I love Sunday.
Saat ini sore udah berganti malam, dan hari amat bersahabat. Ga mendung, panasnya ga terik. Udara ga berat, ga panas, cukup hangat dan enak.
Agak sedikit malas menghadapi minggu yang baru esok hari, tapi harus semangat. Dan itulah kenapa aku menyukai hari Minggu. Kepenatan, kebosanan, kelelahan selama seminggu udah hilang, udah dicharge kembali dengan segala pemulihan, pembaharuan, berkat-berkat baru, dan persiapan yang Dia sedang lakukan atasku untuk menjalani dengan kepala tegak satu minggu mendatang.
Aku ga akan menyangkal bahwa excitement untuk cepat-cepat nyampe ke hari Minggu dimunculkan sendiri olehNya dalam diriku. Menjalani satu minggu, selalu ada saat-saat dimana aku pingin cepat-cepat nyampe ke Minggu. Entah excitement untuk mendapat pencerahan kembali, kekuatan dan semangat baru, atau nyanyikan lagu-lagunya, atau menyampaikan syukur (tentu sebetulnya kalau ini malah jangan sampe harus nunggu hari Minggu), atau ketiganya, tapi kerinduan itu ada, dan aku senang karena Dia menaruhnya di dalam diriku.
Yang tadinya malas banget udah harus memulai hari Senin lagi, pekerjaan lagi, digantikan oleh semangat untuk melakukan lebih baik lagi, penuh dengan ide-ide baru, kemungkinan-kemungkinan baru, alternatif-alternatif baru, dan biasanya, dengan iman aku mengucapkan bahwa aku akan memenangkan setiap hari. Tuhan bersamaku, dan aku selalu yakin Ia akan membawaku memenangkan setiap hari.
Bukankah Ia begitu mempesona? :)
dreams, hopes, faiths, happiness, excitements, sadness, fears, thoughts, inspirations, hates, likes, interests, passions, secrets.
Showing posts with label blessing. Show all posts
Showing posts with label blessing. Show all posts
Sunday, October 11, 2009
Wednesday, May 20, 2009
indah
Siapa sih yang ga pingin jadi indah?
Membayangkan bunga matahari di padang rumput (bunga matahari tumbuh di padang rumput ga ya?), menantang angin, berseri-seri, ceria, indah, cantik.
Tetapi memberi diri untuk dibuat indah, itu hal lain. Tidak segampang itu menjadi indah, tidak hanya dalam semalam saja, tidak dalam sekejap mata. Memberi diri untuk dibuat indah, itu hal yang berat, penuh tantangannya. Ditempa, dibanting sana-sini.
Pernah membayangkan berlian? Untuk jadi indah, harus digosok, harus dimurnikan, ditempa. Setelah melewati serangkaian proses yang sulit, berat, menyakitkan, barulah dia bisa menjadi berlian yang seberlian-berliannya.
Melalui serangkaian pengalaman yang tiada henti selama hidup dan bernapas, aku ditempa, dibentuk, didewasakan. Memberi diri untuk dijadikan indah oleh Dia, jangan dikira isinya senang-senang. Namun upahnya, tuaiannya, amat besar. Memberi diri kepada Sang Bapa, berarti siap untuk diukir, dipahat, digosok sana-sini. Berarti siap untuk ditempa, didera, sulit, dengan airmata, dengan jeritan. Rasanya mungkin seolah-olah seperti Tuhan hilang atau bersembunyi, namun sebetulnya dalam keadaan diri kita yang paling rendah itulah kita diajar untuk mencari dan mendapatkanNya, dibantu untuk menyadari bahwa Dia selalu ada untuk kita, dibantu untuk menemukan Dia dan membiarkan Dia mencurahkan sepenuh-penuhnya kasih sayangNya. Belajar untuk bersandar penuh padaNya, belajar untuk mempercayakan segalanya padaNya, belajar untuk membiarkan Tuhan memeluk kita.
Bukan perkara mudah. Ada kalanya di saat-saat pemurnian yang menyakitkan itu kita berbalik, sedih dan marah. Padahal, Dia tidak pernah meninggalkan kita, selalu menemani kita dengan setia.
Suatu kali, pernah aku baca bahwa orang yang paling bersyukur adalah orang yang pernah dibawa oleh Tuhan sampai ke titik terendah dalam hidupnya, karena pada saat itulah ia benar-benar merasakan dibawa kembali naik olehNya, lebih indah, lebih mulia.
