Showing posts with label daily life. Show all posts
Showing posts with label daily life. Show all posts

Thursday, August 27, 2009

Nyetir dan nyetir

Setelah gue ngelihat tayangan semalam di tv tentang mobil nabrak kuda, gue berpikir bahwa kayaknya orang Indonesia kalau soal nyetir lebih jago. Baca: saking ga pake aturannya, nyetirnya jadi pintar. Hahaha.. Soalnya, sebetulnya mobilnya ga melaju terlalu kencang kok, dan kudanya jelas-jelas ada di tengah jalan, emang si supirnya kaga lihat tuh kuda?

Bicara soal menyetir mobil, sejujurnya gue ga tahu lagi negeri selain Indonesia dimana orang bisa dilegalkan punya SIM tanpa ujian. Orang-orang di Indonesia yang nyetir mobil bisa nyetir mobil tuh dengan belajar sendiri, belajar langsung di arena 'peperangan', betul-betul model nyetir yang naluriah, insting. Bisa ngebut sengebut-ngebutnya dan bisa mendadak ngerem tanpa mencelakakan siapa pun (semoga demikian) dan tetap berhati-hati. Bisa ngambil jalur orang seenaknya (toh mobil di depan masih jauh) dan bisa kembali ke jalur semula setelah nyusul mobil (tanpa kesulitan, cuma kalau ekstrim sih paling deg-degan dikit).

Gue dengan sombong akan mengakui bahwa gue adalah supir yang cukup handal, canggih mungkin, apalagi didikannya di Bandung, yang notabene rebutan jalan ama angkot yang brutal. Gue memacu 160 km/jam di jalan tol (belum kesampaian lebih dari itu), melanggar aturan max. 100 km/jam, menyabot bahu jalan kalau macet, bisa pindah langsung dari lajur kiri ke paling kanan. Bahkan ada istilah gue "lampunya merah muda", alias menerobos lampu merah yang baru saja berubah merah. Bisa juga sambil terima telepon, bahkan texting alias sms! Hahaha..

Gue jadi menyimpulkan, kalau peristiwa kuda itu misalnya terjadi di Indonesia, mungkin tabrakannya tidak terjadi, saking lihainya (dan tanpa aturannya) orang menyetir di Indonesia.

Hahaha.. Parah juga ya Indonesia..

Wednesday, May 13, 2009

Salah orang..?

Gue lagi senang mengangkat topik tentang hubungan.

Tadi pagi sambil berangkat ke kantor, gue mendengarkan (dan akhirnya jadi menyimak) siaran radio pagi sebuah stasiun radio terkemuka di Jakarta. Semenjak masih ngantor di tempat lama dulu gue selalu mendengar siaran radio ini di jalan.

Topik yang diangkat tadi pagi adalah perempuan yang (nasibnya) sering banget terjebak hubungan asmara dengan pria beristri. Bukan karena kesengajaan, tapi entah kenapa seperti 'kutukan'. Kejam sih kedengarannya, tapi yang gue maksudkan adalah karena itu berulang lagi dan berulang lagi.

Intermezzo: Ini membuat gue teringat salah satu khotbah di gereja, yang mengambil contoh seorang wanita yang selalu terjebak hubungan dengan laki-laki beristri, sampai-sampai dia datang ke pendetanya dan bertanya apa yang salah dengan dirinya.

Kembali lagi ke siaran radio tersebut, gue kaget juga mengetahui ternyata banyak sekali kasus seperti itu. Si radio berhasil mewawancarai beberapa wanita yang mengirim sms untuk berbagi hal itu, tentunya dengan tidak mengekspos nama. Bukan dengan sengaja lho, si perempuan menjalin hubungan dengan laki-laki beristri itu (kalau sengaja mah emang dianya aja yang kegatelan dan sinting), tapi lebih seringnya baru mengetahui bahwa si laki-laki ini beristri setelah beberapa waktu menjalin hubungan. Lalu putus deh. Ngerinya, itu berulang lagi. Si perempuan sampai bilang, "Apa sih yang salah dengan gue, sampai-sampai gue selaluuu aja didekati justru oleh pria beristri.." Itu sampai 2-3 kali berulang, katanya. "Kenapa sih ga cowok single aja yang deketin gue? Kenapa selalu terjebak sama cowok yang udah merid?"

Ada ya ternyata kejadian seperti itu?
Ini jadi seperti 'kutukan'. Tiap kali dekat dengan laki-laki, ternyata laki-laki ini udah beristri. Dan kasus ini bukan cuma terjadi sama 1-2 orang wanita, tapi banyak. Responden yang mengirimkan sms aja ada 50. Bayangin!

Prihatin gue dengan situasi ini.
Kemudian si penyiar bilang bahwa dia pernah bertanya dengan temannya seorang psikolog, kekuatan pikiran bisa turut mempengaruhi hal ini. Sang 'korban' justru harus mensugesti dirinya sendiri supaya ini ga kejadian lagi. Kalau dia memercayai (walau secara tidak sadar) bahwa udah nasibnya selalu didekati laki-laki beristri, maka itu akan terjadi lagi dan itu akan melekat sama dia. Ini akan menimbulkan trauma tersendiri yang bikin si cewek akhirnya ragu untuk membina sebuah hubungan.

Iya kan?
Yah, hanya sebuah pemikiran.

Wednesday, April 29, 2009

Enjoying blind salary


Sembari menulis postingan ini, gue menyeruput secangkir kopi panas. Ini bukan di pagi hari lho, melainkan siang hari, setelah jam makan siang, dimana kekenyangan melanda dan kantuk menyerbu, plus kantor yang dinginnya kayak kulkas. Ketahuan deh gue eating blind salary alias magabut alias makan gaji buta. Hehehe..

Ngomong-ngomong kopi, gue termasuk penyuka kopi. Ga sampai tergila-gila dan maniak sih, tapi gue membutuhkan secangkir kopi paling tidak di pagi hari untuk menjaga mata gue tetap terbuka sampai jam kantor berakhir. Melewati Starbucks atau Coffee Bean, gue selalu senang dengan aroma kopi yang tajam, hangat, menyegarkan. Di masa kecil dahulu, Papa seringkali melarang gue menyeruput sedikit aja kopinya. "Anak kecil kalau minum kopi bikin bodoh," gitu katanya. Tapi gue tetap suka mencuri-curi. Hehehe.. Uenakkk. Bodoh? Urusan belakangan deh. Hahaha..

