extend ke Amsterdam selama 1 minggu. Total perjalanan tersebut adalah 1 bulan.

On 2005, kami berangkat ke Taipei, Taiwan. Mengalami turbulensi di udara, dan terkurung di hotel selama 2 hari karena taifun, dan selepas itu ke Kyoto, Jepang selama 3 hari. Lalu gue dan beberapa teman extend ke Hongkong.

2006 kami bertolak ke Italia untuk la Fabbrica Del Canto di Legnano. Di sini gue mendapatkan pengalaman seru dengan ketimpa papan penutup jendela dan diangkut ambulance untuk 5 jahitan di puncak kepala ;) Dari Italia, mutar-mutar Basilica dan lempar koin lagi di Fontana di Trevi (gue melakukannya tahun 2000 dan gue kembali tahun 2006!), mutar-mutar di Roma dan kota lama, terakhir kami ke Paris.

2007, bersama 'geng' lain, berangkat ke Busan, Korea. Hanya 2 minggu saja :)
Tahun yang sama, gue bersama kakak dan nyokap gue berangkat ke OZ (second time for me and my sister) dan mengalami winter pada saat summer. Haha.. At least di Melbourne.

2010 is my last trip. Ke negeri yang ga pernah dibayangkan. Inggris....

So. Gue menantikan kapan lagi perjalanan gue yang berikutnya :)

Wednesday, December 15, 2010

..............

Tiga bulan terakhir berjalan bagaikan roller coaster buat gue. Not just an ordinary one, tapi merupakan roller coaster yang seolah-olah digerakkan oleh mesin yang dipasangi roket di belakangnya sehingga bergerak sanga cepat.

But, anyways. Bukan roller coasternya yang mau gue bahas. Namun betapa cepatnya semua berlangsung, dan begitu banyak hal yang berlangsung, dan begitu ekstrim. Terutama dalam minggu terakhir November 2010. As a sweet intermezzo, gue melewati tanggal 23 November 2010 dengan sempurna.. Tidak ada setengah lusin JCo Donuts dan 2 gelas Thai Ice Tea dan malam yang hangat dan semarak di Senayan. Tidak ada JakJazz kali ini. Namun hati kecil gue senang.

Kurang dari seminggu adalah event terbesar gue di perusahaan itu. Event itu sukses, luar biasa, dan di tengah-tengah semua konflik di dalamnya, gue menemukan bahwa gue mencapai satu milestone: gue sudah melakukan yang terbaik. At the end, gue bersukacita dan bersyukur bahwa gue sudah melakukan yang terbaik. Bukan lagi perkara gue berhasil membuktikan kebenaran kata-kata atau keputusan-keputusan gue dengan beberapa pihak terkait.

Dan kurang dari seminggu setelahnya, dengan marah, bingung, dendam, gue dipaksa untuk berbalik dan melangkah keluar dari perusahaan itu. Tanpa alasan. Dan gue punya sejuta alasan untuk sakit hati. Jujur, sampai saat ini, kepahitan masih sangat membekas dalam diri gue, sinisme dan sarkasme selalu keluar dari mulut gue kala membicarakannya. Entah apakah jika fakta bahwa sampai sekarang pun masih banyak yang mempertanyakan hal tersebut, boleh gue jadikan suatu hiburan dan, "tuh kan..."

Kadang-kadang gue merasa bahwa di luar gue begitu tenang,...tapi jauh di dalam, ada sebuah titik yang siap meledak.

Namun jauh di dalam pun, gue tahu ada sebuah tempat yang jauh lebih baik buat gue di luar sana.

Tapi gue ga ngerti kenapa semuanya ini harus begini. Dan kala gue memberikan dengan sepenuh hati perpuluhan terakhir yang gue peroleh dari perusahaan ini, tiba-tiba gue disaput kesedihan yang mendalam, dan gue ga bisa tahan untuk ga berkaca-kaca...

Thursday, October 28, 2010

Rekreasi

Sambil mengganti-ganti template blog ini, gue menemukan satu alternatif image yang namanya menarik: Recreation.

Recreation, kalau diindonesiakan, artinya rekreasi atau bersenang-senang, melakukan suatu aktivitas yang menyenangkan.

