Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Wednesday, March 31, 2010

the right vs the left

Lagi menggali-gali inspirasi untuk menulis (tertantang oleh omongan teman bahwa tulisan gue cukup 'thought-provoking'), gue tiba-tiba menemukan sesuatu yang cukup menarik (menggelitik? menggugah?) tentang The Right and The Left.

Oke, coba gue lihat dari sisi alkitabiah dulu. Hey, He's still my priority :) Anyway, Sang Anak duduk di sisi kanan Bapa. Berarti, yang paling dipercaya, wakil, yang setara.

Nah, ini dia. Berbicara tentang pasangan (dalam hal ini, buat gue berarti sang lelaki), orang-orang selalu menyebut soulmatenya, pujaan hatinya, atau apalah itu namanya, sebagai The Right One. Buat cewek-cewek adalah The Right Man, buat cowok-cowok ya The Right Woman. Mudah-mudahan ga usah ada tengah-tengahnya, ya. Intinya, The Right One adalah orang yang tepat.

Mengesampingkan posisinya dalam arti harafiah ada di sebelah mana, The Right Man akan selalu menjadi tangan kanan si cewek, panutan, pemimpin, orang yang paling dipercaya. Vice-versa, The Right Woman adalah sang penolong, pendukung, orang yang paling bisa menjadi wakil dan tangan kanan si cowok.

Oke, bagaimana nasib The Left? Ga boleh bilang nasibnya ga seberuntung si kanan sih, apalagi Tuhan juga menciptakannya. Jadi pasti punya keunggulan juga. Di antaranya, ya menjadi tangan kanannya si tangan kanan. Bingung? Yup. Gue juga mulai agak bingung. Bukan berarti jadi ada dua tangan kanan, ya. Tapi kalau dipikir lagi, kalau ngisi TTS pun, lawan 'kanan' adalah 'kiri'.

Tiba-tiba aja sih, terbersit kenapa kayak kebetulan aja si Left ini menjadi lawannya si Right. Selain arti proposisinya.

Coba kita coba tilik 'left': bentuk lampau dari 'leave' atau pergi. Meninggalkan.

So. The Right Guy: Pria yang tepat. The Left Guy: Pria yang pergi, a.k.a tidak tepat.

Jadi sebetulnya, kiri dan kanan apakah berlawanan? Tidak sejalan? Ngga juga. Tanpa tangan kiri, tangan kanan ga punya pasangan untuk pegangan tangan, pasangan untuk ditangkupkan kala berdoa... :)


Wednesday, August 19, 2009

Kompromi

Kompromi.

Ada yang bilang, kompromi itu mengalah. Ada yang bilang, kompromi itu tawar-menawar demi tercapainya win-win solution. Bisa juga kompromi itu adalah toleransi. Cari jalan pintas? Saling pengertian? Penyesuaian? Bukannya malah akan jadi melebar menjadi negosiasi?

Kenapa sih orang berkompromi? Kenapa orang butuh untuk berkompromi?

Kalau dua orang bertikai atau berselisih pendapat, gimana sih mendamaikannya? Kompromi? Atau mengalah? Mengalah banyak atau mengalah sedikit? Lalu, mengalahnya karena memang pihak kita yang salah atau karena sebetulnya kita benar tetapi demi damai, jadinya mengalah? Itu artinya setuju, atau tidak setuju?

Kalau akhirnya lalu mengalah, apakah kita bisa menerima kekalahan itu dengan lapang dada, ikhlas, atau malah sebaliknya?

Seberapa jauh sih kita harus mengalah demi tercapainya pemenuhan konsep kompromi tersebut?

Apa sih kompromi itu jadinya?

Saturday, May 30, 2009

Tahun dan tanda

Kamis lalu, gue dan beberapa orang teman kantor berencana (sebenernya rencananya baru terbentuk menjelang jam pulang kantor) nonton Terminator: Salvation. Ga jauh-jauh, di Setiabudi One. Tapi karena sebagian dari kami baru kelar meeting dengan klien jam 7 malam, alhasil kita jadi agak terburu-buru ngejar film yang diputar 7.30. Udah punya tiket sih, tapi kan kesel aja kalau ga bisa lihat dari permulaan.

Anyway, bukan itu sih yang mau gue bahas.

Alkisah, semuanya bermula di tahun 2003. Singkat kata, loncat deh ke tahun 2018, dimana digambarkan di masa tersebut, ras manusia udah semakin berkurang, dimusnahkan oleh robot-robot yang hendak menguasai bumi, semua hancur lebur, bangkai-bangkai kendaraan berserakan, gedung-gendung tinggal runtuh... dan sebagainya.

Yang kemudian membuat gue berpikir, apakah ga gegabah ya, yang membuat skenario cerita ini? Maksud gue adalah, astaga, 2018 tuh cuma tinggal di depan mata! 9 tahun dari sekarang! Gue akan masih di umur 30-an, yang mana gue yang sekarang optimis bahwa pada masa tersebut, begitu banyak kelimpahan berkat dalam hidup gue. Yeah, oke, gue bukan peramal dan gue juga tidak akan pernah tahu seperti apa jalan hidup yang ada di depan, tetapi menurut gue sih terlalu gegabah, ceroboh, menggambarkan bumi dalam 9 tahun akan berbentuk seperti itu.

Banyak contoh-contoh ngawur yang sebetulnya udah ada sejak lama. Misalnya seperti Y2K sembilan (yup, sembilan!) tahun lalu, yang memunculkan isu tanggalan komputer akan ngaco, terus ada isu kiamat pula, ditambah ada film "End of Days", dan banyak rumor mengelilingi tahun millenium itu. Nyatanya? Semua aman-aman aja sampai sekarang. Sembilan tahun berselang dan isu-isu tersebut ga ada yang menjadi kenyataan.

Lalu ada lagi isu kiamat 2012. Katanya, itu adalah perhitungan ilmuwan-ilmuwan tentang usia bumi, lempengan-lempengan pembentuk bumi yang akan retak, daratan akan tenggelam, whatsoever itu, tapi, haloooohh! 2012 tuh tinggal 2,5 tahun lagi! Agak-agak gegabah menurut gue.

Memang, bukan berarti gue mengabaikan tanda-tanda jaman. Gue setuju, kita semua harus tetap waspada menghadapi tanda-tanda akhir jaman, bukannya ongkang-ongkang kaki dan semena-mena. Namun jangan terlalu gegabah deh. Bukan seperti itu caranya mengingatkan orang-orang tentang akhir jaman. Gue tidak menyangkal bahwa bukan tidak mungkin memang 2,5 tahun lagi akan ada kejadian-kejadian apa, justru gue setuju dengan kiamat bisa datang kapan aja. Tergantung Yang Punya Kuasa, Dia mungkin tinggal menghela napas doang, dan wuuuuuuttt... Habislah semuanya. Siapa tahu? Tapi dengan cara yang sama, jika Dia menghendaki, walau sampai habis bumi berlalu, sampai siang malam menyatu, manusia akan tetap ada dalam pemeliharaanNya, dan gue memimpikan tampilan bumi yang justru diliputi kemulianNya menjelang akhir jaman.

