Hari ini gue bersedih untuk seorang teman.
Berkali-kali dia punya kesempatan, dan ga bisa dibilang bahwa dia tidak menggunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya ataupun tanpa rasa bersyukur, namun kesempatan itu hampir selalu terenggut darinya di kala semuanya tinggal sejauh jangkauan tangan. Yang berarti, benar-benar tinggal di depan mata, dan berlangsung justru dalam menit-menit terakhir.
Sekarang terulang kembali. Kesempatan berharga yang dimilikinya, lagi-lagi tidak sampai ke tangannya. Hanya dalam hitungan hari, kurang dalam satu minggu saja.
Kegagalan?
Dia tidak percaya adanya kegagalan. Menurutnya semuanya adalah 'tertunda'. Terus terang, gue sangat kagum dengannya. Pasti perasaannya remuk redam, hampir hancur berkeping-keping, namun dia tetap teguh dan bilang, "Tuhan menjadikan segala sesuatunya baik." Dia percaya bahwa memang Tuhan bilang belum saatnya, dan dia 'dihajar' untuk lebih tekun lagi menanti-nantikan yang terbaik dari Tuhan buat dia. Sangat banyak peluang di saat dia bisa bilang Tuhan tidak adil, dan di sinilah dia diuji. "Dengan semakin beratnya ujian yang harus kita tanggung, berarti kita semakin 'naik kelas', Jo," dia pernah bilang.
"Apa yang gue inginkan belum tentu apa yang gue butuhkan. Cuma Dia yang tahu apa yang paling gue butuhkan, dan itu akan sangat mencukupkan gue," katanya. Ini bukan doa yang tidak terjawab; dijawab, namun jawabanNya adalah, "Belum."
Peristiwa semacam ini pasti pernah kita alami. Penolakan, penundaan. Panen yang kurang berhasil, kalau bahasanya Max Lucado. Namun gue pribadi 'melihat Tuhan' melalui teman yang satu ini, dimana dia memilih untuk terus bersyukur dalam segala hal, di saat banyak sekali peluangnya untuk marah dan berbalik. Gue bertekad untuk bersikap seperti dia di kala hal seperti itu mendatangi gue.
Gue mau bilang apa? Tuhan itu baik..
dreams, hopes, faiths, happiness, excitements, sadness, fears, thoughts, inspirations, hates, likes, interests, passions, secrets.
Showing posts with label inspiration. Show all posts
Showing posts with label inspiration. Show all posts
Sunday, October 26, 2008
Thursday, September 4, 2008
Dari khotbah Joel Osteen
~Jangan melawan angin yang bertiup ke arahmu. Ikuti saja, karena angin itu bisa menjadi angin berkat yang membawamu ke tempat yang lebih baik.
~Tuhan mengguncang anak-anakNya, seperti burung rajawali yang mengguncang sarangnya dan memaksa anaknya belajar menggunakan sayap. Semuanya supaya kita semakin bertumbuh dan lebih kuat.
~Musim berubah. Orang berubah. Bukalah diri untuk perubahan-perubahan, dan diperbaharui Tuhan untuk menjadi lebih baik lagi.
~Get out from your comfort zone! Atau kita tidak akan berkembang. Ada yang lebih baik di luar sana!
~Tuhan membuka pintu dengan caraNya yang ajaib, dan dengan ajaib pula Dia menutup pintu. Tuhan menutup satu pintu untuk membawa kita ke pintu berikutnya. Percaya saja, pasti dibaliknya banyak rancangan indah Tuhan menanti kita.
~Tuhan tidak akan mengijinkan masalah mendatangi kita, kecuali itu akan menjadikan kita semakin kuat, semakin bertumbuh, semakin dibangun di dalamNya.
~Ada masa-masa lalu menyakitkan yang begitu kelam. Tapi semua sudah berlalu. Itu sudah lewat! Musimnya sudah lewat! Tuhan sudah mengampuni dan sekarang saatnya untuk maju. Jangan kembali ke sana. Tuhan sudah menutup pintu itu.