Itulah kenapa gue terkadang agak bingung dengan teman-teman yang menyatakan ga suka kopi, atau mencium aromanya aja udah ga nyaman. Iya sih, ini soal selera, ga bisa dipaksakan atau dipertanyakan.

Bicara soal kopi, gue punya pengalaman (sebetulnya ini pengalaman seseorang sih) lucu tentang kopi. Pada waktu itu si empunya pengalaman lagi ngantuk berat. Kemudian dia mulai sibuk cari-cari kopi, dan ketemulah suatu tempat untuk ngopi di satu sudut Jakarta (dekat dengan kantor gue sekarang). Dia memesan kopi tubruk. Oke. Dan...plus es batu.

Seketika deretan tempat itu ramai dengan suara tawa orang-orang...
Sebetulnya lucunya biasa aja, tapi kalau ada yang bisa melihat raut mukanya waktu itu (kenyataannya cuma gue yang lihat) niscaya akan tertawa juga :D

Di mana anakku..? Di mana anakku..?

Hari ini (tepatnya, setengah jam yang lalu) teman gue tiba-tiba nanya soal feature baru Google, Google Latitude. Si Google Latitude ini konon kabarnya bisa melacak siapapun yang kita ingin tahu dia ada di mana. Lokasinya di mana. Gue jadi teringat, pernah baca soal ini di majalah (berhubung gue sekarang tenggelam dalam lautan majalah, gue ga tahu tuh majalah apa yang gue baca), cuma waktu itu belum sempat diulik karena sibuk.

Tadi setelah teman gue menyebutnya, gue langsung buka Google. Mau browsing, maksudnya. Pingin tahu sebetulnya dia bisa ngapain aja. Ternyata Google Latitude ini untuk menggunakannya, kita harus punya account Google dulu, yang mana gue ga punya. Kemudian kita bisa invite teman, sahabat, keluarga, kolega, siapapun untuk bergabung dengan Google Latitude.

Yah gitu deh kira-kira. Gue kan ga dibayar oleh Google Latitude untuk mempromokan featurenya :P

Anyway, lucu juga sih feature ini. Buat lucu-lucuan, seru memang. Mungkin penting bagi orang tua yang anaknya suka ngilang-ngilang. Apalagi di jaman serba ga aman seperti sekarang. Untung jaman gue kanak-kanak dahulu ga ada feature gini-ginian. Hehehe..
Fetaure ini mungkin penting juga buat pasangan yang rumah tangganya gonjang-ganjing gara-gara pihak ketiga atau gara-gara salah satunya suka mabuk atau apa. Gosip banget sih ya.

Namun, personally, gue ga mau lokasi gue berada bisa dilacak oleh orang-orang, siapapun itu. Ga bisa kabur dari klien, ga bisa kabur dari atasan, ga bisa kabur dari orang yang ga pingin gue temui. Ngaku ajalah, sering juga kan kita malas, jangankan dihubungi (biar berdering-dering sampai gila tuh telepon, ga bakalan diangkat) ini apalagi diketahui keberadaannya.

Apalagi dengan gebetan, pacar, whatsoever it's named, pada awalnya mungkin asyik menuntaskan rasa penasaran kita dengan mengetahui dia ada di mana. Tapi kalau dibalikin, gue sih ga mau dilacak atau diketahui gue ada di mana. Even oleh gebetan, pacar, kekasih atau apapun itu namanya. Perhatian sih boleh, senang banget malah diperhatiin, tapi kalau sampai dicari lewat Latitude, namanya kelewatan. Berarti dia ga percaya sama gue. Toh gue juga kan ga akan berlaku aneh-aneh atau pergi ke tempat yang aneh-aneh, lagipula biasanya saling kabari ada di mana. Vice versa, seharusnya kita juga belajar percaya dengan dia, kan?

Eits, bukan berarti gue mengalami 'teror' itu ya. Sama sekali ngga. Malah kadangkala percaya banget (kalau 'terlalu percaya' konotasinya jelek), sama-sama saling percaya aja...

That's the point of being in relationship kan? Komunikasi dan saling percaya.
Hehehehe, sedikit jadi ga nyambung.

Hanya berbagi cerita.

Tuesday, October 28, 2008

pelampiasan

Apa yang biasanya dilakukan kalau lagi kesal?

Seiring makin dewasanya gue, pelampiasan gue semakin berganti. Dulu waktu kecil, biasanya gue nangis dan meronta-ronta sampai puas, sampai nyokap datang dan merayu-rayu gue. Hehe.. Gedean dikit, pelampiasan gue mulai anarkis: banting-banting barang. Tentunya pilih-pilih juga, kalau pecah-belah yang gue banting, bisa-bisa gue yang dibanting nyokap. Yaaaah, bantal kek, boneka kek (aduh, kasian juga ya boneka-boneka yang tidak bersalah itu), apa pun yang ga membahayakan siapa pun.

Makin gede lagi, belajar anger-management. Mulai belajar nahan diri, nahan tangan, tapi ga bisa dipungkiri pelampiasannya ke kalimat-kalimat yang gue keluarkan. Ga maki-maki juga sih, apalagi sampai ada kebun binatang. Bisa-bisa bokap yang turun tangan. Bukan main tangan, tapi ngebentak anak bungsunya ini. Gue kemudian belajar untuk milih kata-kata juga. Munculnya? Membentuk pembawaan gue yang suka ngomong tanpa mikir. Sinis dan sarkastis yang jadi kebiasaan, bukan saat marah doang.

Sedikit lebih gede lagi, gue belajar untuk diam kalau marah, dan memilih pelampiasan dengan berjalan kaki. Seiring kelelahan, keringat, tenaga yang dikeluarkan, kekesalan gue pun ikut berkurang.

Gue terus memanage diri, namun ada juga satu masa memalukan dimana gue betul-betul kehilangan kendali, dan berteriak-teriak marah di depan umum. Haduh, ga lagi-lagi deh. Benar-benar ga bisa dibanggakan.