Yang membuat gue cukup tertarik adalah, kalau dipisahkan menjadi re-creation atau re-kreasi, berarti maksudnya berkreasi kembali? Melakukan kreasi ulang? Kok malah jadi bias jika dibandingkan dengan makna kata rekreasi itu sendiri. Re-kreasi kan berarti pembuatan ulang, membuat kembali (bukan reform), berkreasi ulang?

Agak bingung.
Yah, hanya sekedar iseng.

Sunday, October 17, 2010

komunikasi

Komunikasi dalam suatu hubungan, hubungan jenis apapun, penting. Benar?

Paling tidak, itu menurut gue. Kalau pesannya ga nyampe, gimana targetnya bisa mengerti apa maunya si pengirim pesan? Bikin iklan aja, harus benar-benar perhatikan apakah message yang hendak disampaikan kepada konsumen sudah nyampe, sehingga dia tertarik, dan akhirnya membeli, lalu merekomendasikan kepada teman.

Anyway, itu hanyalah bahasa iklan. Intinya adalah, sebuah pesan, kalau ingin dikomunikasikan, ya harus disampaikan. Harus terbaca, jelas, harafiah, tersurat. Apalagi jika menyangkut hubungan antar manusia. Seperti kata Pendeta tadi sore, yang bisa baca pikiran manusia hanyalah Tuhan. Dia Yang Maha Tahu. There's no way seseorang bisa membaca pikiran orang lain. Sejelas apapun seseorang memberikan sinyal, namun kalau tidak dinyatakan dengan jelas, ya orang lain ga akan tahu. I'm not expert. Tidak ada standar baku tertentu kalau seseorang melakukan sesuatu, artinya A atau B. Sifatnya relatif. Ga seperti sinyal rambu lalu lintas yang ada standar bakunya, semua orang ngerti, karena berasal dari satu sumber yang sama.

Gue bilang nih ya, sekali lagi, gue bukan pembaca pikiran. Komunikasikan dong dengan jelas, maksudnya apa. Jadi ga terjadi kesalahpahaman, ga terjadi perselisihan, dua-duanya bisa cari solusi bersama, sama-sama puas, sama-sama nyaman. Gue lebih memilih sakit hati namun jelas terkomunikasikan, daripada sakit hati karena masalahnya sendiri dan bagaimana itu tidak terkomunikasikan dengan baik. Jadi dobel sakitnya kalau gitu.

Wednesday, September 29, 2010

UK Tours

Salah satu mimpi gue, yang bahkan tidak pernah terbayang adalah sampai ke belahan dunia sebelah United Kingdom. Yup, entah motivasi utamanya adalah jalan-jalan ke UK atau nyanyi, yang jelas gue menjejakkan kaki dengan sempurna di tanahnya Prince William nan ganteng.

Sungguh pengalaman yang luar biasa. Menghabiskan 7 hari pertama di Llangollen, Wales untuk perlombaan, dan sisa 5 harinya antara London, Glasgow, Edinburgh.

Llangollen, Wales:
- Dingin
- Tinggal di dormitori SD bergaya bangunan kuno dan spooky. Kamar mandinya barengan, toiletnya sebelahan.
- 45 menit menuju tempat perlombaan alias kota
- LO kita namanya Matthew Hayward, dia mirip Baby Huey, demennya Walls Magnum. Punya pacar yang kayak Baby Huey juga.
- Makan siangnya pake voucher, mahal tapi makanannya ga jelas. Malemnya sama. Mana antrinya ampun-ampunan.
- Kena diskualifikasi karena ga bisa nari Yamko.
- Kasus limit jumlah penyanyi yang baru ketauan malam sebelum lomba.
- Digigit lebah, disiram pake red wine.

London:
- Oxford St. yang luar biasa!
- Naik Tube dan berdesak-desakan sama orang
- Tinggal di Wisma Merdeka punya KBRI, yang jaganya rese :P
- Belanja, belanja, dan belanja
- Foto, foto dan foto
- Ke London Bridge saltum, anginnya guede banget, kostum rok mini :P
- Ke Glasgow dan Edinburgh
- Denger konser Simply Red di kejauhan di Edinburgh Castle
- Di Glasgow kita nginep di hostel yang enak, sekamar sama Ninaninggung
- Naek Citilink Bus ke Edinburghnya
- Naek pesawat dari London - Glasgow, plus kasus karena bawaannya cuma boleh satu tas
- Terus di airport Glasgow, bawaannya digeledah semua
- Naek bus dari kota Glasgow ke airport, busnya mogok! Ternyata bisa kejadian di UK juga
- Naek double decker di London
- Koper overweight!