(Dikutip dari salah satu khotbah Joel Osteen tentang perubahan.
Kurang lebih demikian yang dia katakan.. gue lupa kalimat persisnya, tapi itu poin-poin pentingnya. Intinya: Menerima perubahan. Perubahan itu baik, apalagi yang dari Tuhan sendiri. Gbu.)
~Tuhan mengguncang anak-anakNya, seperti burung rajawali yang mengguncang sarangnya dan memaksa anaknya belajar menggunakan sayap. Semuanya supaya kita semakin bertumbuh dan lebih kuat.
~Musim berubah. Orang berubah. Bukalah diri untuk perubahan-perubahan, dan diperbaharui Tuhan untuk menjadi lebih baik lagi.
~Get out from your comfort zone! Atau kita tidak akan berkembang. Ada yang lebih baik di luar sana!
~Tuhan membuka pintu dengan caraNya yang ajaib, dan dengan ajaib pula Dia menutup pintu. Tuhan menutup satu pintu untuk membawa kita ke pintu berikutnya. Percaya saja, pasti dibaliknya banyak rancangan indah Tuhan menanti kita.
~Tuhan tidak akan mengijinkan masalah mendatangi kita, kecuali itu akan menjadikan kita semakin kuat, semakin bertumbuh, semakin dibangun di dalamNya.
~Ada masa-masa lalu menyakitkan yang begitu kelam. Tapi semua sudah berlalu. Itu sudah lewat! Musimnya sudah lewat! Tuhan sudah mengampuni dan sekarang saatnya untuk maju. Jangan kembali ke sana. Tuhan sudah menutup pintu itu.
(Dikutip dari salah satu khotbah Joel Osteen tentang perubahan.
Kurang lebih demikian yang dia katakan.. gue lupa kalimat persisnya, tapi itu poin-poin pentingnya. Intinya: Menerima perubahan. Perubahan itu baik, apalagi yang dari Tuhan sendiri. Gbu.)
Saturday, June 28, 2008
Few inspirational quotes
Master Ooguay says, "You just need to believe."
I like this movie. I've watched it twice, and still couldn't resist Po's charms :) A kind of movie I will never get bored to watch again and again. It is funny I cannot stop laughing, but also full of inspirational and wise quotes.
Wednesday, June 25, 2008
Menanti-nanti..
Dalam masa penantian akan sesuatu, pernahkah disadari bahwa ada hal positif lain yang bisa ditemukan selain belajar sabar dan belajar untuk terus memupuk pengharapan? Gue baru menemukannya baru-baru ini. Sesuatu yang cukup sulit untuk ditemukan, namun ketika menemukannya, sangat membantu mem-'boosting' harapan, dan bisa bikin makin semangat.
Hal positif lain itu adalah bahwa yang akan dicapai itu justru semakin dekat, seiring dengan berjalannya waktu. Tujuan itu bukanlah sesuatu yang justru akan makin jauh seiring dengan semakin majunya kita.
Pengalaman dari satu interview ke interview lainnya, di satu sisi cukup membuat gue hampir putus asa. Bukan menyerah. Putus asa adalah ga tahu mau melakukan apa lagi, sementara menyerah adalah jatuh ke pihak yang berlawanan. Call me stupid, tapi gue samasekali ga tahu kalau menyerah dalam nyari kerjaan, mau menyerah ke mana gue? Lebih bagus kalo sekalian merugikan hidup, tapi dalam hal ini menyerah berarti berada dalam keadaan stagnan. Ga ke arah positif, dan ga juga ke arah negatif. Jadi, daripada ga jelas, sementara pilihan yang tersedia cuma dua antara mau terus berjuang dan menang atau yang ga jelas tadi, mendingan terus berjuang, betul? Anyway. Permainan psikologis kata-kata.