Sekarang gue lebih terkontrol lagi dalam menyikapi kemarahan gue. Walaupun mungkin ga lagi banting-banting barang, ga lagi terlalu sering ngomong sinis, dan berjalan kaki pun semakin jarang gue lakukan, gue masih belajar terus untuk penyikapan yang lebih baik lagi. Kekesalan gue masih sangat terlihat melalui tingkah laku, dan jadinya menularkan kekesalan ke orang lain juga. Gue masih belajar, terus belajar, untuk sabar, ga menenggelamkan diri dalam kekesalan, dan memilih melihat hal-hal baik.

Sunday, October 19, 2008

..dalam gelap..

Di tengah-tengah penyampaian Votum dan Salam dalam kebaktian tadi siang jam 11.00, tiba-tiba listik mati! Dengan sigapnya sang pianis mengambil alih karena organ tentunya mati juga, sehingga lagu pembukaan bisa selesai dinaikkan. Pendeta juga agak lumayan harus teriak untuk menyampaikan salam.

Masalah pertama: Gelap. Apalagi kebaktian diadakan di lantai 2, dan cahaya dari luar terbatas.
Masalah kedua: Panas. Apalagi kebaktian jam 11.00 adalah kebaktian yang paling dipadati jemaat.

Namun di tengah-tengah itu, gue samasekali ga terpikirkan soal itu. Yang pertama kali muncul di otak gue dan membuat gue tersenyum adalah bahwa gue tiba-tiba teringat salah satu pengantar renungan harian sekitar sebulan yang lalu. Ceritanya kurang lebih sama. Pokoknya penerangan kurang, jadi semua tidak terlihat terlalu jelas.

Sang pendeta bingung. Kebaktiannya mau diterusin apa ngga ya?

Salah seorang majelis melihat keraguan si pendeta, kemudian mendekat dan berbisik, "Teruskan saja Pak.. Kami masih bisa melihat Tuhan dalam gelap."

Dan tepat itulah yang gue ingat. Memang, pendeta kami tadi siang tidak memperlihatkan tendensi kebingungan itu, tidak ada majelis yang mendekat dan berbisik, dan kebaktian tetap berlangsung baik. Sang pendeta memimpin kami berdoa supaya dalam gelap dan panas pun kebaktian tetap baik, dan kami tetap bisa memfokuskan pikiran kepada dan dalam Dia.

Tetapi justru mati listrik yang terkesan sepele itulah gue kemudian diingatkan bahwa di tengah-tengah 'kegelapan' dan 'kepanasan' yang sedang berkecamuk di dalam diri, Tuhan selalu bersinar.

Gelap. Kanan? Kiri? Kanan? Kiri? Belok mana nih? Apa jangan-jangan lurus? Maju atau mundur? Adalah pilihan gue untuk 'masih bisa melihat Tuhan dalam gelap', atau tidak.

Saturday, October 4, 2008

Ukuran dan kesempurnaan


Penggaris=pengukur=standar.

Apa ukurannya seseorang itu pintar?
Apa ukurannya seseorang itu baik atau cantik?
Apa ukurannya seseorang itu berpenampilan baik atau buruk, necis atau tidak?
Apa ukurannya seseorang itu rajin?
Apa ukurannya seseorang itu cocok atau tidak cocok dengan kita?
Apa ukurannya seseorang itu punya pembawaan baik atau tidak?
Apa ukurannya seseorang itu ramah, sopan, mingle, atau tidak?
Apa ukurannya seseorang itu religius atau tidak?
Apa ukurannya seseorang itu sukses atau tidak?
Apa ukurannya seseorang itu laki-laki/perempuan yang baik buat kita?

Dan sejuta pertanyaan lainnya tentang “Apa ukurannya seseorang itu..”

Seringkali kita (baca: gue) tidak menyadari bahwa setiap orang diciptakan Tuhan secara unik. Apa yang dimiliki satu orang belum tentu dimiliki orang lain. Kelebihan seseorang di bagian A, kelebihan gue di bagian B. Lalu, tolok ukur yang muncul pun akan berbeda.

Ukuran-ukuran muncul karena pandangan umum, dan pandangan subjektif kita sendiri. Kita suka mematok ukuran atas seseorang karena apa yang kita inginkan atas orang itu. Dan apa yang kita inginkan itu juga seringkali dibentuk oleh pandangan umum. Kita ingin si A begitu, si B begini, kita ga suka kalau si C begitu. Dan biasanya ada kalimat, “Kalau gue sih,…”

Dulu gue sering menyindir teman-teman gue kalau mereka mulai membandingkan sikap dan tingkah seseorang dengan diri mereka sendiri. “Jangan menyamaratakan pendapat orang lain ama pendapat lo!” gitu gue bilang. Namun pada gilirannya gue juga sering harus ‘menampar’ diri sendiri dengan pernyataan itu. Seringkali gue lupa bahwa gue juga banyak kelemahan di sana-sini.

Gue mau memilih untuk belajar menerima orang lain apa adanya, dan belajar untuk melakukan penyesuaian di sana-sini. Jangan kemauan gue aja yang harus dituruti, atau orang yang harus menyesuaikan diri dengan gue, karena dengan demikian gue mematok standar ‘kesempurnaan’ di diri gue. Selain itu, gue juga harus belajar berhati-hati akan apa yang gue inginkan atas diri seseorang: Apakah gue sendiri sudah memenuhi itu?

Tidak mengapa jika menetapkan standar-standar tertentu atas diri kita, tapi jangan sampai kita mematok ukuran-ukuran yang sama atas orang lain.

Tuhan aja yang sempurna, semua standar yang paling sempurna ada dalam Dia. So? Mari kita belajar melakukan kebiasaan yang menumbuhkan karakter-karakterNya yang sempurna itu dalam diri kita, supaya kita makin serupa denganNya. Bukan sama.

Saturday, September 13, 2008

Piyama dan bunga

Apa hubungannya piyama dan bunga?
Buat gue ada. Bukan karena alesan ada gue di tengah-tengahnya.

