Siapa sih Robert Pattinson?
Pemeran Edward Cullen di film Twilight.
Hari Sabtu lalu, gue dan dua sister magazine gue menjadi media partner acara ulang tahunnya Robert Pattinson. Seems to me bahwa seisi komunitas ini jatuh hati pada sosok si Edward Cullen ini, sesosok vampir ganteng (menurut gue ga ganteng) yang (menurut orang-orang lain) tipe lelaki yang sangat ideal bagi perempuan. Seolah tanpa cela, satu-satunya yang seakan menjadi kekurangan adalah karena dia vampir (yang bisa hidup ratusan tahun, dimana pada saat gadisnya menua, dia akan tetap muda).
Dia selalu ada buat Bella, lakukan apapun buat Bella, berikan segalanya buat Bella. Dia nemenin Bella waktu tidur di malam hari, walau yang bersangkutan ga tahu.
Intinya, sosok laki-laki yang amat sempurna.
Namun apakah memang sosok seperti itu yang diinginkan setiap perempuan? Gue sih percaya bahwa tiap cewek punya sosok lelaki idealnya masing-masing. Yang lebih-lebih bodoh adalah perempuan yang udah punya pacar atau bahkan menikah, tapi teteup bandingin dengan Edward Cullen. Astaga, get out deh.
Buat gue pribadi, kayaknya malah membosankan ya kalau cowok kita seideal itu. Justru, menurut gue, yang asyik adalah dengan belajar menyesuaikan satu sama lain. Belajar untuk ga egois, di saat yang sama belajar untuk berkompromi banyak hal dengan cowok kita. Melalui itu semua justru sebuah hubungan dibangun, diri kita makin dewasa. Agak tidak dewasa dengan semua hal harus mengikuti keinginan kita, seneng-seneng doang tanpa ada sedikit rasa sakit yang menjadi pembelajaran diri. Lalu juga dia menjadi overprotected akan kita. Ruang gerak menjadi terbatas.
I tell you.
I met this imperfect guy, we're going out together, banyak sekali tantangan, banyak sekali penyesuaian dari kedua belah pihak, banyak sekali airmata, namun ada juga banyak sekali tawa, ada banyak sekali halangan yang sudah dimenangkan bersama, banyak sekali pendewasaan, banyak sekali berkat.
What makes him perfect, is that he is so imperfect.
Edward Cullen bukanlah sosok ideal gue, walau mobilnya banyak, rumahnya besar, kekayaannya selangit, waktunya begitu tercurah buat ceweknya.
dreams, hopes, faiths, happiness, excitements, sadness, fears, thoughts, inspirations, hates, likes, interests, passions, secrets.
Tuesday, May 12, 2009
Wednesday, April 29, 2009
Enjoying blind salary
Sembari menulis postingan ini, gue menyeruput secangkir kopi panas. Ini bukan di pagi hari lho, melainkan siang hari, setelah jam makan siang, dimana kekenyangan melanda dan kantuk menyerbu, plus kantor yang dinginnya kayak kulkas. Ketahuan deh gue eating blind salary alias magabut alias makan gaji buta. Hehehe..
Ngomong-ngomong kopi, gue termasuk penyuka kopi. Ga sampai tergila-gila dan maniak sih, tapi gue membutuhkan secangkir kopi paling tidak di pagi hari untuk menjaga mata gue tetap terbuka sampai jam kantor berakhir. Melewati Starbucks atau Coffee Bean, gue selalu senang dengan aroma kopi yang tajam, hangat, menyegarkan. Di masa kecil dahulu, Papa seringkali melarang gue menyeruput sedikit aja kopinya. "Anak kecil kalau minum kopi bikin bodoh," gitu katanya. Tapi gue tetap suka mencuri-curi. Hehehe.. Uenakkk. Bodoh? Urusan belakangan deh. Hahaha..
Itulah kenapa gue terkadang agak bingung dengan teman-teman yang menyatakan ga suka kopi, atau mencium aromanya aja udah ga nyaman. Iya sih, ini soal selera, ga bisa dipaksakan atau dipertanyakan.