Menurut gue, bukankan lebih baik dalam menghadapi tanda-tanda jaman ini, kita melakukan apa yang terbaik dari kita seturut dengan rencanaNya? Tetap bersandar padaNya, membawa diri padaNya, semakin menjadi berkat bagi orang lain, semakin menjadi perpanjangan tanganNya?

Mungkin kita harus belajar untuk menjadi lebih bijak dalam menghadapi tanda-tanda akhir jaman.

Kok jadi serem ya?

Wednesday, May 13, 2009

Salah orang..?

Gue lagi senang mengangkat topik tentang hubungan.

Tadi pagi sambil berangkat ke kantor, gue mendengarkan (dan akhirnya jadi menyimak) siaran radio pagi sebuah stasiun radio terkemuka di Jakarta. Semenjak masih ngantor di tempat lama dulu gue selalu mendengar siaran radio ini di jalan.

Topik yang diangkat tadi pagi adalah perempuan yang (nasibnya) sering banget terjebak hubungan asmara dengan pria beristri. Bukan karena kesengajaan, tapi entah kenapa seperti 'kutukan'. Kejam sih kedengarannya, tapi yang gue maksudkan adalah karena itu berulang lagi dan berulang lagi.

Intermezzo: Ini membuat gue teringat salah satu khotbah di gereja, yang mengambil contoh seorang wanita yang selalu terjebak hubungan dengan laki-laki beristri, sampai-sampai dia datang ke pendetanya dan bertanya apa yang salah dengan dirinya.

Kembali lagi ke siaran radio tersebut, gue kaget juga mengetahui ternyata banyak sekali kasus seperti itu. Si radio berhasil mewawancarai beberapa wanita yang mengirim sms untuk berbagi hal itu, tentunya dengan tidak mengekspos nama. Bukan dengan sengaja lho, si perempuan menjalin hubungan dengan laki-laki beristri itu (kalau sengaja mah emang dianya aja yang kegatelan dan sinting), tapi lebih seringnya baru mengetahui bahwa si laki-laki ini beristri setelah beberapa waktu menjalin hubungan. Lalu putus deh. Ngerinya, itu berulang lagi. Si perempuan sampai bilang, "Apa sih yang salah dengan gue, sampai-sampai gue selaluuu aja didekati justru oleh pria beristri.." Itu sampai 2-3 kali berulang, katanya. "Kenapa sih ga cowok single aja yang deketin gue? Kenapa selalu terjebak sama cowok yang udah merid?"

Ada ya ternyata kejadian seperti itu?
Ini jadi seperti 'kutukan'. Tiap kali dekat dengan laki-laki, ternyata laki-laki ini udah beristri. Dan kasus ini bukan cuma terjadi sama 1-2 orang wanita, tapi banyak. Responden yang mengirimkan sms aja ada 50. Bayangin!

Prihatin gue dengan situasi ini.
Kemudian si penyiar bilang bahwa dia pernah bertanya dengan temannya seorang psikolog, kekuatan pikiran bisa turut mempengaruhi hal ini. Sang 'korban' justru harus mensugesti dirinya sendiri supaya ini ga kejadian lagi. Kalau dia memercayai (walau secara tidak sadar) bahwa udah nasibnya selalu didekati laki-laki beristri, maka itu akan terjadi lagi dan itu akan melekat sama dia. Ini akan menimbulkan trauma tersendiri yang bikin si cewek akhirnya ragu untuk membina sebuah hubungan.

Iya kan?
Yah, hanya sebuah pemikiran.

Wednesday, April 29, 2009

Di mana anakku..? Di mana anakku..?

Hari ini (tepatnya, setengah jam yang lalu) teman gue tiba-tiba nanya soal feature baru Google, Google Latitude. Si Google Latitude ini konon kabarnya bisa melacak siapapun yang kita ingin tahu dia ada di mana. Lokasinya di mana. Gue jadi teringat, pernah baca soal ini di majalah (berhubung gue sekarang tenggelam dalam lautan majalah, gue ga tahu tuh majalah apa yang gue baca), cuma waktu itu belum sempat diulik karena sibuk.

Tadi setelah teman gue menyebutnya, gue langsung buka Google. Mau browsing, maksudnya. Pingin tahu sebetulnya dia bisa ngapain aja. Ternyata Google Latitude ini untuk menggunakannya, kita harus punya account Google dulu, yang mana gue ga punya. Kemudian kita bisa invite teman, sahabat, keluarga, kolega, siapapun untuk bergabung dengan Google Latitude.

Yah gitu deh kira-kira. Gue kan ga dibayar oleh Google Latitude untuk mempromokan featurenya :P

Anyway, lucu juga sih feature ini. Buat lucu-lucuan, seru memang. Mungkin penting bagi orang tua yang anaknya suka ngilang-ngilang. Apalagi di jaman serba ga aman seperti sekarang. Untung jaman gue kanak-kanak dahulu ga ada feature gini-ginian. Hehehe..
Fetaure ini mungkin penting juga buat pasangan yang rumah tangganya gonjang-ganjing gara-gara pihak ketiga atau gara-gara salah satunya suka mabuk atau apa. Gosip banget sih ya.

Namun, personally, gue ga mau lokasi gue berada bisa dilacak oleh orang-orang, siapapun itu. Ga bisa kabur dari klien, ga bisa kabur dari atasan, ga bisa kabur dari orang yang ga pingin gue temui. Ngaku ajalah, sering juga kan kita malas, jangankan dihubungi (biar berdering-dering sampai gila tuh telepon, ga bakalan diangkat) ini apalagi diketahui keberadaannya.

Apalagi dengan gebetan, pacar, whatsoever it's named, pada awalnya mungkin asyik menuntaskan rasa penasaran kita dengan mengetahui dia ada di mana. Tapi kalau dibalikin, gue sih ga mau dilacak atau diketahui gue ada di mana. Even oleh gebetan, pacar, kekasih atau apapun itu namanya. Perhatian sih boleh, senang banget malah diperhatiin, tapi kalau sampai dicari lewat Latitude, namanya kelewatan. Berarti dia ga percaya sama gue. Toh gue juga kan ga akan berlaku aneh-aneh atau pergi ke tempat yang aneh-aneh, lagipula biasanya saling kabari ada di mana. Vice versa, seharusnya kita juga belajar percaya dengan dia, kan?

Eits, bukan berarti gue mengalami 'teror' itu ya. Sama sekali ngga. Malah kadangkala percaya banget (kalau 'terlalu percaya' konotasinya jelek), sama-sama saling percaya aja...

That's the point of being in relationship kan? Komunikasi dan saling percaya.
Hehehehe, sedikit jadi ga nyambung.

Hanya berbagi cerita.

Wednesday, February 4, 2009

gaya..?


Ada apa dengan menjadi perempuan?

Gue seringkali bingung dengan gaya perempuan. Yah, maklum, baru beberapa tahun belakangan ini gue jadi perempuan, sebelumnya ya perempuan jadi-jadian. Minjam istilah teman gue.

Gaya gue? Apa adanya. Tapi tetap harus necis. Buat gue, first impression itu penting. It's important to bring yourself up and make the crowd notice you. Memarketingkan diri sendiri lah.. Tapi penting untuk tetap nyaman. Menurut gue.