Gue mulai keranjingan piyama waktu jaman masih awal-awal kuliah dulu (duh, rasanya udah berabad-abad yang lalu). Sampai-sampai waktu gue mau ulangtahun, gue request piyama. Padahal ga pernah-pernahnya gue request kado ulangtahun. Rasanya aneh aja minta sesuatu buat ulangtahun. Buat gue sih prinsipnya apapun dikasih buat gue, gue terima dengan senang hati. Ga dikasih pun ga apa-apa. Gue juga bukan orang yang suka gembar-gembor, "Eh, gue ulangtahun lho, gue ulangtahun lho.." Trus kenapa kalau ulangtahun? Semua orang juga ulangtahun. Ngapain musti pamer? Ngarep dikasih selamat? Ih.. Ngga banget deh. Yang penting kan kita mengucap syukur dikasih tambahan satu umur lagi, selamat sejahtera sampai di umur yang baru.

Kok jadi curhat dan ngomongin ulangtahun sih?

Anyway. Jadi gue mendapatkan piyama pertama gue (sumpah, gue ga pernah punya setelan piyama. Mungkin dulu waktu masih kanak-kanak banget, tapi gue ga inget..) waktu ulangtahun itu. Lupa yang keberapa. Dari katun lembut, krem, ada reda halus di tepinya, gambarnya mobil, kapal, kecil-kecil gitu. Mulai dari situ, gue hobi beli piyama. Ke manapun gue pergi, pasti nyarinya piyama. Heran juga gue dengan harga piyama yang lumayan mahal. Padahal kan cuman buat tidur doang. Trus, kalau cuman buat tidur doang, kenapa gue demen amat ya? Hmm.

Suatu waktu gue buka lemari, dan agak kaget juga. Bukan karena isinya piyama semua dan gue ga sadar. Tapi karena piama gue sekarang semuanya motif bunga-bunga. Padahal gue ga gitu suka dengan motif bunga-bunga, kayaknya kok cewek banget. WOW! Apakah gue berubah jadi perempuan? ;)

Satu piyama favorit gue belinya di Pasar Baru Bandung. Warna putih, berkerah kayak piyama laki, tapi pinggirannya pink dan motifnya bunga-bunga kecil pink. Itu favorit banget. Gue punyanya mungkin sejak sekitar 2004-2005, sampai sekarang masih gue pakai. Udah belel, tipis, pakaian dalam aja sampai keliatan berbayang, karet celananya udah ganti beberapa kali, udah bolong, tetep aja favorit. Kalau perlu, cuci, kering, langsung pakai lagi. Hehehehe..

Piyama ini hebat. Ikut gue jalan-jalan sampai Taipei, trus Hongkong, tahun 2006 jadi saksi kena darah waktu kepala gue ketimpa di Italia, trus sampai Paris. Hehehehe...

Kayaknya kalau udah menyerupai lap dapur baru gue relakan dia.

Sunday, August 31, 2008

Aku dan penghuni rumahku

Mau bilang bahwa rumah gue jorok, bilanglah. Gue kasih kesempatan sebesar-besarnya sekarang.

Gue tahu banget sih, selain nyokap, kakak gue dan gue sendiri, ada juga penghuni-penghuni lain di rumah gue. Wueits, jangan mikir yang serem-serem ya. Ini juga serem sih, tapi mohon dicatat konteks seremnya beda.

Memang, populasi manusia di sini cuma tiga. Satu, sekarang ini. Dengan tega gue ditinggal sendirian di rumah, merana dan sebatang kara, dua manusia lainnya pergi ke Bandung.

Anyway. Jadi melenceng. Nah, sementara gue mengendap, berhibernasi sendirian di kamar dan cuma keluar kalo cari makanan dan kamar mandi, penghuni-penghuni lain bersenang-senang. Dan gue sebel banget. Bukan karena mereka bersenang-senang tanpa ngajak gue, tapi mereka ini bikin ulah.

Satu. Ada kecoa di dalam oven listrik gue. Udah mah ovennya payah, ini ditambah lagi ada kecoa di dalamnya. Mungkin dia mau coba memanggang diri.

Dua. Pas gue ke bak cuci piring di belakang, ada dua ekor cicak. Bukan pacaran lho. Karena kebodohan mereka sendiri, mereka nyemplung ke dalam bak yang licin (walau kering) dan ga bisa keluar lagi. Akibatnya harus gue bikinin jembatan dari sendok kayu supaya mereka bisa keluar.

Tiga. Tikus. Sumpah, tikus. Ga gede sih, tapi tetep ngeselin. Tahu apa yang bikin kesel? Dia wafat dalam posisi cantik yang meringkuk, di kolong meja makan. Mampus deh gue. Masalahnya gue sendirian. Kalo mau nurutin keinginan gue, gue ga mau ngurusin mayat itu. Tapi kalo bukan gue, siapa? Masa mau gue biarin berhari-hari di sana dan mengundang penghuni lainnya ngerubutin dia? Akhirnya dengan mengumpulkan nyali dan berdoa kenceng-kenceng, gue menyodok-nyodok dia pake sodokan sampah, gue masukin kantong kresek dan gue sorong-sorong tuh kantong ke depan biar diangkut tukang sampah besok pagi. Semoga Tuhan mengampuni dia (karena bikin gue panik) dan Tuhan juga maafin gue (karena gue memperlakukan dia dengan kurang hormat, disodok-sodok aja gitu).

Untung ga pake acara ada kalajengking di kamar mandi kakak gue! Kalo ada, lengkaplah sudah..

Thursday, August 28, 2008

Hujan

Tadi sore, Jakarta baru diguyur hujan. Lumayan deras, dan mendungnya udah dimulai sejak pukul setengah lima, yang membuat langit seperti udah jam enam lewat. Sepertinya musim hujan akan dimulai.

Dan hujan pun turun. Setelah ga hujan sekian waktu lamanya, yang paling berkesan buat gue selain bunyinya (dan hujan itu sendiri, tentunya) adalah baunya. Entah kenapa gue senang sekali dengan bau tanah yang baru kena siraman air. Ada sensasi yang muncul waktu menghirup napas dalam-dalam dan mencium bau tanah basah.

Sayangnya, di Jakarta kalau hujan ga terasa terlalu ‘permai’ atau ‘damai’. Di Bandung, kalau hujan udaranya dingin dan menyenangkan. Gue suka berdiri di ruang depan, mandang hujan dari balik jendela. Jalanan yang basah, butiran-butiran air hujan yang meluncur di dedaunan, pohon-pohon mahoni ratusan tahun di pinggir jalan yang ikut menyemarakkan suasana. Sendu, kelabu, namun menyenangkan pada saat yang sama.