Kira-kira itu yang masih membekas di memori gue tentang detilnya.. But the rest is, AWESOME!

Tuesday, June 22, 2010

random

Di tengah-tengah carut-marut dan berbagai gejolak, gue masih bertahan menjelang 2 bulan di tempat baru. Belajar banyak hal, stretching my capacity, belajar online marketing, belajar bahwa analisis 4C sekarang udah jadi 5C, belajar contract size, leverage, spread, komisi, belajar bahwa SWOT analysis sekarang udah jadi TOWS analysis.

Mulai besok cuti panjang gue dimulai, sampai akhir Juli nanti. Masuk-masuk, launching aplikasi BlackBerry udah menanti. Pembukaan 5 kantor cabang gue ga bisa ikut. Maaf ya team-ku.

Setelah 4 tahun tidak bernyanyi sama PSM dan 3 tahun tidak bernyanyi ke luar negeri, akhirnya tahun ini gue pergi lagi. Ke United Kingdom. Negeri yang sudah lama sekali dicita-citakan menjadi tujuan gue. Tapi berhubung kantor, ya sepertinya gue menjadi sumber devisa yang besar buat PSM, alias bayar denda atas ketidakhadiran latihan. Ditambah lagi, gue ga bisa narinya buat lagu folklore :P Jadi waktu latihan, gue paling katro sendiri. Orang lain ke kiri, gue sukses nabrak karena ke kanan.

Kualitas suara tidak banyak berubah, selain bahwa rangenya mungkin udah hampir ga nyampe lagi ke C. Padahal dulu bisa sampai D.

Yaaaaaah, that's life.

Monday, June 21, 2010

kenapa?

Akhirnya datang juga, perasaan seperti mendadak diterjang kereta itu. Sulit bernapas, sulit berpikir, sulit mengendalikan diri. Bendungan akhirnya bobol juga, seperti yang selama ini sudah diperkirakan akan terjadi.

Tidak tahu lagi apa yang harus dipercaya atau tidak. Tidak tahu lagi apa yang seharusnya menjadi fokus. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kehilangan akal, kehilangan kewarasan, kehilangan rasio, kehilangan iman. Ingin punya, namun apa yang dimiliki selama ini tidak cukup kuat. Apalagi untuk memindahkan gunung, untuk yang kecil-kecil saja gagal.

Tuhan itu baik. Hal yang absolut, bukan untuk diperdebatkan. Hanya saja, Dia punya anak yang tidak baik. Selalu ragu, selalu gamang, selalu tidak tahu apa yang baik, selalu jadi sandungan, selalu tinggi hati, selalu egois, selalu membatasi Dia untuk bisa melakukan hal-hal yang diluar keterbatasannya. Selalu salah mengerti keinginanNya, selalu mengandalkan kekuatan dan asumsi sendiri. Dan, selalu tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, sedang dimiliki, dan akan dimiliki. Tidak tekun, tidak sabar. Mempertanyakan otoritasNya, yang baik bagi semua anakNya, namun kenapa dibiarkanNya hal ini terjadi? Apakah Dia memang menyembunyikan wajahNya dan sedang mendidik?

Ingin terus berjuang, tapi tidak tahu apa yang diperjuangkan.
"Lebih dari pemenang dalam segala perkara," seharusnya, namun saat ini menerima kekalahan dengan hati yang remuk redam, menyerah. Bertekuk lutut.

Friday, June 11, 2010

air mata

Kenapa Tuhan menciptakan air mata?

Bagaimana sih Dia mengkalkulasikan mekanisme kimianya sehingga pada batas-batas tertentu kita mengeluarkan air mata, entah karena gembira, terharu, ataupun dalam kesedihan, dengan kata lain, dalam kondisi emosional yang sudah berlebih?

Kenapa kalau kita sedih, yang keluar adalah air mata, dan itu bisa membuat kita tenang, walaupun mungkin hanya untuk sementara saja?