Kudatang ya Bapa dalam kerinduan
Memandang keindahanMu
Kuberikan segalanya semuanya yang ada
Kuingin menyenangkan hatiMu oh Tuhan
Jadikan aku indah
Yang Kau pandang mulia
Seturut karyaMu didalam hidupku
Ajarku berharap hanya kepadaMu
Taat dan setia kepadaMu Tuhan
Membayangkan bunga matahari di padang rumput (bunga matahari tumbuh di padang rumput ga ya?), menantang angin, berseri-seri, ceria, indah, cantik.
Tetapi memberi diri untuk dibuat indah, itu hal lain. Tidak segampang itu menjadi indah, tidak hanya dalam semalam saja, tidak dalam sekejap mata. Memberi diri untuk dibuat indah, itu hal yang berat, penuh tantangannya. Ditempa, dibanting sana-sini.
Pernah membayangkan berlian? Untuk jadi indah, harus digosok, harus dimurnikan, ditempa. Setelah melewati serangkaian proses yang sulit, berat, menyakitkan, barulah dia bisa menjadi berlian yang seberlian-berliannya.
Melalui serangkaian pengalaman yang tiada henti selama hidup dan bernapas, aku ditempa, dibentuk, didewasakan. Memberi diri untuk dijadikan indah oleh Dia, jangan dikira isinya senang-senang. Namun upahnya, tuaiannya, amat besar. Memberi diri kepada Sang Bapa, berarti siap untuk diukir, dipahat, digosok sana-sini. Berarti siap untuk ditempa, didera, sulit, dengan airmata, dengan jeritan. Rasanya mungkin seolah-olah seperti Tuhan hilang atau bersembunyi, namun sebetulnya dalam keadaan diri kita yang paling rendah itulah kita diajar untuk mencari dan mendapatkanNya, dibantu untuk menyadari bahwa Dia selalu ada untuk kita, dibantu untuk menemukan Dia dan membiarkan Dia mencurahkan sepenuh-penuhnya kasih sayangNya. Belajar untuk bersandar penuh padaNya, belajar untuk mempercayakan segalanya padaNya, belajar untuk membiarkan Tuhan memeluk kita.
Bukan perkara mudah. Ada kalanya di saat-saat pemurnian yang menyakitkan itu kita berbalik, sedih dan marah. Padahal, Dia tidak pernah meninggalkan kita, selalu menemani kita dengan setia.
Suatu kali, pernah aku baca bahwa orang yang paling bersyukur adalah orang yang pernah dibawa oleh Tuhan sampai ke titik terendah dalam hidupnya, karena pada saat itulah ia benar-benar merasakan dibawa kembali naik olehNya, lebih indah, lebih mulia.
Kudatang ya Bapa dalam kerinduan
Memandang keindahanMu
Kuberikan segalanya semuanya yang ada
Kuingin menyenangkan hatiMu oh Tuhan
Jadikan aku indah
Yang Kau pandang mulia
Seturut karyaMu didalam hidupku
Ajarku berharap hanya kepadaMu
Taat dan setia kepadaMu Tuhan
Sunday, November 16, 2008
si jelek
Beberapa hari yang lalu gue mendengar satu kalimat yang dilontarkan Joyce Meyer di televisi, tentang sekumpulan wanita yang terdiri dari ibu rumah tangga, wanita karier, single mother, mahasiswa yang dalam kehidupan keseharian terkadang menyesali diri atas apa yang ingin mereka lakukan namun tidak bisa karena ketidakpunyaan.
Dia bilang, kurang lebih demikian:
"Yang terpenting sekarang adalah menitikberatkan pada apa yang kita miliki; bukan pada apa yang tidak kita punyai. Tidak ada gunanya merasa bersalah. Iblis senang pada orang yang terus menerus merasa bersalah karena perasaan semacam itu menghalangi berkat Tuhan yang mau disampaikan."
Ya. Dengan cara apapun iblis akan menjauhkan manusia dari berkat-berkat Tuhan, sehingga tidak ada damai sejahtera di dalam diri manusia. Dan si bego itu seneng banget kalau demikian adanya.
Jadi kenapa seringkali gue merasa menyesal karena tidak bisa melakukan ini atau itu? Atau kenapa gue tidak punya ini atau itu? Kenapa gue lebih suka membiarkan perasaan-perasaan kacau tinggal di dalam diri gue dan malah menikmati sensasinya? Kenapa gue lebih memilih itu daripada melepaskan semuanya dan menaruhnya di kaki Tuhan untuk kelegaan dan damai sejahtera di dalam hati?
Worst of all: Kenapa gue membiarkan si konyol bertanduk itu bersenang-senang atas penderitaan gue dan kenapa gue ngijinin dia untuk singgah?
Beranikah gue pasang tampang, dan dengan garang mengusirnya, "Minggir lo, dasar jelek!" dan sepenuhnya bersukacita karena Tuhan?