Di sisi lain, gue percaya ada satu tempat yang terbaik bagi gue dan waktu terbaik yang udah dijadwalkanNya buat gue. Yang perlu gue lakukan adalah terus berharap, terus berjuang, terus semangat. Dan di sinilah gue menemukan hal positif itu, bahwa sebenernya gue semakin mendekat ke 'situ'. Misalkan ada patokan 10 meter. Kemajuan tiap 1 meter melambangkan satu demi satu interview yang dilalui. Maju semeter, sisa sembilan. Maju tiga, sisa tujuh. Pada yang kesepuluh.. Tadaaaa!
Siapa yang tidak akan jadi bangkit semangatnya kalau tahu bahwa tujuannya semakin mendekat?
Hal positif lain itu adalah bahwa yang akan dicapai itu justru semakin dekat, seiring dengan berjalannya waktu. Tujuan itu bukanlah sesuatu yang justru akan makin jauh seiring dengan semakin majunya kita.
Pengalaman dari satu interview ke interview lainnya, di satu sisi cukup membuat gue hampir putus asa. Bukan menyerah. Putus asa adalah ga tahu mau melakukan apa lagi, sementara menyerah adalah jatuh ke pihak yang berlawanan. Call me stupid, tapi gue samasekali ga tahu kalau menyerah dalam nyari kerjaan, mau menyerah ke mana gue? Lebih bagus kalo sekalian merugikan hidup, tapi dalam hal ini menyerah berarti berada dalam keadaan stagnan. Ga ke arah positif, dan ga juga ke arah negatif. Jadi, daripada ga jelas, sementara pilihan yang tersedia cuma dua antara mau terus berjuang dan menang atau yang ga jelas tadi, mendingan terus berjuang, betul? Anyway. Permainan psikologis kata-kata.
Di sisi lain, gue percaya ada satu tempat yang terbaik bagi gue dan waktu terbaik yang udah dijadwalkanNya buat gue. Yang perlu gue lakukan adalah terus berharap, terus berjuang, terus semangat. Dan di sinilah gue menemukan hal positif itu, bahwa sebenernya gue semakin mendekat ke 'situ'. Misalkan ada patokan 10 meter. Kemajuan tiap 1 meter melambangkan satu demi satu interview yang dilalui. Maju semeter, sisa sembilan. Maju tiga, sisa tujuh. Pada yang kesepuluh.. Tadaaaa!
Siapa yang tidak akan jadi bangkit semangatnya kalau tahu bahwa tujuannya semakin mendekat?
Sunday, June 1, 2008
..I will sing..
Gue inget jaman masih aktif-aktifnya di PSM, jauh sebelum 'sense of belonging' gue memudar karena satu dan lain hal - sepertinya fakta ini kurang penting -, kita pernah vocalizing dengan melagukan,
"I will sing, I will sing a song unto The Lord.."
sampai selesai satu rangkaian, trus naik setengah, trus naik lagi setengah.. Yah itulah intinya vocalizing, bukan?
Anyway..
Tadi pagi di gereja gue tersentuh saat seorang nenek melantunkan pujian sebagai kesaksian, solo, dengan irama keroncong. Umurnya kira-kira 70an. Beliau menyanyikannya begitu manis, suaranya lembut, dan yang membuat gue terkagum-kagum, tidak ada satupun not yang meleset, dan tidak sekalipun beliau kehilangan tempo. Padahal masih pagi. Ga ada yang kurang tinggi, kurang rendah, atau dengan kata lain pitchnya terjaga bagus sampai akhir lagu. Padahal yang kita perhatikan selama ini, orang-orang tua kalau nyanyi pitchnya udah mulai kemana-mana. Si nenek ini sepertinya sedari masa mudanya udah sering nyanyi, walaupun beliau bukan penyanyi. Luar biasa bahwa Tuhan masih ngasih semua itu buat si nenek, walaupun rambutnya udah putih semua.
Dan tiba-tiba terlintas di benak gue..
"Apakah gue sampai nanti setua itu masih akan tetap bernyanyi?"