Itulah kenapa gue kadang-kadang agak heran dengan perempuan-perempuan yang 'berkeliaran' di mall kala weekend (gue sih ga mempermasalahkan nge-mall-nya karena jujur gue juga demen keliaran di mall, walau cuma beli jendela alias window shopping doang) dengan high-heels! Waduh.. Buat gue udah cukup lima hari dalam seminggu gue mendera kaki-kaki gue yang malang dengan heels, di kantor aja gue keliaran ksana kmari nyeker atau pake sandal jepit, ga perlu ditambah dengan di hari dimana gue bebas pake apapun semau gue senyaman gue, gue pake heels. Gue memang pecinta sepatu, termasuk high-heels, tetapi bukan untuk jalan-jalan atau menikmati waktu. It's just not my idea of having fun, juga dengan dearest ones.

But then again, ini cuma pikiran gue doang. Orang lain belum tentu.

Lalu ada juga soal make-up. Jujur, gue ga suka pake make-up. Buat gue, make-up cuma dipake kalo undangan atau konser. Sekarang nambah deh listnya, yaitu kalo meeting ketemu klien. Kalo ngga? Ya tampil polos apa adanya. Cuma pelembab, bedak, sedikit blush-on plus lipbalm ga berwarna. Bahkan gue sering diprotes dia karena bibir gue pucat (biarin, yang penting kan ga kering dan tetap oke). Lah, kalo pake lipgloss, dijilat-jilat juga warnanya ilang...

Tetapi, balik lagi, itu gimana masing-masing sih. Cuma sekedar pemikiran doang.

Thursday, January 29, 2009

komunikasi

Ini bukan soal yang berat-berat tentang komunikasi. Cuman sekedar berbagi pengalaman berkaitan dengan komunikasi yang gue alami akhir-akhir ini.

Komunikasi itu penting. Yap, bahkan kadal aja menganggap komunikasi tuh penting (ga tahu kenapa gue ambil contoh kadal). Bahkan sampai ada fakultasnya sendiri di perguruan tinggi. Nyatanya, sekarang ini gue banyak sekali dikelilingi manusia-manusia jebolan ilmu komunikasi, sampai-sampai gue bertanya-tanya apakah gue salah ambil jurusan (sebenarnya udah sadar dari kapan tahu sih..), seharusnya jurusan nyanyi-nyanyi.

Anyway, Marketing Director kantor gue mengemukakan pentingnya mendengar dalam berkomunikasi. Jadi inget salah satu posting di blognya mantan kantor yang berbunyi kurang lebih, untuk mendengar dibutuhkan keterampilan, skill, dan sebenarnya mendengar adalah sebuah talenta. Bukan hanya sekedar mendengar, tetapi memahami, mencerna, mengerti. Which is, kemudian dibutuhkan ruang lingkup pengetahuan yang sama antara yang didengar dengan yang mendengar. Itulah makanya kenapa kalau kita jualan, kita harus tahu kepada siapa kita jualan. Hmm, marketing banget yah.

Intinya, komunikasi itu penting. Mengutarakan apa yang kita mau, tidak mau, tidak suka, yang mengganjal, rencana, apapun, dalam konteks relationship baik pertemanan, persaudaraan, maupun asmara. Gimana dia bisa tahu kita lapar kalau kita cuma bilang, "Sayang, kayaknya nasi goreng itu lucu yah." (gue juga ga tahu seperti apa nasi goreng yang lucu itu.) Lebih pas kalau bilang, "Aku lapar. Mau nasi goreng itu." Bodo deh mau dibilang apa. Daripada jaim-jaiman terus pingsan kelaparan.

Komunikasi juga penting di saat kita butuh informasi akan apa yang kita ga tahu. Biarin aja dianggap bego, daripada ga tahu apa-apa dan ga nanya? You gain nothing selain bego sendiri.

Namun kadang-kadang susah juga kalau komunikasi ada, syarat-syaratnya terpenuhi, tetapi decoding alias penerimaannya salah. Atau proses penerimaannya salah. Bukan pengirimannya. Seperti apa yang terjadi sama gue tadi siang. Niat mau isengin dia, gue ngirim email pake email kantor. Isinya gombal, tapi untungnya ga parah. Lalu gue ketik alamat emailnya. Klik 'send'. Ternyata oh ternyata, mendadak gue inget bukan itu alamat emailnya...! Parahnya, udah terkirim dan ga mental, berarti memang ada yang punya alamat itu.

Antara kesel, geli, dan ketawa-ketawa sendiri, akhirnya gue ngirimin email kedua ke alamat itu untuk men-disregard email tadi. Haduhhh... Parah. Mana pake email kantor..

Ini pelajarannya: komunikasi itu harus memenuhi kriteria tentang siapa, apa, dimana, bagaimana, bilamana.

Sunday, December 7, 2008

eksistensi

Kemarin, gue dengan bangganya membaca artikel di Kompas yang menulis liputan konser PS Unpar, 'Magical Christmas'. Bangga dong.. Untuk pertama kalinya konser Natal Unpar masuk koran. Biasanya yang diulas adalah konser-konser tahunannya, kompetisi KPS-nya, atau event-event keberangkatan ke luar negerinya (sombong ahhhh....). Artikel ini mengulas tentang eksistensi PS Unpar yang terus berlanjut walau sekarang sudah semakin banyak paduan-paduan suara bagus bermunculan di Indonesia.

Bicara tentang eksistensi, menurut pendapat gue itu adalah hal yang berkaitan erat dengan pengakuan. Pengakuan tentang keberadaan suatu hal. Diakui keberadaannya. Sebagai seseorang, sebagai suatu organisasi, sebagai suatu kesatuan, unit, sebagai seseorang dengan kedudukan tertentu atau status tertentu, dan banyak lagi.

Dalam bentuk keimanan kita, Tuhan pun diakui eksistensiNya sebagai Sang Maha.

Penting bagi seseorang untuk diakui eksistensinya bukan saja sebagai manusia, namun juga sebagai apa adanya dia. Sebagai sahabat, teman, keluarga, adik, kakak, saudara, ayah, ibu. Menyatakan dirinya punya suatu posisi, kedudukan dan porsi masing-masing dalam unit yang bersangkutan, keterikatan fisikal dan emosional - dalam artian positif, bahwa kita adalah makhluk sosial, yang ada untuk satu sama lain, connected, membutuhkan-dibutuhkan. Bohong besar kalau orang bilang dia ga butuh orang lain. Orang paling anti-sosial sekalipun butuh diakui dan punya eksistensi.

Dengan demikian, mungkin akan sangat menyakitkan rasanya kalau kita mengira kita punya eksistensi tertentu dalam suatu unit, tetapi turns out to be ga begitu kenyataannya. Atau paling tidak, tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Tetapi gue bersyukur karena gue punya pegangan. Seseorang yang sangat mengakui eksistensi gue sebagai apa adanya gue dan kedudukan gue. Seseorang yang tidak akan pernah mengecewakan gue dalam pengharapan akan eksistensi gue di unit manapun gue berada. Seseorang yang memberikan pengakuan atas eksistensi gue itu melebihi apa yang gue kira. Seseorang yang sangat menganggap gue berarti.