Bicara soal kopi, gue punya pengalaman (sebetulnya ini pengalaman seseorang sih) lucu tentang kopi. Pada waktu itu si empunya pengalaman lagi ngantuk berat. Kemudian dia mulai sibuk cari-cari kopi, dan ketemulah suatu tempat untuk ngopi di satu sudut Jakarta (dekat dengan kantor gue sekarang). Dia memesan kopi tubruk. Oke. Dan...plus es batu.
Seketika deretan tempat itu ramai dengan suara tawa orang-orang...
Sebetulnya lucunya biasa aja, tapi kalau ada yang bisa melihat raut mukanya waktu itu (kenyataannya cuma gue yang lihat) niscaya akan tertawa juga :D
Di mana anakku..? Di mana anakku..?
Hari ini (tepatnya, setengah jam yang lalu) teman gue tiba-tiba nanya soal feature baru Google, Google Latitude. Si Google Latitude ini konon kabarnya bisa melacak siapapun yang kita ingin tahu dia ada di mana. Lokasinya di mana. Gue jadi teringat, pernah baca soal ini di majalah (berhubung gue sekarang tenggelam dalam lautan majalah, gue ga tahu tuh majalah apa yang gue baca), cuma waktu itu belum sempat diulik karena sibuk.
Tadi setelah teman gue menyebutnya, gue langsung buka Google. Mau browsing, maksudnya. Pingin tahu sebetulnya dia bisa ngapain aja. Ternyata Google Latitude ini untuk menggunakannya, kita harus punya account Google dulu, yang mana gue ga punya. Kemudian kita bisa invite teman, sahabat, keluarga, kolega, siapapun untuk bergabung dengan Google Latitude.
Yah gitu deh kira-kira. Gue kan ga dibayar oleh Google Latitude untuk mempromokan featurenya :P
Anyway, lucu juga sih feature ini. Buat lucu-lucuan, seru memang. Mungkin penting bagi orang tua yang anaknya suka ngilang-ngilang. Apalagi di jaman serba ga aman seperti sekarang. Untung jaman gue kanak-kanak dahulu ga ada feature gini-ginian. Hehehe..
Fetaure ini mungkin penting juga buat pasangan yang rumah tangganya gonjang-ganjing gara-gara pihak ketiga atau gara-gara salah satunya suka mabuk atau apa. Gosip banget sih ya.
Namun, personally, gue ga mau lokasi gue berada bisa dilacak oleh orang-orang, siapapun itu. Ga bisa kabur dari klien, ga bisa kabur dari atasan, ga bisa kabur dari orang yang ga pingin gue temui. Ngaku ajalah, sering juga kan kita malas, jangankan dihubungi (biar berdering-dering sampai gila tuh telepon, ga bakalan diangkat) ini apalagi diketahui keberadaannya.
Apalagi dengan gebetan, pacar, whatsoever it's named, pada awalnya mungkin asyik menuntaskan rasa penasaran kita dengan mengetahui dia ada di mana. Tapi kalau dibalikin, gue sih ga mau dilacak atau diketahui gue ada di mana. Even oleh gebetan, pacar, kekasih atau apapun itu namanya. Perhatian sih boleh, senang banget malah diperhatiin, tapi kalau sampai dicari lewat Latitude, namanya kelewatan. Berarti dia ga percaya sama gue. Toh gue juga kan ga akan berlaku aneh-aneh atau pergi ke tempat yang aneh-aneh, lagipula biasanya saling kabari ada di mana. Vice versa, seharusnya kita juga belajar percaya dengan dia, kan?
Eits, bukan berarti gue mengalami 'teror' itu ya. Sama sekali ngga. Malah kadangkala percaya banget (kalau 'terlalu percaya' konotasinya jelek), sama-sama saling percaya aja...
That's the point of being in relationship kan? Komunikasi dan saling percaya.
Hehehehe, sedikit jadi ga nyambung.
Hanya berbagi cerita.
Tadi setelah teman gue menyebutnya, gue langsung buka Google. Mau browsing, maksudnya. Pingin tahu sebetulnya dia bisa ngapain aja. Ternyata Google Latitude ini untuk menggunakannya, kita harus punya account Google dulu, yang mana gue ga punya. Kemudian kita bisa invite teman, sahabat, keluarga, kolega, siapapun untuk bergabung dengan Google Latitude.