Harus bisa, atuh! Aku kan anak Tuhan! Bersyukurlah atas apa yang kita miliki dan pergunakan itu sebaik-baiknya seperti yang Dia ingini untuk kita lakukan!
Dia bilang, kurang lebih demikian:
"Yang terpenting sekarang adalah menitikberatkan pada apa yang kita miliki; bukan pada apa yang tidak kita punyai. Tidak ada gunanya merasa bersalah. Iblis senang pada orang yang terus menerus merasa bersalah karena perasaan semacam itu menghalangi berkat Tuhan yang mau disampaikan."
Ya. Dengan cara apapun iblis akan menjauhkan manusia dari berkat-berkat Tuhan, sehingga tidak ada damai sejahtera di dalam diri manusia. Dan si bego itu seneng banget kalau demikian adanya.
Jadi kenapa seringkali gue merasa menyesal karena tidak bisa melakukan ini atau itu? Atau kenapa gue tidak punya ini atau itu? Kenapa gue lebih suka membiarkan perasaan-perasaan kacau tinggal di dalam diri gue dan malah menikmati sensasinya? Kenapa gue lebih memilih itu daripada melepaskan semuanya dan menaruhnya di kaki Tuhan untuk kelegaan dan damai sejahtera di dalam hati?
Worst of all: Kenapa gue membiarkan si konyol bertanduk itu bersenang-senang atas penderitaan gue dan kenapa gue ngijinin dia untuk singgah?
Beranikah gue pasang tampang, dan dengan garang mengusirnya, "Minggir lo, dasar jelek!" dan sepenuhnya bersukacita karena Tuhan?
Harus bisa, atuh! Aku kan anak Tuhan! Bersyukurlah atas apa yang kita miliki dan pergunakan itu sebaik-baiknya seperti yang Dia ingini untuk kita lakukan!
Sunday, October 19, 2008
..dalam gelap..
Di tengah-tengah penyampaian Votum dan Salam dalam kebaktian tadi siang jam 11.00, tiba-tiba listik mati! Dengan sigapnya sang pianis mengambil alih karena organ tentunya mati juga, sehingga lagu pembukaan bisa selesai dinaikkan. Pendeta juga agak lumayan harus teriak untuk menyampaikan salam.
Masalah pertama: Gelap. Apalagi kebaktian diadakan di lantai 2, dan cahaya dari luar terbatas.
Masalah kedua: Panas. Apalagi kebaktian jam 11.00 adalah kebaktian yang paling dipadati jemaat.
Namun di tengah-tengah itu, gue samasekali ga terpikirkan soal itu. Yang pertama kali muncul di otak gue dan membuat gue tersenyum adalah bahwa gue tiba-tiba teringat salah satu pengantar renungan harian sekitar sebulan yang lalu. Ceritanya kurang lebih sama. Pokoknya penerangan kurang, jadi semua tidak terlihat terlalu jelas.
Sang pendeta bingung. Kebaktiannya mau diterusin apa ngga ya?
Salah seorang majelis melihat keraguan si pendeta, kemudian mendekat dan berbisik, "Teruskan saja Pak.. Kami masih bisa melihat Tuhan dalam gelap."
Dan tepat itulah yang gue ingat. Memang, pendeta kami tadi siang tidak memperlihatkan tendensi kebingungan itu, tidak ada majelis yang mendekat dan berbisik, dan kebaktian tetap berlangsung baik. Sang pendeta memimpin kami berdoa supaya dalam gelap dan panas pun kebaktian tetap baik, dan kami tetap bisa memfokuskan pikiran kepada dan dalam Dia.
Tetapi justru mati listrik yang terkesan sepele itulah gue kemudian diingatkan bahwa di tengah-tengah 'kegelapan' dan 'kepanasan' yang sedang berkecamuk di dalam diri, Tuhan selalu bersinar.
Gelap. Kanan? Kiri? Kanan? Kiri? Belok mana nih? Apa jangan-jangan lurus? Maju atau mundur? Adalah pilihan gue untuk 'masih bisa melihat Tuhan dalam gelap', atau tidak.
Masalah pertama: Gelap. Apalagi kebaktian diadakan di lantai 2, dan cahaya dari luar terbatas.
Masalah kedua: Panas. Apalagi kebaktian jam 11.00 adalah kebaktian yang paling dipadati jemaat.
Namun di tengah-tengah itu, gue samasekali ga terpikirkan soal itu. Yang pertama kali muncul di otak gue dan membuat gue tersenyum adalah bahwa gue tiba-tiba teringat salah satu pengantar renungan harian sekitar sebulan yang lalu. Ceritanya kurang lebih sama. Pokoknya penerangan kurang, jadi semua tidak terlihat terlalu jelas.