Dia bilang, "You are not just a face in the crowd.. You are not forgotten, child."
Dialah Pangeranku Yang Setia :)

Tuesday, October 28, 2008

hujan

Sepertinya, akhirnya musim penghujan dimulai juga di Jakarta. Kenapa gue bilang di Jakarta? Karena ada daerah-daerah lain yang sudah dapat musim hujan duluan, dan ada juga yang belum hujan. Jangankan begitu, di Jakarta aja sendiri hujannya ga merata. Bisa hujan lebat di Pasar Minggu, di Percetakan Negara masih kering.

Hujan, buat gue, sarat emosi. Yang lebih seringnya bersifat sendu dan murung. Kalau lagi suasana hati senang, tiba-tiba gelap mendung dan hujan, mood bisa jungkir. Sedikit berkuranglah. Kalau lagi sedih dan murung, hujan seolah menjadi pembenaran dan nambah-nambah kesenduan. Seolah langit juga ikut sedih bersama gue.

Namun banyak juga hal-hal menyenangkan kala hujan. Bergelung dalam selimut, minum secangkir coklat hangat, baca buku dengan latar belakang musik, atau nonton tivi. Hayoooooo, siapa yang ga pernah punya imajinasi macam itu?

Bisa juga jalan-jalan sepayung berdua (bagian yang mau gue skip adalah bagian beceknya, kaki dan celana basah), atau berada di mobil, menelusuri jalanan basah dengan latar musik lembut mengalun. Hohoho.. Siapa yang ga pernah punya imajinasi romantis semacam itu?

Bagaimanapun, gue senang musim hujan sudah dimulai. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Thursday, September 4, 2008

Tiap orang memang beda!

Gue bertanya-tanya kenapa banyak sekali buku yang membahas perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Gue ga bicara fisikal.

Gue punya dua, Mars and Venus dan Why Men Don't Listen & Women Can't Read Maps. Menuntaskan penasaran gue apa sih sebenernya yang berbeda dari laki dan perempuan sampai harus dibikin buku soal itu. Memang ada perbedaan, tapi sebesar apa sih sampai segitu pentingnya? Laki-laki ya laki-laki. Perempuan ya perempuan. Tuhan menciptakan begitu adanya, ada tugasnya masing-masing, keunikannya masing-masing. Jadi kenapa mesti ribut?

Setelah gue baca, gue mengakui memang ada perbedaan pola pikir, cara pandang, melihat masalah, menanggapi sesuatu, merespon, antara laki-laki dan perempuan. Tetapi ga bisa ditarik garis lurus pembatas yang secara tegas mengkotak-kotakkan laki dan perempuan atas alasan itu. Kenapa? Karena, seperti contoh-contoh yang disebutkan dalam buku, misalnya bahwa perempuan ga bisa baca peta, hey, siapa bilang cewek ga bisa baca peta?? Kami ini cewek-cewek yang nyupir, bodoh kalau ga bisa baca peta. Mau modal nanya doang ama orang? Kalau ga ada orang di jalan? Kapan nyampenya?

Dan katanya perempuan itu cenderung ngomong terus. Apa iya? Temen-temen gue yang cowok banyak juga yang bawel. Malah, hampir semua laki-laki di sekitar gue bawel. Hehehe..

Intinya, ga bisa digeneralisasi bahwa semua perempuan begitu, atau laki-laki begitu. Namun memang ada detil-detil lain yang gue akhirnya sependapat bahwa memang secara garis besar, pola berpikir laki-laki beda dengan perempuan. Tapi ga bersifat mutlak.

Ada yang menganggap pembahasan ini perlu untuk belajar lebih mengenal lawan jenis dan menjembatani perbedaan-perbedaannya. Gue pribadi, menganggap diskusi ini untuk tambahan wawasan saja. Sebab menurut gue, setiap orang, ga peduli jenis kelaminnya apa, pasti beda. Pasti punya keunikan tersendiri. Bukan tanpa alasan Tuhan menciptakan kita masing-masing seperti ini. Bukan kebetulan, tapi justru penuh rencana. Perbedaan apapun memang harus dijembatani, kan? Bukan dari segi jenis kelamin saja.

Gue cenderung fleksibel. "Ya emang orangnya begitu," alias menerima apa adanya, bukan dimasalahkan kenapa bisa beda, dan sekaligus menyesuaikan tanpa menghilangkan identitas. Kita harus menyikapi perbedaan itu bukan dengan maksa dia harus satu kemauan dengan kita atau malah bikin garis tegas yang memisahkan kita dengan dia karena beda. Justru kita belajar untuk memahami orang lain (bukan berarti setuju, lho), berempati, belajar mengendalikan diri supaya garis tegas itu ga muncul.

Perbedaan bisa jadi alat untuk saling melengkapi. Perbedaan yang ada, gue selalu berdoa supaya bisa jadi berkat yang mempersatukan dan menguatkan.

Terdengar mudah? Jangan salah.
Gue masih harus belajar banyak tentang itu..

Sunday, July 6, 2008

Menjaga hati, mata dan lidah

Menjaga hati.

Lagu ini dipopulerkan baru-baru ini oleh Yovie And Nuno. Tapi bukan soal lagu itu yang menarik perhatian gue akhir-akhir ini. Hanya aja setiap kali gue denger lagu ini, gue seperti diingatkan lagi dan lagi bahwa gue harus menjaga hati. Namun bukan menjaga hati dalam hal yang berkaitan dengan perasaan terhadap seseorang, lho (walau tentunya itu pun akan gue jaga sebaik-baiknya). Gue akan coba tuliskan argumentasi gue kenapa menjaga hati itu penting, dan apa hubungannya dengan mata dan lidah.

Mata adalah jendela hati.

Melalui mata, terlihat apa yang ada di hati. Pernyataan ini bisa berlaku secara harafiah, bisa juga dalam arti kiasan. Gue sendiri bukan orang yang bisa memakai mata sebagai jendela hati ketika gue berhadapan dengan seseorang, karena gue lebih suka punya pemikiran positif akan seseorang ketimbang menyelidiki gimana matanya memandang. However, gue sendiri adalah orang yang hatinya mudah dilihat dari cara gue memandang. Kata temen-temen gue sih, keliatan dari mata gue apakah saat itu gue sedih, gembira, marah, semangat, dsb. Intinya adalah, kejujuran, kebohongan, perasaan di hati itu tercermin dari mata. Dalam artian harafiah, keliatan juga dari mata apakah hati atau liver kita dalam keadaan sehat atau tidak. Buktinya, kalau orang sakit hepatitis akan terlihat dari warna matanya yang kuning.
Namun, yang menjadi perhatian gue adalah dalam artian kiasan. Selain argumen di atas, mata juga bisa menjadi cermin yang sebaliknya. Contohnya, kalau kita melihat sesuatu tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita pesen smoothies strawberry, munculnya juice strawberry. Gue sih, hati gue jadi cenderung tidak terjaga karena gue lalu jadi kesel, ngomel-ngomel sama waiter/waitressnya. Maksud gue, instead of coba bersabar dan nanya baik-baik kenapa bisa lain dengan pesenan kita.

Lidah adalah jendela hati.