Atau berdiri di teras di bawah naungan atap, sedikit kena tempiasan air hujan. ‘Tenggelam’ dan damai dalam mantel hangat tapi tetep ada dingin yang sedikit menyusup, sambil menggenggam secangkir coklat panas yang masih ‘ngebul’. Hmmm..

Semasa kecil di Tawangmangu dahulu, kalau hujan cuacanya lebih dingin lagi. Ya iyalaaaahh, namanya juga di lereng gunung Lawu. Di sini, hujan turun plus kabut tebal. Kalau yang ini judulnya males keluar rumah. Enakan berkumpul sekeluarga di dalam rumah yang hangat, bahkan sampai masang heater saking dinginnya! Kadang-kadang, sesudah hujan reda Papa ngajak kita jalan-jalan dengan mobil ke satu daerah yang agak lebih tinggi lagi tempat kita bisa ngelihat kota Solo terhampar nun jauh di sana, dan waktu kabutnya menghilang,..breathtaking. Kalau hujannya malam hari, yang paling eksotis adalah pemandangan pagi harinya waktu hujan udah berhenti. Rumput bener-bener hijau, wangi, dan basah. Butiran-butiran air bergulir.

Menulis ini bener-bener melontarkan diri gue sendiri ke masa lalu. Beneran, untuk sesaat barusan gue lupa ada di mana, karena nginget-nginget gimana rasanya hujan di sana.

Di Jakarta, hujan ga bikin udara terlalu dingin seperti dua daerah di atas. Cenderung lembab dan berat udaranya. Tapi gue tetep suka berdiri di teras belakang, ternaung canopy, memerhatikan hujan dan tetesannya yang membuat genangan rendah. Selain itu, gue punya kesan mendalam tersendiri tentang hujan di Jakarta. Heart-warming things yang terjadi di kala hujan, dan angan-angan.. Atau menikmati hujan yang menerpa kaca mobil, menyusuri jalanan basah yang penuh lampu warna-warni, ditemani jazz. Gue jadi ga sabar menanti-nantikan musim hujan.

Ada yang mau berbagi pengalaman menyenangkan tentang hujan? :)

Sunday, July 27, 2008

Mimpi


Gue udah ga inget lagi kapan gue tidur tanpa mimpi. Kata temen gue, itu pertanda lagi banyak pikiran. Ga bener-bener tidur. Dan harus diakui, bikin sebel. Udah mah gue orangnya susah tidur alias insomnia, harus pake ditambah bermimpi pula. Bukan gimana-gimana sih, masalahnya mimpi gue tuh aneh-aneh, absurd, ga jelas jalan ceritanya, potong-potong kayak puzzle, dan beberapa bikin kesel. Masa setelah konser udah lewat beberapa hari, bisa aja gue mimpinya dimarah-marahin 'Koko' conductor tersayang :(

Dan banyak sekali mimpi yang kalau diinget-inget lagi, membuat alis gue terangkat dan kening berkerut. Aneh banget, ga masuk akal, dan banyak orang-orang yang udah lama banget gue ga pernah ketemu lagi. Yang lebih aneh lagi, mereka ini ada di dalam scene yang konteksnya samasekali ga ada hubungannya dengan mereka.

Tetapi kemarin untuk pertama kalinya setelah sekian waktu, gue terbangun dan tersenyum. Mimpi yang indah. Menyenangkan. Rasanya begitu nyata, bahkan sampai pada saat gue terbangun, seolah bener-bener terjadi. Memang bukan pertama kalinya gue mimpi bersama-sama dengan seseorang - dan mimpi-mimpi itu juga menyenangkan :) - tapi mimpi yang satu ini betul-betul membuat gue ga bisa berhenti tersenyum..

Senangnya kalau jadi kenyataan :)
Ayo tidurrrrr... Zzzzzz...

Friday, July 18, 2008

Deadline

Few days ago during dinner with friends, we talked and discussed so many things about deadline, what to do about it, how we can manage it, how to reach it, all stuffs related to deadline.

What is a deadline anyway?
Wikipedia says deadline is time limit: general depicts a narrow field of time that some sort of objective or task must be accomplished by. In project management, deadlines are most often associated with milestone goals.

There are many goals we (I) should accomplish within certain period, called deadline. Although sometime it seems too difficult for me to create my own deadline(s) - too many things to be considered and counted as the limit - the deadline still should be made and created, and of course to be obeyed and achieved perfectly.

Keterbatasan

If a man could be two places at one time
I'd be with you
Tomorrow and today
Beside you all the way


Itu adalah sepenggal lirik lagu 'If' yang dipopulerkan grup musik Bread tahun 1971. Lebih dari 30 tahun yang lewat. Tapi bukan itu yang mau gue angkat di postingan ini.

Bait itu mengatakan, kalau saja seorang pria bisa ada di dua tempat berlainan pada satu waktu yang sama, ia akan bersama dengan kekasihnya besok dan hari ini. Mustahil? Yup. Tentu saja.

Di dalam segala keterbatasan kita sebagai manusia, ingin rasanya bisa ada di beberapa tempat pada satu kurun waktu yang sama. Tapi bukan bicarain kloning ya. Bukan juga bicara soal membelah diri seperti amoeba. Mungkin gue terlalu menggeneralisasi dengan menyebut 'kita'. Tapi gue pribadi, ada saat-saat tertentu dimana gue ingin terus bisa bersama seseorang yang gue sayangi, tanpa terpisah jarak, waktu, kota, dan sebagainya. Contohnya kalau dia sedang bersedih, gue ingin bisa ada di sampingnya dan menghibur dia, menyenangkan dia, mendukung dia, namun pada ketika itu gue sedang di luar kota, misalnya.

Apakah pernah disadari bahwa kita memang sedemikian terbatasnya dalam segala hal? Kita dibatasi waktu, jarak, tempat, bahkan dibatasi tubuh kita sendiri. Berbagai dimensi yang ada membatasi kita. Kita terkungkung dalam itu semua. Kadang-kadang itu begitu depresif, membuat kita frustrasi, karena kita ingin melakukan lebih namun tidak bisa. Karena adanya batas-batas tersebut.