Yah gitu deh kira-kira. Gue kan ga dibayar oleh Google Latitude untuk mempromokan featurenya :P
Anyway, lucu juga sih feature ini. Buat lucu-lucuan, seru memang. Mungkin penting bagi orang tua yang anaknya suka ngilang-ngilang. Apalagi di jaman serba ga aman seperti sekarang. Untung jaman gue kanak-kanak dahulu ga ada feature gini-ginian. Hehehe..
Fetaure ini mungkin penting juga buat pasangan yang rumah tangganya gonjang-ganjing gara-gara pihak ketiga atau gara-gara salah satunya suka mabuk atau apa. Gosip banget sih ya.
Namun, personally, gue ga mau lokasi gue berada bisa dilacak oleh orang-orang, siapapun itu. Ga bisa kabur dari klien, ga bisa kabur dari atasan, ga bisa kabur dari orang yang ga pingin gue temui. Ngaku ajalah, sering juga kan kita malas, jangankan dihubungi (biar berdering-dering sampai gila tuh telepon, ga bakalan diangkat) ini apalagi diketahui keberadaannya.
Apalagi dengan gebetan, pacar, whatsoever it's named, pada awalnya mungkin asyik menuntaskan rasa penasaran kita dengan mengetahui dia ada di mana. Tapi kalau dibalikin, gue sih ga mau dilacak atau diketahui gue ada di mana. Even oleh gebetan, pacar, kekasih atau apapun itu namanya. Perhatian sih boleh, senang banget malah diperhatiin, tapi kalau sampai dicari lewat Latitude, namanya kelewatan. Berarti dia ga percaya sama gue. Toh gue juga kan ga akan berlaku aneh-aneh atau pergi ke tempat yang aneh-aneh, lagipula biasanya saling kabari ada di mana. Vice versa, seharusnya kita juga belajar percaya dengan dia, kan?
Eits, bukan berarti gue mengalami 'teror' itu ya. Sama sekali ngga. Malah kadangkala percaya banget (kalau 'terlalu percaya' konotasinya jelek), sama-sama saling percaya aja...
That's the point of being in relationship kan? Komunikasi dan saling percaya.
Hehehehe, sedikit jadi ga nyambung.
Hanya berbagi cerita.
Thursday, March 19, 2009
curhat
Apa sih curhat?
Curahan hati. Yup, orang gila juga tahu itu.
Curhat itu enak. Berbagi. Bukan maksudnya mau berbagi beban supaya yang dicurhatin ikut-ikut menanggung beban kita, tapi supaya ada sudut pandang lain, yang mungkin aja bisa mengubah sudut pandang kita akan beban itu menjadi sesuatu yang bisa disyukuri.
Akhir-akhir ini gue butuh banyak sekali curhat. Butuh tangan yang menggenggam tangan gue, butuh bahu yang bisa disandari, butuh telinga untuk mendengar atau bahkan untuk berbagi dalam keheningan, butuh hati yang memahami, butuh otak yang membantu mencarikan solusi, butuh mulut yang mengucapkan penghiburan, butuh ditemani dan ada bersama gue.
Ya, tentu, agak sulit untuk mewujudkan semuanya dalam satu waktu yang sama ataupun dari satu orang yang sama. Keterbatasan ruang, waktu, dan sebagainya menjadi penghalang.
Tapi gue tetep berusaha bersyukur.. Ada Dia yang bisa memberikan itu semua bersamaan waktu dan PribadiNya..
Curahan hati. Yup, orang gila juga tahu itu.
Curhat itu enak. Berbagi. Bukan maksudnya mau berbagi beban supaya yang dicurhatin ikut-ikut menanggung beban kita, tapi supaya ada sudut pandang lain, yang mungkin aja bisa mengubah sudut pandang kita akan beban itu menjadi sesuatu yang bisa disyukuri.
Akhir-akhir ini gue butuh banyak sekali curhat. Butuh tangan yang menggenggam tangan gue, butuh bahu yang bisa disandari, butuh telinga untuk mendengar atau bahkan untuk berbagi dalam keheningan, butuh hati yang memahami, butuh otak yang membantu mencarikan solusi, butuh mulut yang mengucapkan penghiburan, butuh ditemani dan ada bersama gue.