Ini sebetulnya hal yang membuat gue tertarik untuk menuliskan posting ini. Mulanya karena renungan harian yang gue baca beberapa hari yang lalu tentang mulut. "Mulutmu harimaumu," gitu katanya. Kata-kata yang keluar dari mulut kita ibarat harimau: sangat berkuasa. Ucapan hakim di pengadilan bisa menentukan hidup matinya seorang terdakwa. Ucapan seorang pejabat bisa memengaruhi nasib rakyat. Ucapan pengusaha pada rekannya dapat membuat transaksi bisnis jadi atau batal. Ucapan seorang pria pada kekasihnya bisa membuatnya tersanjung atau tersinggung. Sekali salah ucap, akibatnya bisa gawat! Mengucapkan apa yang tidak perlu atau tidak pantas. Mengendalikan lidah memang lebih sulit daripada mengendalikan api atau menjinakkan binatang. Tanpa dikekang, lidah bisa menjadi liar. Kadang mengucapkan berkat, kadang kutuk. Tidak konsisten. Jadi, belajarlah mengekang lidah. Berpikirlah lebih dulu, baru berbicara. Saring dulu, baru ucapkan. Lebih penting lagi: jagalah hati agar selalu murni. Sebab apa yang keluar dari mulut, berasal dari hati (Matius 15:18, dikutip dari Renungan Harian, 3 Juli 2008). Nah, inilah maksud gue bahwa lidah adalah jendela hati.

Perenungan ini cukup menampar gue sendiri. Apalagi gue adalah orang yang lebih sering mikir belakangan, ngomong duluan. Menjaga hati juga menjadi sangat penting. Menjaga untuk tetap taat, disiplin, takut sama Tuhan. Menjaganya untuk kudus, tetap berkenan, tetap digerakkan untuk melakukan hal yang berkenan, yang baik, penuh kelembutan, pengendalian diri, empati dan ga egois, dan banyak hal. Menjaganya untuk tetap percaya dan menyerahkan segalanya kepadaNya, bukan saja diri, hidup, tapi juga masalah, kekalutan, ketakutan, kesedihan.

Sekali lagi, dan itu akan berulang-ulang kali lagi menampar gue.

Sunday, June 22, 2008

Lamunan

Salah satu lamunan yang paling gue gemari adalah membayangkan apa jadinya seandainya gue bukan gue sekarang ini. Apa jadinya kalau nama gue bukan Joyce, gue bukan terlahir sebagai bungsu dari dua bersaudara, gue bukan berdarah Batak-Jawa-Sunda, gue bukan Sarjana Ekonomi, gue ga lahir di Solo, bukan pada tahun 1981, gue bukan alumni Unpar, bukan alumni PSM Unpar (sebenernya gue masih anggota, mengingat keanggotaan di PSM Unpar bersifat seumur hidup), bukan orang Indonesia, dan sejuta 'bukan' lainnya.

Setelah gue coba mengingat-ingat, entah kapan gue mulai sering membayangkan hal ini. Mungkin karena gue suka traveling, gue suka melamunkan bahwa gue penduduk tempat dimana gue menginjakkan kaki pada saat itu.

Hanya andai-andai:
Gimana kalau seandainya gue terlahir dengan ras bule di bagian dunia yang sub-tropis? Misalnya di Australia. Mungkin saat ini gue udah menyandang gelar Master dari Monash University. Pengusaha wanita muda yang sukses, tinggal di apartemen kelas atas di tengah kota. Atau mungkin gue udah menikah, tinggal di rumah yang halamannya hijau luas, dengan dua atau tiga anak yang lucu-lucu. Atau mungkin gue bisa main piano! Atau mungkin gue punya profesi traveller yang pergi ke mana-mana tapi dibayar. Mungkin gue nyanyi-nyanyi juga seperti sekarang, bahkan ikut lomba dan bersaing dengan PSM Unpar! Dan sejuta andai-andai lainnya.

Memang, andai-andai akan selalu indah. Ga mungkin banget mengandaikan yang jelek-jelek, apalagi mengenai diri sendiri.

Tapi kemudian gue sadar.. Ada tujuannya gue diciptakan Tuhan seperti ini. Mungkin gue adalah alatNya, diutus olehNya di Indonesia ini, di lingkungan rumah gue di Percetakan Negara, di tempat-tempat yang gue singgahi. Tuhan menciptakan gue terlahir dengan nama Batak, darah Jawa, pipi tembem, lulusan FE Unpar yang kuliahnya 7 tahun (gue tidak menyesal lho), anggota PSM (yang bahkan saat ini gue ga bisa lagi ikut jalan-jalan ke Eropa), dua bersaudara, lahir di Solo tahun 1981, kecil di Bandung dan sekarang mencari hidup di Jakarta,...dan sejuta hal lainnya yang terjadi atas diri gue. Baik maupun buruk. Suka maupun duka. Tawa maupun airmata.

Gue sangat bersyukur, intinya. Kalau mau diterusin, list di atas ga akan muat di ratusan posting sekalipun. Segala perkara yang terjadi dalam hidup gue, menyenangkan atau tidak, mudah atau sulit, semuanya dikasih Tuhan untuk membentuk gue menjadi seperti sekarang ini, dan proyekNya ini belum selesai...

Sunday, June 1, 2008

Masalah..dan masalah..

Orang hidup ga pernah jauh dari masalah? Ya, gue tahu. Masalah selalu ada. Seiring pertumbuhan dan kedewasaan gue, masalah menjadi lawan sekaligus kawan. Masalah ikut dalam pembentukan pola pikir dan karakter. Gue ga suka dengan masalah, tapi harus diakui bahwa masalah adalah salah satu yang bisa membentuk gue sampai sebegini. Lewat masalah, gue belajar untuk membedakan mana yang benar mana yang salah; kalau ada yang salah, gue coba perbaiki dan ga diulangi, kalau benar, gue pertahankan dan jadikan kebiasaan baik.

Masalah membuat gue lebih menghargai dan mensyukuri apa yang ada pada gue. Baik atau buruk, sedikit atau banyak, masalah turut membangun diri gue sekarang ini.

Dari segi spiritualitas? Masalah adalah hal yang Dia kasih dalam gue membangun relasi yang lebih intens dengan Dia. Sebuah ujian untuk membentuk gue. Ujian yang menyenangkan, selama gue bertekad untuk ga menyerah dan tetap lihat tujuannya. Ujian yang lucu, karena yang ngasih ujiannya justru ngasihtahu gue jawabannya. Kalo aja selama gue sekolah n kuliah dulu tiap ujiannya kayak gitu, wuah… Tapi sekaligus ujian yang sungguh berat, karena menantang ketahanan. Ujian yang berharga, karena mendatangkan kebaikan.

Betul bahwa Tuhan menguji gue dengan masalah supaya gue makin deket denganNya. Betul bahwa Dia manggil-manggil gue salah satunya melalui masalah. Bukan berarti dalam keadaan senang gue punya excuse untuk boleh lupa.

Yup, tiap orang punya cara sendiri gimana melihat masalah. Ga berarti boleh sombong punya masalah besar atau lain daripada yang lain, atau sombong kalau bisa lewatin itu.