Bagaimanakah Dia menghubungkan antara perasaan dengan air mata, sehingga kala kita mengalami guncangan perasaan yang sedemikian, air mata kita tercurah?

Gue tidak tahu.. Yang gue tahu, gue bersyukur karena gue mempunyai sepasang mata yang sehat yang bisa memproduksi air mata.

Wednesday, March 31, 2010

the right vs the left

Lagi menggali-gali inspirasi untuk menulis (tertantang oleh omongan teman bahwa tulisan gue cukup 'thought-provoking'), gue tiba-tiba menemukan sesuatu yang cukup menarik (menggelitik? menggugah?) tentang The Right and The Left.

Oke, coba gue lihat dari sisi alkitabiah dulu. Hey, He's still my priority :) Anyway, Sang Anak duduk di sisi kanan Bapa. Berarti, yang paling dipercaya, wakil, yang setara.

Nah, ini dia. Berbicara tentang pasangan (dalam hal ini, buat gue berarti sang lelaki), orang-orang selalu menyebut soulmatenya, pujaan hatinya, atau apalah itu namanya, sebagai The Right One. Buat cewek-cewek adalah The Right Man, buat cowok-cowok ya The Right Woman. Mudah-mudahan ga usah ada tengah-tengahnya, ya. Intinya, The Right One adalah orang yang tepat.

Mengesampingkan posisinya dalam arti harafiah ada di sebelah mana, The Right Man akan selalu menjadi tangan kanan si cewek, panutan, pemimpin, orang yang paling dipercaya. Vice-versa, The Right Woman adalah sang penolong, pendukung, orang yang paling bisa menjadi wakil dan tangan kanan si cowok.

Oke, bagaimana nasib The Left? Ga boleh bilang nasibnya ga seberuntung si kanan sih, apalagi Tuhan juga menciptakannya. Jadi pasti punya keunggulan juga. Di antaranya, ya menjadi tangan kanannya si tangan kanan. Bingung? Yup. Gue juga mulai agak bingung. Bukan berarti jadi ada dua tangan kanan, ya. Tapi kalau dipikir lagi, kalau ngisi TTS pun, lawan 'kanan' adalah 'kiri'.

Tiba-tiba aja sih, terbersit kenapa kayak kebetulan aja si Left ini menjadi lawannya si Right. Selain arti proposisinya.

Coba kita coba tilik 'left': bentuk lampau dari 'leave' atau pergi. Meninggalkan.

So. The Right Guy: Pria yang tepat. The Left Guy: Pria yang pergi, a.k.a tidak tepat.

Jadi sebetulnya, kiri dan kanan apakah berlawanan? Tidak sejalan? Ngga juga. Tanpa tangan kiri, tangan kanan ga punya pasangan untuk pegangan tangan, pasangan untuk ditangkupkan kala berdoa... :)


Saturday, January 2, 2010

..to the twenty-ten

Memasuki tahun baru 2010, blog ini kalau diukur dengan usia sekolah, sudah lulus SMA. Tiga tahun sudah.

Jujur, agak malas menulis, karena kreativitas menulis gue sudah tidak terasah lagi. Tahun-tahun yang lalu, posting pertama di tahun yang baru gue beri judul "Resolusi..." dari yang pertama, kedua, dan ketiga. Tetapi kali ini tidak ada yang keempat.

2009 adalah tahun yang sangat dinamis dan fluktuatif. Banyak tawa, tetapi seperti dua sisi mata uang, airmata juga banyak dicurahkan. Bukan tahun yang mudah, tetapi penuh mujizat.