"I will sing, I will sing a song unto The Lord.."
sampai selesai satu rangkaian, trus naik setengah, trus naik lagi setengah.. Yah itulah intinya vocalizing, bukan?
Anyway..
Tadi pagi di gereja gue tersentuh saat seorang nenek melantunkan pujian sebagai kesaksian, solo, dengan irama keroncong. Umurnya kira-kira 70an. Beliau menyanyikannya begitu manis, suaranya lembut, dan yang membuat gue terkagum-kagum, tidak ada satupun not yang meleset, dan tidak sekalipun beliau kehilangan tempo. Padahal masih pagi. Ga ada yang kurang tinggi, kurang rendah, atau dengan kata lain pitchnya terjaga bagus sampai akhir lagu. Padahal yang kita perhatikan selama ini, orang-orang tua kalau nyanyi pitchnya udah mulai kemana-mana. Si nenek ini sepertinya sedari masa mudanya udah sering nyanyi, walaupun beliau bukan penyanyi. Luar biasa bahwa Tuhan masih ngasih semua itu buat si nenek, walaupun rambutnya udah putih semua.
Dan tiba-tiba terlintas di benak gue..
"Apakah gue sampai nanti setua itu masih akan tetap bernyanyi?"
Monday, May 19, 2008
Food and taste
During my delicious lunch with my sister and her friend at The Pacific Place yesterday, I realized the main reason why food makes people like to eat (and becomes fat) is on tastes. Not its nutrition, not also the varied color, nor the shape. The main reason is the taste. Without the taste, food will no longer become an interesting and attractive object. It’s a lie if someone says his/her main reason in consuming certain food is the rich nutrition it has. No matter how high calcium it has, high vitamins, but if the food has no taste, or at least tastes badly, you will not eat that, right?
The doubled mistakes that junk food has is on its good taste and its (very) low nutrition. On the other hand, extreme ways make healthy food also has doubled mistakes; its high nutrition and its not-too-good-taste. Why can’t each kind of those foods be light-hearted and not to be selfish and egocentric? They can meet each other in the middle. Okay, maybe it’s not as easy as it sounds.
The doubled mistakes that junk food has is on its good taste and its (very) low nutrition. On the other hand, extreme ways make healthy food also has doubled mistakes; its high nutrition and its not-too-good-taste. Why can’t each kind of those foods be light-hearted and not to be selfish and egocentric? They can meet each other in the middle. Okay, maybe it’s not as easy as it sounds.
Mind if I offer a simpler way? The junk foods to raise a little of its nutrition and to decrease some of the taste, while the healthy food to be a bit more ‘naughty’ by increasing its taste and not being always in a ‘saintly’ nutrition.
Then, I suppose they will make a brighter culinary world for all of us people, right? And a happier people, at least happier in their tongue and their digestive system.
So, back again to my point, what makes people fat is the taste the food has in it. People tend to double – some even triple – their eating portion because of the taste. Not because they are hungry; it’s the good taste that makes people hungry, not the opposite. If hungry is the reason, then the taste makes the hungry thing even doubled.
The world of culinary is turning around the taste. I think everybody can agree with that.
How can we relate the story with our life as human being? Easy. Easy in saying it. Look at the blue sentence before. Be light-hearted, not to be selfish and egocentric on each other, which mean to understand, do empathic, and no want to dominate. A brighter culinary world; a peace in our life. The taste is ‘love’ from The Great Chef Himself. More over, can we be the taste itself?
Difficult in executing.
Then, I suppose they will make a brighter culinary world for all of us people, right? And a happier people, at least happier in their tongue and their digestive system.
So, back again to my point, what makes people fat is the taste the food has in it. People tend to double – some even triple – their eating portion because of the taste. Not because they are hungry; it’s the good taste that makes people hungry, not the opposite. If hungry is the reason, then the taste makes the hungry thing even doubled.
The world of culinary is turning around the taste. I think everybody can agree with that.