Tapi masalah yang belum lama ini menerpa gue rasanya menguras tenaga, perasaan dan pikiran gue, terutama di awal. Sangat melelahkan, depresif dan bikin frustrasi. Semua pikiran-pikiran negatif dan ketakutan-ketakutan terus bermunculan. Ada kalanya gue sampai sulit bernafas, dalam arti sebetulnya. Gue ‘kabur’ dari rumah untuk bisa mengalihkan pikiran gue. Memang ga menyelesaikan masalah, tapi membantu gue untuk melihat masalah dari perspektif yang lain.

Setelah beberapa saat dan gue pulang, gue mulai bisa berpikir dan nemuin hal-hal baik dari balik masalah ini. Ketakutan-ketakutan gue pun ga terbukti. Kini gue mulai melihat titik-titik terangnya, dan semoga Dia berkenan segera ngelewatkan ini dari gue. Rasanya sekarang gue bisa bilang ini mulai membaik. Walau yang baik itupun gue masih belum tahu apa. Pokoknya baik.

Kemudian gue melihat masalah-masalah yang dihadapi orang-orang di sekitar gue. Ada teman yang bergumul dgn ujian sementara ayahnya dirawat di RS, ada teman yang berjuang tinggal sendiri di negeri orang dengan segala kesulitannya, ada teman yang perjuangannya melahirkan menempatkan dia bener-bener di antara hidup dan mati, ada teman yang pergumulannya betul-betul luar biasa dan sedang dipulihkan, ada teman yang hampir kehilangan kewarasannya dan kacau-balau karena pola didik keluarga, ada teman yang jatuh-bangun memperjuangkan rencananya menikah berbeda keyakinan, ada teman yang ditentang pacaran oleh orangtuanya karena beda keyakinan, dan segudang teman-teman dengan masalah masing-masing.

Lalu…
Gila, apalah masalah gue dibanding masalah mereka…

Monday, May 26, 2008

to change..or not to change?





Fiona: You know, you are acting like a... a...
Shrek: Go on, say it.
Fiona: Like an ogre!
Shrek: Well, whether your parents like it or not, I am an ogre! And guess what, princess? That's not about to change.
Fiona: I've made changes for you, Shrek. Think about that.

bandingkan dengan:

Sebuah commercial suatu produk kecantikan di televisi dimana ceritanya ada reuni sekolah, dan si perempuan khawatir apakah si laki-laki masih inget sama dia. Ternyata si laki-laki ga lupa, dan si perempuan bilang, "For you, I never change."

Jadi?
Jadi?

Monday, May 19, 2008

Food and taste


During my delicious lunch with my sister and her friend at The Pacific Place yesterday, I realized the main reason why food makes people like to eat (and becomes fat) is on tastes. Not its nutrition, not also the varied color, nor the shape. The main reason is the taste. Without the taste, food will no longer become an interesting and attractive object. It’s a lie if someone says his/her main reason in consuming certain food is the rich nutrition it has. No matter how high calcium it has, high vitamins, but if the food has no taste, or at least tastes badly, you will not eat that, right?

The doubled mistakes that junk food has is on its good taste and its (very) low nutrition. On the other hand, extreme ways make healthy food also has doubled mistakes; its high nutrition and its not-too-good-taste. Why can’t each kind of those foods be light-hearted and not to be selfish and egocentric? They can meet each other in the middle. Okay, maybe it’s not as easy as it sounds.

Mind if I offer a simpler way? The junk foods to raise a little of its nutrition and to decrease some of the taste, while the healthy food to be a bit more ‘naughty’ by increasing its taste and not being always in a ‘saintly’ nutrition.

Then, I suppose they will make a brighter culinary world for all of us people, right? And a happier people, at least happier in their tongue and their digestive system.

So, back again to my point, what makes people fat is the taste the food has in it. People tend to double – some even triple – their eating portion because of the taste. Not because they are hungry; it’s the good taste that makes people hungry, not the opposite. If hungry is the reason, then the taste makes the hungry thing even doubled.

The world of culinary is turning around the taste. I think everybody can agree with that.

How can we relate the story with our life as human being? Easy. Easy in saying it. Look at the blue sentence before. Be light-hearted, not to be selfish and egocentric on each other, which mean to understand, do empathic, and no want to dominate. A brighter culinary world; a peace in our life. The taste is ‘love’ from The Great Chef Himself. More over, can we be the taste itself?

Difficult in executing.

Friday, May 16, 2008

Tertawa

Barusan gue membaca artikel online di my-newlyfound-favorite-website Kompas Community tentang sepeda motor (sebenernya ini bukan tentang sepeda motornya, sih) dan gue ketawa ngakak.

Dan entah kenapa, gue tiba2 menyadari, wah, udah lama sekali gue ga ketawa seperti ini. Gue bahkan ga inget kapan terakhir kali gue ketawa terbahak dan ngerasain sensasi menggelitik yang memacu gue untuk terus ketawa dan ga bisa berhenti. Kebayang kan, ketawa yang bener2 heboh, sampe keluar air mata, sampe sakit perut, sampe keabisan napas..

Agak ironis, mengingat sebetulnya gue adalah orang yang mudah sekali tergelitik dan ketawa. Hal lucu sekecil apapun, se-ngga penting apapun, bisa bikin gue ketawa. Ketawa itu menyenangkan, memacu semangat gue, mengajarkan gue untuk selalu bisa nemuin segi positif dari segala hal. Di masa sekolah dulu, temen-temen gue mengenal gue sebagai orang yang optimistis karena gue senang ketawa. Bukan ngetawain orang, lho. Itu sih ngga baik. Tapi kalo orang itu dengan senang mau diketawain, ya gue mau banget ngebantu. Hehe.. Ga jarang lho gue diomelin guru karena bukannya belajar, malah ketawa-ketawa. Gue malah sampe pernah jatuh dari kursi gara-gara ketawa. Hahahaha...

Di masa kuliah, temen-temen gue terutama yang seperjuangan di PSM mengenal gue karena ketawa gue. Dulu Ivan pernah bilang, ketawa gue menular. Kalo gue udah ketawa geli, hampir semua yang ada di sekeliling gue ikut-ikut ketawa, walau ga tahu apa yang gue ketawain. Dan dia bilang, gue kalo ketawa ada nadanya. Halahhhhh... Ekstrim bener.. Kalo gue lagi ngumpul-ngumpul di dalem sekre dan ketawa, dan pada saat itu ada yang baru dateng, pasti bilang, "Lo ya Jo, ketawa lo tuh kenceng banget.. Kedengeran sampe parkiran depan! Langsung ketahuan ada lo.." Halahhhhh... Ekstrim :D

Secara di PSM kayaknya ga ada orang yang ketawanya ga heboh. Dimanapun kita berkumpul, orang-orang lain sekitar kita pasti keganggu banget. Serasa ruangan milik sendiri. Hehehe...

Di lingkungan tempat kerja gue dulu, di atas, semuanya hobi banget ketawa. Ada satu temen namanya Tyas, dia kompornya. Orangnya lucu banget, tukang ngebanyol, dan dia ga ngapa-ngapain pun kita bisa ketawa. Hehe, sebenernya mungkin gue doang sih. Dan semuanya di atas punya suara ketawa yang gede-gede, dan kadang orang-orang di bawah sampe nanya ada apa sih di atas.