Di situlah kita kemudian belajar untuk tidak mengandalkan diri sendiri. Bodoh banget kalau mengandalkan kekuatan sendiri. Jelas-jelas kita begitu terbatasnya, masih keukeuh pula mau ngelakuin hal-hal yang kita ga bisa. Kegagalan adalah akibat yang paling mungkin terjadi. Perlu dicatat, gue bukan bilang orang ga boleh punya percaya diri, lho. Justru harus punya. Tapi yang perlu diingat, kita punya semuanya itu pun adalah pemberian Tuhan. Mintalah supaya kita dimampukan untuk mengelolanya dengan baik.

Di situlah kita kemudian belajar untuk menggantungkan dan menyerahkan dan mengandalkan semuanya pada Tuhan. Kurang ajaib apa lagi Dia? Dia samasekali ga terbatas apa-apa. Apalagi tubuh. Yang buat kita merupakan penghalang besar yang sulit dilalui, buat Dia samasekali ga ada apa-apanya. Dengan satu tiupan kecil napasNya, orang diberi kehidupan. Kalau mau mindahin gunung, hanya dengan ujung jari Ia bisa. Berada dalam seratus tempat dalam satu waktu, tentu mudah banget.

Di situlah kita kemudian belajar untuk percaya pada pendampingan, penyertaan, perlindungan Tuhan. Ia tidak akan membiarkan siapapun celaka, sakit, jatuh.

Itulah kenapa jika gue ingin sekali mendampingi dan menguatkan seseorang yang misalnya sedang bersedih hati atau galau dan gue ga bisa hadir di sana, gue minta Tuhan yang menggantikan gue. Apalagi, penghiburan dan pertolonganNya berlipat-lipat jauh lebih besar daripada apa yang bisa gue berikan seandainya pun gue bisa ada di dua tempat pada satu waktu (ya iyalaaah, justru Dia sumbernya).

Istilah slang gue, titipin aja semuaNya pada Tuhan :)

Wednesday, July 16, 2008

Lagi dan lagi..

Lagi dan lagi. Kayaknya gue ga pernah bosan menuliskan topik ini.

Salah satu hal yang gue sukai adalah ketemu dengan orang-orang baru. Gue suka membangun jaringan atau network, melanjutkan hubungan dari hanya sekedar relasi atau kenalan menjadi seorang teman atau sahabat. Di wawancara-wawancara kerja yang gue jalani, meeting new people, building and maintaining network and relationship adalah selalu menjadi salah satu hal yang gue tonjolkan kalau ditanya apa kelebihan gue.

Dalam kehidupan kita, kita sangat sering bertemu dengan banyak sekali orang. Bersinggungan dengan banyak sekali orang. Orang datang dan pergi di kehidupan kita dengan berbagai cara. Sebagian manis, sebagian pahit. Namun gue yakin kita akan menyetujui bahwa kalau kita yang jadi 'orang yang datang dan pergi' itu, kita pasti ingin punya kesan baik.

Baru-baru ini misi gue bertambah dalam hal gaul-bergaul ini. Gue pingin melakukan sesuatu yang lebih. Bukan lagi hanya sebatas membina hubungan baik, bukan lagi sebatas hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan, anyway that's what friends are for, kan?) tetapi berkembang menjadi 'gue pingin membawa pengaruh positif dalam kehidupan orang ini'. Membawa perubahan-perubahan baik dalam hidup seseorang yang gue temui. Menjadi berkat dan saluran berkat bagi seseorang yang gue temui.

Klise?
Mungkin. Yang gue ingin sampaikan sebetulnya lebih dari ini. Tuhan ngasi gue kesempatan untuk bertemu orang-orang. Gue pingin sebaik-baiknya menggunakan kesempatan itu untuk membawa kebaikan bagi orang-orang tersebut. Dipakai Tuhan untuk menyalurkan berkatNya dan damai sejahteraNya.

Sounds wonderful, isn't it? Jadi, mari kita sama-sama berlomba menjadi pembawa kebaikan bagi orang-orang sekitar kita.

Gue akan sangat terberkati dengan menjadi pembawa berkat.
I don't need any payment, I already have my return :)

Friday, July 11, 2008

Identitas

Annie Braddock, si Nanny di film 'The Nanny Diaries', terpaku di kursi saat wawancara kerja, bingung bagaimana menjawab pertanyaan sederhana, "Who is Annie Braddock?" Sampai akhirnya ia keluar ruangan tanpa bisa menjawab.

Krisis identitas?
Bagaimana mungkin seseorang ga tahu siapa dirinya? Apa dan siapa yang dia lihat sebagai gambaran dirinya, apa yang ingin dia raih? Tujuannya?

Sebagian orang akan berpikiran itu tolol, sebagian orang akan setuju bahwa ada masa-masa di kehidupan mereka dimana mereka mengalami hal yang sama. Bukannya ga tahu apa yang sedang dilakukannya, bukannya ga tahu siapa dirinya, bukannya ga tahu apa yang diinginkannya, namun bahwa kadang-kadang mereka kehilangan pegangan, kehilangan arah, kehilangan aktualisasi diri, itu yang terjadi.

Dua pekerjaan terakhir yang gue peroleh, satu gue tinggal dengan walkout, dan satu lainnya di-walkout setelah selesai training hari pertama. Apakah memang kualifikasi gue cuma cukup untuk jenis kerjaan yang seperti itu? Sementara pekerjaan yang gue inginkan dan harapkan bisa gue raih, entah gimana kabarnya sekarang. Dua minggu genap berlalu hari ini, dan tidak ada kabar. Di satu pihak gue harus tetap semangat dan penuh harapan, namun di lain pihak gue begitu down gara-gara dua pekerjaan itu sehingga gue kehilangan semangat dan jadi malas.

Dalam keseharian, gue menikmati hari-hari bebas dimana gue bisa bangun siang, mandi siang, baca buku seharian di kamar sambil muter CD atau nonton televisi, atau browsing internet berjam-jam, memang, gue sungguh-sungguh berada di tengah-tengah comfort zone yang superstagnan, tetapi ada masanya juga gue menjadi begitu bosan dan ingin melakukan sesuatu yang lebih. Bosan tidak melakukan apa-apa, bosan tidak menghasilkan apa-apa.