Sang pendeta bingung. Kebaktiannya mau diterusin apa ngga ya?
Salah seorang majelis melihat keraguan si pendeta, kemudian mendekat dan berbisik, "Teruskan saja Pak.. Kami masih bisa melihat Tuhan dalam gelap."
Dan tepat itulah yang gue ingat. Memang, pendeta kami tadi siang tidak memperlihatkan tendensi kebingungan itu, tidak ada majelis yang mendekat dan berbisik, dan kebaktian tetap berlangsung baik. Sang pendeta memimpin kami berdoa supaya dalam gelap dan panas pun kebaktian tetap baik, dan kami tetap bisa memfokuskan pikiran kepada dan dalam Dia.
Tetapi justru mati listrik yang terkesan sepele itulah gue kemudian diingatkan bahwa di tengah-tengah 'kegelapan' dan 'kepanasan' yang sedang berkecamuk di dalam diri, Tuhan selalu bersinar.
Gelap. Kanan? Kiri? Kanan? Kiri? Belok mana nih? Apa jangan-jangan lurus? Maju atau mundur? Adalah pilihan gue untuk 'masih bisa melihat Tuhan dalam gelap', atau tidak.
Thursday, September 4, 2008
Dari khotbah Joel Osteen
~Jangan melawan angin yang bertiup ke arahmu. Ikuti saja, karena angin itu bisa menjadi angin berkat yang membawamu ke tempat yang lebih baik.
~Tuhan mengguncang anak-anakNya, seperti burung rajawali yang mengguncang sarangnya dan memaksa anaknya belajar menggunakan sayap. Semuanya supaya kita semakin bertumbuh dan lebih kuat.
~Musim berubah. Orang berubah. Bukalah diri untuk perubahan-perubahan, dan diperbaharui Tuhan untuk menjadi lebih baik lagi.
~Get out from your comfort zone! Atau kita tidak akan berkembang. Ada yang lebih baik di luar sana!
~Tuhan membuka pintu dengan caraNya yang ajaib, dan dengan ajaib pula Dia menutup pintu. Tuhan menutup satu pintu untuk membawa kita ke pintu berikutnya. Percaya saja, pasti dibaliknya banyak rancangan indah Tuhan menanti kita.
~Tuhan tidak akan mengijinkan masalah mendatangi kita, kecuali itu akan menjadikan kita semakin kuat, semakin bertumbuh, semakin dibangun di dalamNya.
~Ada masa-masa lalu menyakitkan yang begitu kelam. Tapi semua sudah berlalu. Itu sudah lewat! Musimnya sudah lewat! Tuhan sudah mengampuni dan sekarang saatnya untuk maju. Jangan kembali ke sana. Tuhan sudah menutup pintu itu.
(Dikutip dari salah satu khotbah Joel Osteen tentang perubahan.
Kurang lebih demikian yang dia katakan.. gue lupa kalimat persisnya, tapi itu poin-poin pentingnya. Intinya: Menerima perubahan. Perubahan itu baik, apalagi yang dari Tuhan sendiri. Gbu.)
~Tuhan mengguncang anak-anakNya, seperti burung rajawali yang mengguncang sarangnya dan memaksa anaknya belajar menggunakan sayap. Semuanya supaya kita semakin bertumbuh dan lebih kuat.
~Musim berubah. Orang berubah. Bukalah diri untuk perubahan-perubahan, dan diperbaharui Tuhan untuk menjadi lebih baik lagi.
~Get out from your comfort zone! Atau kita tidak akan berkembang. Ada yang lebih baik di luar sana!
~Tuhan membuka pintu dengan caraNya yang ajaib, dan dengan ajaib pula Dia menutup pintu. Tuhan menutup satu pintu untuk membawa kita ke pintu berikutnya. Percaya saja, pasti dibaliknya banyak rancangan indah Tuhan menanti kita.
~Tuhan tidak akan mengijinkan masalah mendatangi kita, kecuali itu akan menjadikan kita semakin kuat, semakin bertumbuh, semakin dibangun di dalamNya.
~Ada masa-masa lalu menyakitkan yang begitu kelam. Tapi semua sudah berlalu. Itu sudah lewat! Musimnya sudah lewat! Tuhan sudah mengampuni dan sekarang saatnya untuk maju. Jangan kembali ke sana. Tuhan sudah menutup pintu itu.
(Dikutip dari salah satu khotbah Joel Osteen tentang perubahan.
Kurang lebih demikian yang dia katakan.. gue lupa kalimat persisnya, tapi itu poin-poin pentingnya. Intinya: Menerima perubahan. Perubahan itu baik, apalagi yang dari Tuhan sendiri. Gbu.)