Di kantor bawah, HOAHHHH... Gue cuman ketawa-ketawa di luar kantor sama temen-temen M******* Seperjuangan Team. Tapi itupun seru, walau jumlah kita sedikit banget. Bisa ketawa-ketawa gara-gara salah tempat parkir, nyasar, ga perlu lagi disebut kalo lagi hangout.

Intinya?
Gue kangen ketawa. Gue kangen sampe terbahak-bahak sampe puas.

Wednesday, May 14, 2008

Soulmate

"At one point, I even thought.....soulmates."

This is how Harry Sanborn - a role played by Jack Nicholson in 'Something's Gotta Give' - describes his deep feeling to Erica Barry - played by Diane Keaton.

This 'soulmate' thing popped up in my mind when recently he brought this up. Which then makes me think, what is soulmate, actually? What is the definition? Who can be someone's soulmate? How can it happen? Where can someone finds his/her? When is it?

On Wikipedia, I find few definitions about soulmate, taken from many sources:

  • Merriam-Webster Online Dictionary: a person temperamentally suited to another
  • Encarta® World English Dictionary: somebody close to somebody else, or somebody with whom somebody else naturally shares deep feelings and attitudes
  • Infoplease Dictionary: a person with whom one has a strong affinity

I also find that soulmate is highly related to 'kontak batin' (I cannot find the suitable English for that term), where if someone is in sadness, angry, or happiness, the other half can feel it too, although they're far from each other.

Finding soulmate cannot be measured from 'outside' appearance, especially when it comes to physical measurement. It cannot be measured by social status, financial status, and/or many more status. Sometimes you just know it when you know it. Sometimes it comes when all of sudden you realize that you already found it.

Menurut gue, yang paling mengena bahwa soulmate adalah seseorang yang dengannya seseorang lain bisa menjadi dirinya sendiri; seseorang yang bisa membuat nyaman seorang lainnya; seseorang yang bisa mengerti seorang lainnya, walaupun dia sedang dalam mood yang tidak baik, misalnya. Seseorang yang bisa menerima seorang yang lain sebagaimana adanya, kelebihan dan kekurangannya; seseorang yang mengesampingkan ego demi seorang lainnya; seseorang yang memberikan kasih sayang tanpa syarat kepada seorang lainnya.

So..

Have you find your soulmate? :)

Monday, May 12, 2008

Yovie and Nuno vs. Paul McCartney feat. Michael Jackson

Tahu dong lagunya Yovie and Nuno yang judulnya 'Dia Milikku'..? Pertama kali gue tertarik dengan lagu ini karena lihat video klipnya yang ngambil tempat di London. One of the cities I really want to visit. Gue pikir, gile, bikin video klip aja sampe ke London booooo.. Kemudian hal kedua yang membuat gue tertarik dengan lagu ini adalah liriknya. Menceritakan tentang dua orang cowok yang berteman, tapi mereka ngerebutin satu cewek. Kalo jaman dulu mungkin ksatria-ksatria di Inggris sampe bersedia duel pedang demi mendapatkan si perempuan ini. Halahhhh... Mulai imajinasi berlebihan :) Tapi kayaknya seru juga ya direbutin dua cowok.. Hmm.. Hahahaha, tambah ngelantur aja gue.

Dia untukku, bukan untukmu
Dia milikku, bukan milikmu
Pergilah kamu,
jangan kauganggu
Biarkan aku mendekatinya..

Itu adalah sepenggal lirik lagunya. Dan gue ngerasa seolah pernah mendengar lagu yang kurang lebih serupa dengan itu. Setelah menggali-gali otak, ingatan gue melayang ke lagunya Paul McCartney. Di lagu itu dia duet sama Michael Jackson, dan lagunya judulnya 'The Girl Is Mine'.

I don't understand the way you think
Saying that she's yours not mine
Sending roses and your silly dreams
Really just a waste of time
Because she's mine
The doggone girl is mine

Mirip ya..? Sama-sama tentang dua orang cowok yang memperebutkan satu cewek.

Dan nyambung lagi, mengingatkan gue tentang Meredith Grey di serial TV 'Grey's Anatomy', dimana dia direbutin oleh Dr. Sheppard, si McDreamy, dan Dr. Finn, si McVet. Sebenernya agak heran juga gue kenapa dia direbutin.. Menurut gue, ironis bahwa serial ini tentang dia, tapi justru dialah karakter yang paling ga gue sukain. Anyway, instead of wordwar atau perang di mulut doang, dan bukan juga perang keahlian sebagai dokter -- secara yang satu dokter spesialis bedah dan satunya dokter hewan -- mereka perang lewat cara sehat, yang mereka lakukan lewat kencan-kencan mereka masing-masing sama si Meredith. How they treat Meredith as their date, jadi masing-masing mengusahakan date terbaik untuk si Meredith.

Lalu?
Ga ada lalu-lalu. Cuman sekedar pikiran iseng aja..

Monday, April 21, 2008

Sang Perempuan

Akhir2 ini isu feminisme sering dijadikan topik obrolan, termasuk oleh gue dan dia. Setelah diskusi, bertukar pikiran, menantang intelektualitas masing2 dan menyejajarkan prinsip, akhirnya kesimpulannya kembali ke diri masing2..yang bagusnya mencapai kesepakatan.

Isu ini relatif, ga bisa diukur. Pengertian tiap orang tentang feminisme ini begitu beragam. Jangankan dari sisi laki2, dari perempuan sendiri macam2. Ada yang memandang itu baik, ada yang memandang itu kurang baik, ada juga yang berpendapat kalo mau bicara feminisme itu harus lihat dari konteksnya, dan ada juga opini bahwa selama dalam batas2 tertentu feminisme itu baik, tapi kalo lewat dari itu, sudah menjadi kurang baik.

Pandangan gue:
Yang penting adalah kesetaraan. Perempuan punya hak yang sama dengan laki2, dalam konteks mendapatkan kemampuan, kesempatan (pendidikan, karir, berpendapat) dan sebagainya. Tidak ada yang lebih unggul karena dia laki2 atau perempuan. Jadi kalo perempuan lebih capable daripada laki2, mengapa tidak? Vice versa. Sama2 menghargai itu. Sportif ajalah..

Lain halnya dalam konteks hidup berpasang2an. Sepintar apapun sang perempuan, setinggi apapun karirnya dari pasangannya – yang mana memang harus diakui sang laki2 – sang laki2 tetaplah seorang pemimpin. Dalam hal ini sang perempuan harus mengakui itu, dan sepenuhnya sadar bahwa kodratnya adalah tidak melebihi laki2. Tuhan juga bilang bahwa perempuan merupakan pendamping yang sepadan bagi laki2. Jadi walaupun sepadan, yang menjadi tokoh kunci adalah laki2, kan?