Januari 2009, gue keterima kerja di salah satu perusahaan majalah terkemuka. Hari ini perjalanan gue genap satu tahun.
Februari 2009, gue sukses menjalankan event pertama gue, walaupun tertatih-tatih seorang diri.
April 2009, nyokap jatuh sakit. Melalui sakit ini, mujizat terbesar bagi keluarga gue di tahun 2009 terjadi. Dua minggu di Bandung, ngantor di lantai ruang tunggu Borromeus. Seluruh sanak saudara, teman, sahabat, mengirimkan salam dan doa.
Juli 2009, salah satu event tahunan majalah gue berhasil dijalankan. Di bulan-bulan ini jugalah untuk pertama kalinya gue melakukan doa puasa selama 30 hari, dan Tuhan menjadikan segalanya nyata :) Salah satu kalimat yang paling membekas adalah dari pemimpin redaksi gue, "Lo diberkati banget ya menjalankan event tahun ini.."
Agustus 2009, gue berhasil mendapatkan tandatangan calon sponsor untuk event ulang tahun majalah senilai ratusan juta... Dan pada saat yang sama, majalah gue ini shut down. Tanggal 12, Tuhan menjawab doa dengan memberikan pekerjaan buat seseorang. Kalau ga salah, sekitar bulan-bulan ini juga dia diberkati dengan menjadi pemimpin pujian (lupa pastinya....)
September 2009, gue resmi pindah majalah. Belajar lagi dari nol, dengan segala pergumulan, kemarahan, keragu-raguan.

Ada yang dalam perencanaan gue, tapi banyak sekali juga hal yang di luar rencana namun diijinkan terjadi.

Lain-lainnya?
Gue menggunting rambut gue, akhirnya, setelah sekian lama dibiarkan memanjang. Selain rontok yang gila-gilaan, I need a fresh new look.
Pernikahan beberapa orang teman. Kepergian beberapa orang teman mewujudkan cita-cita mereka.
Kehidupan penuh cinta yang gue miliki dan kesempatan untuk terus boleh berbagi berkat. Belajar untuk mengalahkan keinginan diri sendiri, belajar untuk mengendalikan diri, belajar untuk menilai situasi, belajar untuk memahami bahwa mencintai adalah bukan tentang diri sendiri.

Seperti gue tuliskan di facebook beberapa hari yang lalu, tahun ini gue tidak punya resolusi yang terspesifikasi.. Banyak rencana, banyak keinginan, banyak harapan, namun semuanya yang terbaik ada di tanganNya.

Resolusi gue tahun 2010? Memenuhi mulut dengan ucapan syukur :)

Tuesday, November 24, 2009

November 2009


Dua tahun?

Setahun yang lalu.. Tidak menyangka akan menulis ini di tahun berikutnya, tapi tetap menantikannya dengan semangat.

Dua tahun. Bukan waktu yang singkat. Ada 2 x 365 hari di dalamnya. Sekaligus, bukan sebuah masa yang lama juga. Namun dalam waktu sedemikian, dua tahun yang lalu gue memulai sebuah perjalanan masa lalu dan sekarang genap dua tahun gue menjalani sebuah masa kini menuju masa depan.

Dua tahun terakhir yang terbaik dalam kehidupan gue, dan gue sangat yakin, menginjak tahun ketiga, it would be even better. Seperti Joel Osteen bilang, I haven't laugh my best laugh yet.

Hari itu, gue bolos ngantor. UPS! Gue memang kurang sehat (mungkin gara-gara stress di kantor), dan di rumah cuma gue sendiri. Selang beberapa malam yang lalunya, sebuah SMS muncul dan berisi ajakan nonton JakJazz 2007. Yeay! Mungkinkah...ajakan date? ;) Jam 3 sore hari itu gue sepakat bertemu di Plaza Senayan. Jadi bangunlah gue dari tidur jam 2 siang, mandi, dandan secukupnya dan berangkat dengan taxi.

Sesampainya di sana, gue duluan nyampe, yang ngajak bahkan masih di kereta (sekarang gue berpikir, dia turun di stasiun mana ya? Karena ga makan waktu lama sampai dia muncul). Jadi gue mengabari dia, gue bilang ketemu di ATM Mandiri saja. Dan gue ga tahu di mana itu ATM, jadi gue nanya dia :P

Pada saat gue mengantri di depan ATM, seseorang menyentuh bahu gue... And there he was :)
The rest is history, and we're living in it. Gue masih sangat mengingat setiap detilnya pertemuan pertama itu. Plus donuts J.Co setengah lusin dan ice thai tea.

Tidak mudah menjalani dua tahun ini, banyak deraan, airmata, tapi juga tawa, dan yang pasti, semuanya penuh berkat. Setiap hal dimaksudkanNya untuk membentuk gue menjadi yang lebih baik lagi, membawa kami menerima lebih banyak lagi berkat.

I have found a bestfriend, a lover, a brother..