Monday, August 11, 2008
Bersyukurlah..
Bersyukurlah..
Rasa syukur membebaskan mata kita dari hal-hal yang tidak kita miliki, sehingga kita bisa melihat berkat yang kita miliki.
Dalam setiap ketidakberdayaan, ketidakmampuan, keterbatasan, bersyukurlah bahwa Tuhan memelihara kita. Kita justru diberkati, karena Tuhan sendirilah yang akan memenuhkan kekosongan-kekosongan yang ada. Berbanggalah, berbahagialah, karena Tuhan sendiri yang akan melakukan segala sesuatunya untuk kita.
Hitunglah karuniaNya, kumpulkan berkat kita, buat katalog kebaikanNya. Napas, hidup, kesehatan, kaki yang kuat, makanan, keluarga, rumah, teman, waktu, kesempatan... Tuhan berikan semuanya untuk kita. Sebagaimana yang menurutNya terbaik untuk kita. Bukan menurut kita.
Bersyukurlah..
Rasa syukur membebaskan mata kita dari hal-hal yang tidak kita miliki, sehingga kita bisa melihat berkat yang kita miliki.
Dalam setiap ketidakberdayaan, ketidakmampuan, keterbatasan, bersyukurlah bahwa Tuhan memelihara kita. Kita justru diberkati, karena Tuhan sendirilah yang akan memenuhkan kekosongan-kekosongan yang ada. Berbanggalah, berbahagialah, karena Tuhan sendiri yang akan melakukan segala sesuatunya untuk kita.
Hitunglah karuniaNya, kumpulkan berkat kita, buat katalog kebaikanNya. Napas, hidup, kesehatan, kaki yang kuat, makanan, keluarga, rumah, teman, waktu, kesempatan... Tuhan berikan semuanya untuk kita. Sebagaimana yang menurutNya terbaik untuk kita. Bukan menurut kita.
Bersyukurlah..
Friday, July 18, 2008
Keterbatasan
If a man could be two places at one time
I'd be with you
Tomorrow and today
Beside you all the way
Itu adalah sepenggal lirik lagu 'If' yang dipopulerkan grup musik Bread tahun 1971. Lebih dari 30 tahun yang lewat. Tapi bukan itu yang mau gue angkat di postingan ini.
Bait itu mengatakan, kalau saja seorang pria bisa ada di dua tempat berlainan pada satu waktu yang sama, ia akan bersama dengan kekasihnya besok dan hari ini. Mustahil? Yup. Tentu saja.
Di dalam segala keterbatasan kita sebagai manusia, ingin rasanya bisa ada di beberapa tempat pada satu kurun waktu yang sama. Tapi bukan bicarain kloning ya. Bukan juga bicara soal membelah diri seperti amoeba. Mungkin gue terlalu menggeneralisasi dengan menyebut 'kita'. Tapi gue pribadi, ada saat-saat tertentu dimana gue ingin terus bisa bersama seseorang yang gue sayangi, tanpa terpisah jarak, waktu, kota, dan sebagainya. Contohnya kalau dia sedang bersedih, gue ingin bisa ada di sampingnya dan menghibur dia, menyenangkan dia, mendukung dia, namun pada ketika itu gue sedang di luar kota, misalnya.
Apakah pernah disadari bahwa kita memang sedemikian terbatasnya dalam segala hal? Kita dibatasi waktu, jarak, tempat, bahkan dibatasi tubuh kita sendiri. Berbagai dimensi yang ada membatasi kita. Kita terkungkung dalam itu semua. Kadang-kadang itu begitu depresif, membuat kita frustrasi, karena kita ingin melakukan lebih namun tidak bisa. Karena adanya batas-batas tersebut.
Di situlah kita kemudian belajar untuk tidak mengandalkan diri sendiri. Bodoh banget kalau mengandalkan kekuatan sendiri. Jelas-jelas kita begitu terbatasnya, masih keukeuh pula mau ngelakuin hal-hal yang kita ga bisa. Kegagalan adalah akibat yang paling mungkin terjadi. Perlu dicatat, gue bukan bilang orang ga boleh punya percaya diri, lho. Justru harus punya. Tapi yang perlu diingat, kita punya semuanya itu pun adalah pemberian Tuhan. Mintalah supaya kita dimampukan untuk mengelolanya dengan baik.
Di situlah kita kemudian belajar untuk menggantungkan dan menyerahkan dan mengandalkan semuanya pada Tuhan. Kurang ajaib apa lagi Dia? Dia samasekali ga terbatas apa-apa. Apalagi tubuh. Yang buat kita merupakan penghalang besar yang sulit dilalui, buat Dia samasekali ga ada apa-apanya. Dengan satu tiupan kecil napasNya, orang diberi kehidupan. Kalau mau mindahin gunung, hanya dengan ujung jari Ia bisa. Berada dalam seratus tempat dalam satu waktu, tentu mudah banget.