Menurut gue, istilah ‘emansipasi’ lebih bisa masuk ke otak gue daripada istilah ‘feminisme’. ‘Emansipasi’ itu berkaitan dengan kesetaraan – dalam konteks2 di atas tadi – sementara ‘feminisme’ itu menurut gue berkaitan dengan keinginan sang perempuan untuk cenderung lebih segala2nya daripada laki2, ekstrimnya ga butuh laki2. So, menurut gue, kalo ngaku feminis, jangan minta laki2 memperlakukan lo sebagai perempuan. Contoh kecilnya aja, jangan mau dibukain pintu sama laki2, jangan ‘ladies first’, jangan parkir di ladies parking, dsb.

Anyway, ini hanya pemikiran gue. Mau setuju atau tidak, silakan. Toh yg seperti gue bilang di awal, ini relatif. Bukannya gue ga bangga jadi perempuan, justru sebenarnya gue sangat bangga. Cuman agak bingung aja kenapa isu ini begitu booming.

Kesimpulan akhirnya adalah, Tuhan menjadikan kita unik. Ada tujuannya Dia menciptakan laki2, ada tujuanNya menjadikan perempuan. Tidak ada gunanya menyama2kan perempuan dengan laki2, apalagi membeda2kan keduanya.

Dari kitab Amsal Daud, gue mendapati peran seorang perempuan begitu hebat. Padahal masih jaman itu gitu loh.. Di situ dibilang bahwa perempuan yg hebat adalah perempuan yg bisa dipercaya, dan olehnya suaminya diberkati. Ia mengatur rumah tangga dan keluarganya dengan baik. Ia meniti karir, tapi masih memperhatikan orang lain yang butuh pertolongan. Takut akan Tuhan, dan ia melayani sesama sebagai perwujudan imannya.

Ajaib bahwa Tuhan memakai keseharian seorang perempuan menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.

Saya mau menjadi perempuan yang seperti itu. Anda jugakah?

Selamat hari Kartini.
God bless you!

Monday, April 7, 2008

12 macam hal

12 macam hal. Kenapa 12? Karena gue lahir tanggal 12.
  1. It's been four months sharp. Gue ga bisa nulis 'ga kerasa'. Justru sangat kerasa, jangankan empat bulan, memasuki bulan kedua aja gue udah mulai uring2an. Gue butuh ajang aktualisasi diri. Gue butuh tempat untuk melakukan sesuatu dengan otak gue, tangan gue, tenaga gue, instead of cuman leha2, jalan2 dan ngabisin uang. Gue suka sibuk, asal bukan sibuk yang sok ikut2an atau dengan kata lain menghandle kerjaan yang bukan kerjaan gue.

  2. Berkaitan dengan nomor satu, gue mulai menyusun rencana untuk mulai menetapkan target2. Gue harus menentukan kapan gue mau berhenti leyeh2 dan melakukan sesuatu. Yang terbersit di otak gue adalah, jika sampai beberapa waktu ke depan gue ga kerja2 juga, gue harus melakukan sesuatu, yang mana di otak gue ada pilihan mau kursus, nerusin kuliah ke S2, atau menurunkan skala idealisme gue soal kerjaan. Maksud gue idealisme adalah selama ini gue idealis mau di industri yang sama dengan kerjaan gue sebelumnya. Sekarang gue mikir, siapa sih yang tahu apakah emang path gue di situ atau malah gue bisa lebih berhasil di bidang lain?

  3. Kenapa ya ada orang2 yang suka melewatkan kesempatan di depan mata dan menganggap enteng hal2 tertentu? Gue ga munafik, sometimes gue juga melewatkan kesempatan, tapi gue bisa membela diri dimana kesempatan yang gue lewatin itu bukan sesuatu yang buat orang lain adalah hal besar; itu semata2 hanya menyangkut diri gue sendiri dan tidak menyangkut keadilan buat orang lain. Tapi, sebesar2nya jiwa pencari kesenangan yang gue miliki, menganggap enteng adalah hal yang salah. Lebih baik adalah tidak nganggap enteng, tapi jalani dengan riang.

  4. Memasuki bulan kelima. Jatuh bangun, tawa dan airmata, cobaan dan pelepasan. Mengalahkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, menemani dan ditemani, empati buat orang, spare my feelings and my ego for all these things. Hal2 indah. Hal2 yang terberkati.

  5. Gue kembali menjadi orang berambut coklat. Warna asli rambut gue. Gue yang sesungguhnya. Kadang2 gue berpikir terlalu jauh dengan sewaktu2 berpendapat bahwa ganti2 warna rambut sama seperti ganti2 topeng wajah.. Sesekali memang baik, tapi kalo berlebihan, kita jadi seolah ga punya karakter karena selalu mencoba jadi orang lain. Anyway. Hanya sebuah pemikiran.

  6. Setelah 10 tahunan, gue akhirnya naik bis metro mini lagi di Jakarta. Seru juga. Cuman kali ini memang ga terlalu menyengsarakan, karena gue naiknya jam 10 pagi.. Ga penuh, ga berebutan ama anak sekolah atau orang kerja, ga keringatan, ga usah desak2an berdiri, ga lengket dan bersentuhan dengan kulit orang2. Hanya bersentuhan dengan kulit orang. Hehe.. Juga dengan bajaj. Kendaraan asal India ini juga udah lama ga gue naikin. Cuman yang ini sih mgkn ga 10 tahun amat. Masih gue naikin jaman nyanyi di Kedubes beberapa tahun lalu, dan Januari kmaren juga masih naik. Kemaren gue naik bajaj lagi di Kelapa Gading. Yang bikin satu ini seru dan beda dari yang sebelum2nya? Ahem.. ;)


  7. Kemarin untuk pertama kalinya gue gereja di GKI Kayu Putih. Gerejanya modern dan bagus. Deket dari rumah. Dan mengingatkan gue akan GKI Maulana Yusuf di Bandung. Jadi gue langsung berasa nyaman.

  8. Dapet inspirasi religius baru: Penderitaan dan cobaan demi namaNya semakin dipermuliakan? Mengapa tidak? Apalagi kita tahu Dia juga setia nemenin kita.

  9. Dua kali Jumat terakhir berturut2 gue terlibat dan dilibatkan dalam sebuah 'perjalanan' spiritual. Mencoba lebih dekat dan intim dengan Tuhan, dan menyaksikan seseorang diubahkan ke arah yang jauh lebih baik, ke dalam harapan yang lebih baik, dan rencana kehidupan yang lebih baik.

  10. Temen gue akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan bernama Michelle Erkens. Nyokapnya C-section, tapi menurut kabar semua sehat dan baik2 aja. Congratulations, Ber and Will! So happy for three of you!

  11. Berjalan2 berdua menikmati lampu2 dan jalanan kota Jakarta di malam hari menjadi kebiasaan yang menyenangkan dan selalu dinanti2. Pada suatu ketika gue menyadari bahwa this is what I've been longing for.. Imajinasi gue tentang date yang gue impikan selama ini, terlepas itu apakah itu date yang sempurna atau tidak, yaitu menikmati setiap detik yang ditempuh sambil memandang Jakarta di malam hari yang terus hidup dan begitu hidup dengan nyala lampu2nya :)

  12. Gue membaca artikel di kolom urban life Kompas Minggu dan tersenyum sendiri. Sangat hebat dan ajaib bahwa dalam kasih ada pengampunan dan kesetiaan. Tidak membutuhkan balasan.. Gue sudah mendapatkan ganjarannya :)