Dalam rencana hidup jangka panjang, banyak yang ingin diraih. Untuk itu harus ada semangat, optimisme. Namun ada juga masa-masa dimana gue kuatir gue ga bisa meraihnya satu-persatu dalam tenggat waktu tertentu, hingga semangat itu terkulai. Rasa-rasanya seribu mimpi itu angan-angan muluk belaka.

Dalam mencari hiburan dan berbagi kesenangan, biasanya selalu ada tujuan jelas. Mau ke mana, mau ngapain, mau lihat apa, mau lakukan apa, jam berapa. Tetapi ada masa-masa dimana gue begitu galau dan terganggu oleh hal-hal lain, pikiran-pikiran lain daripada menikmati waktu yang sedang dijalani, sehingga semua rencana jadi berantakan, hiburan dan kesenangan pun hilang. Bingung mau ngapain, bingung mau ke mana. Tidak ada keputusan. Keputusan apa? Pilihan pun ga ada. Membuat pilihan pun sulit rasanya. Malas berpikir. Akhirnya semua jadi terasa dipaksakan. Acara jalan-jalan kali ini tidak begitu menyenangkan. Dan kegundahan sana-sini membuat gue jadi kehilangan cara berpikir dewasa, dan jadi kekanak-kanakkan.

Krisis identitas?
Di saat semua orang udah maju, teman-teman udah sukses atau paling tidak sedang menempuh kuliah lanjutan, rencana menikah, udah menikah, apapun itu terserah, gue masih di sini-sini aja. Stagnan. Stuck. Macet. Mandek. Tidak jelas. Tidak jelas mau ngapain, tidak jelas apa tujuan, jangankan jangka panjang, jangka pendek aja ga jelas, tidak jelas apa yang mau diraih, tidak jelas mau lakukan apa, tidak jelas mau membuat pilihan apa, membawa ke tidak jelas mau memutuskan apa...

Dan segalanya menjadi tidak jelas.

Thursday, June 19, 2008

Efek BBM


Kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu memang dilematis. Di satu sisi, dalam jangka panjang kenaikan itu dimaksudkan untuk mendongkrak atau memperbaiki perekonomian negara. Di sisi lain, kenaikan ini menyusahkan rakyat. Kenaikan harga BBM membuat harga bahan makanan melonjak naik; harga barang-barang secara umum naik, gejala terjadinya inflasi; biaya transportasi naik, juga menjadi penyebab harga barang naik karena ada budget lebih yang dibutuhkan untuk memproses bahan mentah menjadi bahan jadi; titik pertemuan antara budget constraint, income dan spending makin susah didapat – kenapa ya dulu susah banget lulus mata kuliah ini? – dan akibat-akibat lainnya. Tampaknya memang lebih banyak dampak buruknya yang dialami sekarang ini. Belum lagi lay off alias PHK. Berbuntut kemiskinan. Ga ada tabungan. Akhirnya? Vicious circle of poverty.

Efeknya ke gue? Ga kalah banyak. Yang paling kerasa adalah bensin. Wah! Dengan mobil yang pake bensin pertamax, astaga naga deh. Orang sih bisa bilang kan gaji juga ikut dinaikin, tapi hei, gue pengangguran yah. Just for information.

Anyway, bukan itu sebenernya topik yang mau gue angkat, tapi akibat kenaikan itu salah satu penghematan besar-besaran yang gue lakukan adalah dalam hal transportasi secara umum, ongkos Jakarta-Bandung secara khusus. Gila aja, masa travel sekarang Rp70.000? Belum ngitung ongkos ke poolnya lho. Bolak-balik? Kali aja dua. Andaikan seminggu sekali, dan dalam sebulan hampir Rp600.000 hanya untuk travel doang? Belum pengeluaran-pengeluaran yang lain.

Berbekal tekad berhemat, perjalanan gue terakhir kali ke Bandung menurut gue cukup menjaga isi dompet. Berangkat dengan nebeng orang – not hitch hiking, please – dan di Bandung gue ke mana-mana naik angkot. Pulang ke Jakarta, inilah pertama kalinya gue naik kereta api lagi setelah tiga tahun lamanya ga pernah naik kereta lagi. Pertama kalinya melihat jalan tol Cipularang dari kejauhan di atas jembatan Sasak Saat.

Berangkat ke stasiun dengan angkot, nyampe di Jakarta turun di Jatinegara dan pulang naik angkot. Totalnya? Udah include ongkos angkot, Rp40.000 sajah!

Tuesday, May 27, 2008

tiga besar

Gue lagi kesel sama beberapa makhluk hidup lain yang hidup nebeng di rumah gue. Udah mah nebeng, pake bikin susah yang punya rumah. Hari ini top listnya ada 3:

1. Semut. Semut itu ada di mana-mana di setiap jengkal rumah. Nyimpen makanan di lemari, disemutin. Gelas, disemutin. Padahal cuman dipake minum air putih doang! Termos air panas, disemutin. Heran gue. Padahal airnya kan puanasss banget, teteeeep aja tuh semut-semut nyari celah buat masuk ke sana. Emang sih, semut-semutnya sebagian akan tewas mengenaskan karena kebodohan, tapi segitu hanya sebagian kecil dari semua semut-semut yang ada! Plus lagi gue jadi harus ngosongin termosnya karena banyak jenazah di dalemnya! Itu belum apa-apa. Semut-semutnya masuk dispenser! Aaarrrgghhhhh...

2. Nyamuk. Ini juga satu bikin heran. Musim hujan udah lewat lama, pasukan nyamuk malah pesta poranya baru sekarang, di saat hari panas, ga ada genangan air. Sederetan rumah di seberang rumah gue pada masuk rumah sakit karena DB. Parah..