Di situlah kita kemudian belajar untuk percaya pada pendampingan, penyertaan, perlindungan Tuhan. Ia tidak akan membiarkan siapapun celaka, sakit, jatuh.
Itulah kenapa jika gue ingin sekali mendampingi dan menguatkan seseorang yang misalnya sedang bersedih hati atau galau dan gue ga bisa hadir di sana, gue minta Tuhan yang menggantikan gue. Apalagi, penghiburan dan pertolonganNya berlipat-lipat jauh lebih besar daripada apa yang bisa gue berikan seandainya pun gue bisa ada di dua tempat pada satu waktu (ya iyalaaah, justru Dia sumbernya).
Istilah slang gue, titipin aja semuaNya pada Tuhan :)
Wednesday, July 16, 2008
Lagi dan lagi..
Lagi dan lagi. Kayaknya gue ga pernah bosan menuliskan topik ini.
Salah satu hal yang gue sukai adalah ketemu dengan orang-orang baru. Gue suka membangun jaringan atau network, melanjutkan hubungan dari hanya sekedar relasi atau kenalan menjadi seorang teman atau sahabat. Di wawancara-wawancara kerja yang gue jalani, meeting new people, building and maintaining network and relationship adalah selalu menjadi salah satu hal yang gue tonjolkan kalau ditanya apa kelebihan gue.
Dalam kehidupan kita, kita sangat sering bertemu dengan banyak sekali orang. Bersinggungan dengan banyak sekali orang. Orang datang dan pergi di kehidupan kita dengan berbagai cara. Sebagian manis, sebagian pahit. Namun gue yakin kita akan menyetujui bahwa kalau kita yang jadi 'orang yang datang dan pergi' itu, kita pasti ingin punya kesan baik.
Baru-baru ini misi gue bertambah dalam hal gaul-bergaul ini. Gue pingin melakukan sesuatu yang lebih. Bukan lagi hanya sebatas membina hubungan baik, bukan lagi sebatas hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan, anyway that's what friends are for, kan?) tetapi berkembang menjadi 'gue pingin membawa pengaruh positif dalam kehidupan orang ini'. Membawa perubahan-perubahan baik dalam hidup seseorang yang gue temui. Menjadi berkat dan saluran berkat bagi seseorang yang gue temui.
Klise?
Mungkin. Yang gue ingin sampaikan sebetulnya lebih dari ini. Tuhan ngasi gue kesempatan untuk bertemu orang-orang. Gue pingin sebaik-baiknya menggunakan kesempatan itu untuk membawa kebaikan bagi orang-orang tersebut. Dipakai Tuhan untuk menyalurkan berkatNya dan damai sejahteraNya.
Sounds wonderful, isn't it? Jadi, mari kita sama-sama berlomba menjadi pembawa kebaikan bagi orang-orang sekitar kita.
Gue akan sangat terberkati dengan menjadi pembawa berkat.
I don't need any payment, I already have my return :)
Salah satu hal yang gue sukai adalah ketemu dengan orang-orang baru. Gue suka membangun jaringan atau network, melanjutkan hubungan dari hanya sekedar relasi atau kenalan menjadi seorang teman atau sahabat. Di wawancara-wawancara kerja yang gue jalani, meeting new people, building and maintaining network and relationship adalah selalu menjadi salah satu hal yang gue tonjolkan kalau ditanya apa kelebihan gue.
Dalam kehidupan kita, kita sangat sering bertemu dengan banyak sekali orang. Bersinggungan dengan banyak sekali orang. Orang datang dan pergi di kehidupan kita dengan berbagai cara. Sebagian manis, sebagian pahit. Namun gue yakin kita akan menyetujui bahwa kalau kita yang jadi 'orang yang datang dan pergi' itu, kita pasti ingin punya kesan baik.
Baru-baru ini misi gue bertambah dalam hal gaul-bergaul ini. Gue pingin melakukan sesuatu yang lebih. Bukan lagi hanya sebatas membina hubungan baik, bukan lagi sebatas hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan, anyway that's what friends are for, kan?) tetapi berkembang menjadi 'gue pingin membawa pengaruh positif dalam kehidupan orang ini'. Membawa perubahan-perubahan baik dalam hidup seseorang yang gue temui. Menjadi berkat dan saluran berkat bagi seseorang yang gue temui.
Klise?