How can we relate the story with our life as human being? Easy. Easy in saying it. Look at the blue sentence before. Be light-hearted, not to be selfish and egocentric on each other, which mean to understand, do empathic, and no want to dominate. A brighter culinary world; a peace in our life. The taste is ‘love’ from The Great Chef Himself. More over, can we be the taste itself?
Difficult in executing.
Friday, May 2, 2008
Facing your giants
Buku ini inspirasional banget buat gue.
Setelah kemudian gue akhirnya membeli beberapa lagi buku karya Max Lucado ini, yang mana kemudian gue koleksi, sedikit banyak gue bisa melihat apa yang hendak disampaikan sama dia. Buku-bukunya terutama memang ditujukan untuk orang-orang yang mengalami pencobaan, pergumulan batin dan iman, baik yang berasal dari luar dirinya maupun dari dalam dirinya sendiri. Itulah 'raksasa-raksasa' yang dimaksud.
Buku ini penuh penghiburan, selain petunjuk-petunjuk yang dipedomani oleh Alkitab tentang gimana selanjutnya kita mau berbuat, apa yang bisa kita lakukan, what next. Gimana caranya kita mau move on, berdamai dengan diri sendiri, keluar dari kubangan masa lalu dan dosa. Buku ini juga menulis berita pengampunan dari Dia, anugerah dan berkat yang berlipat-lipat yang membanjiri kita yang sering tidak kita sadari dan syukuri. Yang penting kita mau percaya dan berserah, membiarkan Dia membentuk kita, mengukir, memahat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Untuk yang merasa tidak sedang dalam pencobaan, kalimat-kalimat, ayat-ayat dan ilustrasi-ilustrasi yang dituangkan dalam buku ini bermaksud mengajar, mengantisipasi, memberi petunjuk, membangun iman percaya, atau bahkan tidak disangka-sangka, teguran bagi yang tidak menyadari. Atau juga, seperti yang seringkali gue alamin, tiba-tiba aja, "Oh! Ini ternyata. Ini jawabannya, jawaban dari pertanyaan gue selama ini, respon Dia dari doa gue selama ini."
Hebat bukan, cara Dia bicara melalui buku, teman, keadaan, apapun? :)
Sunday, March 23, 2008
Paskah dan berkat
Seperti yang biasa dilakukan di tahun2 sebelumnya semenjak udah melewati sekolah minggu dan memasuki tahapan beribadah di gereja, gue selalu mengikuti kebaktian Paskah subuh. Kebaktian Paskah subuh ini mulainya jam 5 pagi, mengikuti apa yang Alkitab bilang bahwa pada early in the morning-lah Maria menemukan kubur terbuka dan kosong.
Untuk manusia yang susah tidur seperti gue, entah karena insomnia atau memang kelelawar alias 'kalong' yang selalu berkelana malam hari, bener2 perjuangan mau bangun jam setengah 4 untuk pergi gereja jam 5. Tapi kemudian gue tertohok sendiri kala menyadari bahwa Dia mau 'bangun' dan jam 5 -pokoknya subuh- udah pergi dari kuburNya untuk menyatakan diri dan memperlihatkan bahwa Dia sudah berkuasa atas dosa dan maut demi menyelamatkan manusia, termasuk gue! Jadi menurut gue ga ada alasan kenapa gue ga bangun subuh2 untuk merayakan kebangkitan Dia.
Bicara tentang Paskah, jaman masa2 Alkitab dulu dibilang bahwa Paskah bagi orang Israel adalah Hari Raya Roti Tidak Beragi, dan juga perayaan lepasnya Israel dari Mesir. Pada masa Perjanjian Baru, Paskah adalah kemenangan manusia atas maut yang ditandai oleh kebangkitanNya setelah mati disalib.
Gue dari dulu mengimani dan mengamini itu.