3. Tikus. Gue ga tahu hewan pengerat simbol koruptor (maaf ya teman-temanku yang lahirnya tahun '84 di bawah shio tikus, tapi emang nyebelin banget, maksudnya tikusnya) ini muncul darimana. Nyimpen sesuatu di meja, bisa tahu-tahu ilang. Ayam goreng sepotong bisa ilang. Masa tikus makan ayam? Ckckckck... Dan yang lebih parah lagi, obat gue dua kartu ikut lenyap dibawa tikus! Mau dia apain juga sih tuh obat? Sebel aja. Udah dokternya mahal, obatnya juga mahal, malah ilang dibawa tikus. Gue jadi inget jaman tahun 2003 dulu pas berangkat ke Jerman. Kaus kakinya Berta ilang sebelah sampe detik ini.. Hahaha!

Sebeeeeeeellllll.. Huh..

Friday, May 16, 2008

Tertawa

Barusan gue membaca artikel online di my-newlyfound-favorite-website Kompas Community tentang sepeda motor (sebenernya ini bukan tentang sepeda motornya, sih) dan gue ketawa ngakak.

Dan entah kenapa, gue tiba2 menyadari, wah, udah lama sekali gue ga ketawa seperti ini. Gue bahkan ga inget kapan terakhir kali gue ketawa terbahak dan ngerasain sensasi menggelitik yang memacu gue untuk terus ketawa dan ga bisa berhenti. Kebayang kan, ketawa yang bener2 heboh, sampe keluar air mata, sampe sakit perut, sampe keabisan napas..

Agak ironis, mengingat sebetulnya gue adalah orang yang mudah sekali tergelitik dan ketawa. Hal lucu sekecil apapun, se-ngga penting apapun, bisa bikin gue ketawa. Ketawa itu menyenangkan, memacu semangat gue, mengajarkan gue untuk selalu bisa nemuin segi positif dari segala hal. Di masa sekolah dulu, temen-temen gue mengenal gue sebagai orang yang optimistis karena gue senang ketawa. Bukan ngetawain orang, lho. Itu sih ngga baik. Tapi kalo orang itu dengan senang mau diketawain, ya gue mau banget ngebantu. Hehe.. Ga jarang lho gue diomelin guru karena bukannya belajar, malah ketawa-ketawa. Gue malah sampe pernah jatuh dari kursi gara-gara ketawa. Hahahaha...

Di masa kuliah, temen-temen gue terutama yang seperjuangan di PSM mengenal gue karena ketawa gue. Dulu Ivan pernah bilang, ketawa gue menular. Kalo gue udah ketawa geli, hampir semua yang ada di sekeliling gue ikut-ikut ketawa, walau ga tahu apa yang gue ketawain. Dan dia bilang, gue kalo ketawa ada nadanya. Halahhhhh... Ekstrim bener.. Kalo gue lagi ngumpul-ngumpul di dalem sekre dan ketawa, dan pada saat itu ada yang baru dateng, pasti bilang, "Lo ya Jo, ketawa lo tuh kenceng banget.. Kedengeran sampe parkiran depan! Langsung ketahuan ada lo.." Halahhhhh... Ekstrim :D

Secara di PSM kayaknya ga ada orang yang ketawanya ga heboh. Dimanapun kita berkumpul, orang-orang lain sekitar kita pasti keganggu banget. Serasa ruangan milik sendiri. Hehehe...

Di lingkungan tempat kerja gue dulu, di atas, semuanya hobi banget ketawa. Ada satu temen namanya Tyas, dia kompornya. Orangnya lucu banget, tukang ngebanyol, dan dia ga ngapa-ngapain pun kita bisa ketawa. Hehe, sebenernya mungkin gue doang sih. Dan semuanya di atas punya suara ketawa yang gede-gede, dan kadang orang-orang di bawah sampe nanya ada apa sih di atas.

Di kantor bawah, HOAHHHH... Gue cuman ketawa-ketawa di luar kantor sama temen-temen M******* Seperjuangan Team. Tapi itupun seru, walau jumlah kita sedikit banget. Bisa ketawa-ketawa gara-gara salah tempat parkir, nyasar, ga perlu lagi disebut kalo lagi hangout.

Intinya?
Gue kangen ketawa. Gue kangen sampe terbahak-bahak sampe puas.

Thursday, May 15, 2008

Sekarang..

  1. Berbekal laptop kesayangan, menghabiskan waktu di kafe deket rumah, yang bisa ditempuh hanya dengan 7-10 menit jalan kaki sambil menikmati hari yang cerah dan pemandangan pepohonan hijau sepanjang jalan. Intinya: memanfaatkan wi-fi gratis.
  2. Travel yang akan membawa gue pulang ke Jakarta jam 1 siang nanti cuma sejarak 7-10 menit (juga) dari kafe ini, jadi inilah alasan gue duduk-duduk di kafe ini sekarang.
  3. Situasi: meja hijau (bukan pengadilan lho), kursi hijau. Di atas meja ada segelas cappuccino dingin, kacamata, daftar menu, handphone yang gue silent, laptop (tentunya), sehelai tissue, dan sepiring lotek. Hidup sehat.
  4. Sebenernya ga baik makan sambil mengerjakan hal lain, tapi ini mumpung ga di rumah, mumpung ga sama siapa-siapa, dan gue bersikap tidak sopan (ampun, Tuhan).
  5. Punggung gue pegel banget. Kayak nenek-nenek aja. Efek-efek kurang tidur. Sekarang susah sekali menikmati waktu yang berkualitas untuk tidur kalo lagi di Bandung, karena pagi2 dingin, selimut ga mendukung, kamar berdebu yang menyemangati gue untuk terus bersin-bersin, dan jalanan depan rumah yang berisik. Ga bisa gue tidur sampe siang-siang. Sebel.
  6. Menyelesaikan makan sebelum poin 6 ini ditulis.
  7. Pingin ke toilet, tapi ribet kalo harus pake titip-titip tas dan laptop. Ke toilet bawa tas dan laptop? Sama juga repotnya.
  8. Harus segera menyelesaikan postingan ini.
  9. Tinggal tidur di perjalanan.
  10. Nyampe jam 3 sore nanti, mau langsung pulang dan nerusin tidur. Bantuan obat mungkin akan sedikit mengurangi sakit punggung gue.

Sunday, May 11, 2008

The d*** layout

I really, really can never imagine how frustrating it is to change the layout of my blog!
Bener-bener bikin marah dan naik darah..
I've been sitting for 2 hours and still cannot change anything!

Aaaaaarrrrrrggghhhh...!