Mungkin. Yang gue ingin sampaikan sebetulnya lebih dari ini. Tuhan ngasi gue kesempatan untuk bertemu orang-orang. Gue pingin sebaik-baiknya menggunakan kesempatan itu untuk membawa kebaikan bagi orang-orang tersebut. Dipakai Tuhan untuk menyalurkan berkatNya dan damai sejahteraNya.
Sounds wonderful, isn't it? Jadi, mari kita sama-sama berlomba menjadi pembawa kebaikan bagi orang-orang sekitar kita.
Gue akan sangat terberkati dengan menjadi pembawa berkat.
I don't need any payment, I already have my return :)
Monday, July 14, 2008
Ada masanya..
Ya, memang. Untuk segala sesuatu ada masanya. Tidak perlu kuatir, tidak perlu galau, tidak perlu takut. Yang terpenting adalah selalu berserah diri dan percaya pada pimpinanNya, pada pendampinganNya. Tetap setia dan tekun, penuh pengharapan. Akan ada masa-masa yang baik, akan ada juga masa-masa yang tidak terlalu baik. Namun satu hal yang pasti, Tuhan akan menjadikan segala sesuatunya menjadi yang terbaik untuk kita.
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3: 1). Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Pengkhotbah 3: 4). Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkhotbah 3: 11). Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya (Pengkhotbah 7: 14).
Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk (Ayub 2: 10)?
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan (Yesaya 41: 10)."
Jadi,
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4: 6).
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3: 1). Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Pengkhotbah 3: 4). Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkhotbah 3: 11). Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya (Pengkhotbah 7: 14).
Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk (Ayub 2: 10)?
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan (Yesaya 41: 10)."
Jadi,
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4: 6).
Sunday, June 22, 2008
Lamunan
Salah satu lamunan yang paling gue gemari adalah membayangkan apa jadinya seandainya gue bukan gue sekarang ini. Apa jadinya kalau nama gue bukan Joyce, gue bukan terlahir sebagai bungsu dari dua bersaudara, gue bukan berdarah Batak-Jawa-Sunda, gue bukan Sarjana Ekonomi, gue ga lahir di Solo, bukan pada tahun 1981, gue bukan alumni Unpar, bukan alumni PSM Unpar (sebenernya gue masih anggota, mengingat keanggotaan di PSM Unpar bersifat seumur hidup), bukan orang Indonesia, dan sejuta 'bukan' lainnya.
Setelah gue coba mengingat-ingat, entah kapan gue mulai sering membayangkan hal ini. Mungkin karena gue suka traveling, gue suka melamunkan bahwa gue penduduk tempat dimana gue menginjakkan kaki pada saat itu.
Hanya andai-andai:
Gimana kalau seandainya gue terlahir dengan ras bule di bagian dunia yang sub-tropis? Misalnya di Australia. Mungkin saat ini gue udah menyandang gelar Master dari Monash University. Pengusaha wanita muda yang sukses, tinggal di apartemen kelas atas di tengah kota. Atau mungkin gue udah menikah, tinggal di rumah yang halamannya hijau luas, dengan dua atau tiga anak yang lucu-lucu. Atau mungkin gue bisa main piano! Atau mungkin gue punya profesi traveller yang pergi ke mana-mana tapi dibayar. Mungkin gue nyanyi-nyanyi juga seperti sekarang, bahkan ikut lomba dan bersaing dengan PSM Unpar! Dan sejuta andai-andai lainnya.
Memang, andai-andai akan selalu indah. Ga mungkin banget mengandaikan yang jelek-jelek, apalagi mengenai diri sendiri.
Tapi kemudian gue sadar.. Ada tujuannya gue diciptakan Tuhan seperti ini. Mungkin gue adalah alatNya, diutus olehNya di Indonesia ini, di lingkungan rumah gue di Percetakan Negara, di tempat-tempat yang gue singgahi. Tuhan menciptakan gue terlahir dengan nama Batak, darah Jawa, pipi tembem, lulusan FE Unpar yang kuliahnya 7 tahun (gue tidak menyesal lho), anggota PSM (yang bahkan saat ini gue ga bisa lagi ikut jalan-jalan ke Eropa), dua bersaudara, lahir di Solo tahun 1981, kecil di Bandung dan sekarang mencari hidup di Jakarta,...dan sejuta hal lainnya yang terjadi atas diri gue. Baik maupun buruk. Suka maupun duka. Tawa maupun airmata.
Gue sangat bersyukur, intinya. Kalau mau diterusin, list di atas ga akan muat di ratusan posting sekalipun. Segala perkara yang terjadi dalam hidup gue, menyenangkan atau tidak, mudah atau sulit, semuanya dikasih Tuhan untuk membentuk gue menjadi seperti sekarang ini, dan proyekNya ini belum selesai...