Tapi pada Paskah kali ini, pengimanan gue -terimakasih Tuhan- boleh makin teguh, dengan pemahaman yang lebih dalam lagi bahwa dengan mengalahkan kematian, Tuhan berarti mengalahkan hal yang paling ditakuti manusia selama hidup. Ini membawa makna bahwa penderitaan dan cobaan apapun yang kita hadapi, Tuhan tahu rasanya! Dia punya empati dan bisa ngerasain apa yang kita derita karena Dia udah pernah melalui itu semua. Maut aja Dia tahu rasanya, apalagi cobaan2 yg lain. Itulah kenapa Dia akan setia menemani kita melewati berbagai2 cobaan yang kita hadapi selama hidup, asal kitanya juga setia... Toh cobaan2 itu datang supaya kita bisa makin kuat dan makin banyak berkat yang kita terima.
More over, di masa2 Paskah kali ini gue dimampukan untuk percaya itu melalui contoh nyata yang ada di depan mata gue, yang masih berlangsung. Cobaan dan penderitaan mungkin belum lewat, tapi gue boleh punya pengharapan bahwa ini pasti akan lewat. Seberat apapun beban yang ditanggung, sehancur apapun perasaan, seduka apapun hidup, sebanyak apapun kerikil dan batu tajam yang merobek2 kaki kita, sesakit apapun luka2 itu, sederas apapun airmata yang tertumpah, percayalah bahwa Dia akan menemani kita dan -berdasarkan buku The Secret yang mengajar sikap positif, itupun diambil dari Alkitab- ini semua akan lewat.
Paskah kali ini juga gue boleh bersyukur bahwa gue boleh jadi berkat.. Paling tidak untuk satu orang. Senang rasanya bisa jadi berkat. Sekecil apapun yang gue lakukan, menjadi berkat. Gue udah menjadi terberkati juga dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. In fact, Tuhan juga memberkati gue dengan adanya dia di hidup gue. Mgkn melalui jalan inilah gue boleh makin beriman. Gue 'dipaksa' untuk berdoa buat dia, yg membuat gue lebih rajin berdoa dan mendoakan apapun, untuk lebih rajin baca renungan harian, makin percaya lagi. Dia adalah berkat buat gue, seperti gue adalah berkat buat dia.
Semoga kita semua semakin bertumbuh dalam iman dan percaya, dan boleh lebih dibangun lagi.
Happy Easter! God bless you!
Friday, March 14, 2008
Keberanian
"I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It's when you know you're licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what. You rarely win, but sometimes you do."
Kutipan ini diambil dari novel 'To Kill A Mockingbird' karya Harper Lee yang dipublikasiin 1960. Novel ini menang perhargaan Pulitzer, dan mengangkat isu rasisme di Amerika.
Anyway, gue terkesan dengan kutipan ini, yang kurang lebih berkata bahwa keberanian adalah di kala kita tahu bahwa kita mungkin akan kalah bahkan sebelum kita memulai, tapi kita tetap memulainya. Sekali waktu gue pernah posting ini di blog dengan judul "Quote of The Day".
Seringkali kita takut untuk melangkah atau melakukan sesuatu hal karena takut berhadapan dengan resiko atau takut gagal. Padahal bisa aja hasilnya sepadan (kalo berhasil, ya. Toh kalo gagal pun berarti kita bisa mengukur kekuatan kita sampe mana dan belajar untuk lebih baik lagi, tul?). Atau bisa juga entah malas, atau takut, keluar dari area nyaman kita. Takut keadaan di luar sana malah lebih buruk. Takut keadaan kita ga seenak sekarang, takut orang2nya ga enak, malas untuk memulai lagi, malas untuk beradaptasi lagi dengan hal baru, takut dengan kemampuan kita sendiri alias muncul pertanyaan2 seperti "Aduh, gue bisa ga ya?" atau "Aduh, gue sih ga bisa kayak gitu2!" atau "Aduh, mana ngerti gue dengan hal2 itu?"
Wajar kok kalo muncul pertanyaan2 seperti itu atau kekuatiran2 lainnya di atas itu, tapi beranikah kita untuk terus maju, melawannya dan menjawab pertanyaan2 itu, bukannya mentok sampe sebatas pertanyaan itu aja?
Subscribe to:
Posts (Atom)