Setelah gue coba mengingat-ingat, entah kapan gue mulai sering membayangkan hal ini. Mungkin karena gue suka traveling, gue suka melamunkan bahwa gue penduduk tempat dimana gue menginjakkan kaki pada saat itu.
Hanya andai-andai:
Gimana kalau seandainya gue terlahir dengan ras bule di bagian dunia yang sub-tropis? Misalnya di Australia. Mungkin saat ini gue udah menyandang gelar Master dari Monash University. Pengusaha wanita muda yang sukses, tinggal di apartemen kelas atas di tengah kota. Atau mungkin gue udah menikah, tinggal di rumah yang halamannya hijau luas, dengan dua atau tiga anak yang lucu-lucu. Atau mungkin gue bisa main piano! Atau mungkin gue punya profesi traveller yang pergi ke mana-mana tapi dibayar. Mungkin gue nyanyi-nyanyi juga seperti sekarang, bahkan ikut lomba dan bersaing dengan PSM Unpar! Dan sejuta andai-andai lainnya.
Memang, andai-andai akan selalu indah. Ga mungkin banget mengandaikan yang jelek-jelek, apalagi mengenai diri sendiri.
Tapi kemudian gue sadar.. Ada tujuannya gue diciptakan Tuhan seperti ini. Mungkin gue adalah alatNya, diutus olehNya di Indonesia ini, di lingkungan rumah gue di Percetakan Negara, di tempat-tempat yang gue singgahi. Tuhan menciptakan gue terlahir dengan nama Batak, darah Jawa, pipi tembem, lulusan FE Unpar yang kuliahnya 7 tahun (gue tidak menyesal lho), anggota PSM (yang bahkan saat ini gue ga bisa lagi ikut jalan-jalan ke Eropa), dua bersaudara, lahir di Solo tahun 1981, kecil di Bandung dan sekarang mencari hidup di Jakarta,...dan sejuta hal lainnya yang terjadi atas diri gue. Baik maupun buruk. Suka maupun duka. Tawa maupun airmata.
Gue sangat bersyukur, intinya. Kalau mau diterusin, list di atas ga akan muat di ratusan posting sekalipun. Segala perkara yang terjadi dalam hidup gue, menyenangkan atau tidak, mudah atau sulit, semuanya dikasih Tuhan untuk membentuk gue menjadi seperti sekarang ini, dan proyekNya ini belum selesai...
Friday, April 25, 2008
Always there..
Now I'm feeling so ashame because recently I think that few of them are way too busy we can't share our stories. I was wrong. I was completely wrong. The fact is they are always there; I'm the one who wasn't there. And it slaps me. More over, they think about me, my feelings, my doubt. They considered it all for me, to the smallest part.
The fact is, they knew about it from the beginning, even before I knew. They knew the real fact, while I only knew the rumours. Not that I regret that I'm the last one to know, it's just that it hits me..again.
And they hide it from me.
The first thing popped in my mind is: 'How could you guys?? I can't believe you didn't tell me on the first place.. How could you be so mean?..' and so on, and so on.
Ternyata?
It's a super-sensitive things that they afraid I would be broken -- really broken -- if they tell me the truth right away back then. They were so afraid it would hurt my feelings very much. At one point they wanted to tell me -- for my good sake -- but in the meantime, for my own good, they didn't want to tell. Either way, it would change my whole life. And they were really considering it. At the end they decided not to tell, hoping that I would really think about it. If I decide to fight, they will support; the same thing if I decide to leave. Mereka mendukung gue jauh sebelum gue tahu. Tanpa gue sadari samasekali.
They encouraged me (back then I would say they forced me) to take the step soon.. Whether I would fight or not. At that time, I angrily thought that the status was on me and him to decide, but now I know that they were encouraging me to decide so I can move on with my life, jalan manapun yang gue ambil. Pertimbangannya, jika setelah menjalani waktu lama and I decide to keep fighting, it would be good (which is now I'm in a happily and blessed relationship with this person), thanks to God. Lah kalo sebaliknya? Setelah nunggu lama2 ternyata malah 'bubar'? They knew I would be more than broken.
Jadi kenapa akhir2 ini gue ragu atas mereka?
God gives me them, friends which I really can count on. They're blessing. They're angels. I believe that God speaks to me through them. God appoints them to be my friends. To surround me. Bukan sekedar kebetulan.
Gue semakin yakin bahwa Dia yang menentukan semua waktunya. He holds the time, He planned it amazingly perfect, dan tidak sembarangan Dia menjatuhkan waktu. He gave me time so He can prepare me to face and hear the truth, dan temen2 gue ini adalah salah satu caraNya memperkuat kenyataan itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)