Ya, tentu, agak sulit untuk mewujudkan semuanya dalam satu waktu yang sama ataupun dari satu orang yang sama. Keterbatasan ruang, waktu, dan sebagainya menjadi penghalang.
Tapi gue tetep berusaha bersyukur.. Ada Dia yang bisa memberikan itu semua bersamaan waktu dan PribadiNya..
Monday, March 2, 2009
mind reader
Kemampuan menjadi cenayang?
Hmmm.. Kalau boleh tawar menawar, ga mau. Bukan berarti gue dikasih gift itu oleh Tuhan juga. Namun menurut gue memang ada hal-hal yang memang sebaiknya gue ga usah tahu.
Beberapa waktu belakangan ini, gue sering 'sehati' dengan orang-orang yang jauh secara fisik. Misalnya, suatu waktu di minggu lalu gue iseng mengirim SMS ke teman dekat gue sekedar untuk menanya kabar. Bersambut dengan akhirnya kita dinner bareng di salah satu resto di Mega Kuningan. Belakangan, gue baru tahu bahwa pada saat gue SMS dia, dia lagi baca blog gue ini dan lagi berpikir gue lagi ngapain.
Yang berikutnya terjadi waktu gue SMS teman gue di Bandung, nanyain kabar dia. Tahu-tahu dia membalas dengan balik nanya apakah gue punya kemampuan membaca pikiran, karena bertepatan pada saat itu dia lagi tiba-tiba teringat akan gue, eh selang beberapa menit kemudian gue SMS. Dan itu bukan yang pertama kalinya terjadi.
Jadi teringat juga, beberapa waktu silam gue pernah 'dibaca' oleh seorang teman di kantor. Dia bilang bahwa salah seorang teman semasa kuliah sedang bertanya-tanya di manakah gue sedang berada. Hmmm... Padahal cukup jelas ya, siapa di sini mind readernya.
Yah, menurut gue itu berarti bagus.. Artinya gue punya keterikatan yang cukup kuat dengan sahabat-sahabat gue, dan membuat gue lagi-lagi bersyukur dikelilingi teman-teman baik :)
Sunday, February 15, 2009
on nearly 4 hours after Valentine's Day
Valentine tahun ini?
Hmm.. Not more on myself and my dearest one.
Bagaimanapun, bukan suatu penyesalan besar (kecil sih sudah tentu). Hal positif yang bisa gue lihat dan alami adalah bahwa gue membantu orang-orang untuk merayakan Valentine's Day-nya.
Di hari Valentine, event pertama gue sebagai promotion executive sebuah majalah akhirnya terlaksana. Menyenangkan, sedikit kehebohan di sana-sini, namun gue puas dan bersyukur karena semuanya boleh berlangsung dengan baik, semua orang senang, apalagi peserta event yang dimanjakan oleh treatment-treatment di spa, makeover, dinner di salah satu kafe di Menteng (semenjak jadi Promotion Executive, gue semakin menyadari arti pentingnya sebuah nama atau brand), plus dapat hadiah-hadiah lagi. Walaupun kaki sakit banget, sedikit lecet, agak batuk dan masuk angin, namun gue puas.
Yang sedikit agak terbengkalai justru my own Valentine's Day. Agak sedih juga saat mengakhiri hari, karena kesempatan yang cuma sejam lewat dikit doang ga bisa gue perlakukan dengan sebaik-baiknya. Capek mungkin adalah alasan, namun sebetulnya itu ga bisa dijadikan alasan. Kenapa gue tidak bisa memberi diri sama baiknya, or even more, to the dearest one daripada kepada orang-orang yang gue 'layani' tadi? Seharusnya Valentine's Day bukan hari dimana gue merasa gloomy, tapi perasaan itu ada :( Bagaimanapun, gue mendapat hadiah Valentine pertama gue... Senangnya :)
Memang, Valentine's Day hanyalah sebuah simbol. Ga perlu diperlakukan dengan sebuah seremonial yang berlebihan, karena perasaan sayang bukan 'ditabung' untuk dicurahkan setahun sekali kok. Justru harus diungkapkan setiap waktu demi semakin bertumbuhnya hal-hal yang dijalin. Tapi gue juga setuju bahwa momen-momen seperti hari ini bisa menjadi sebuah momen yang lebih manis daripada biasanya.
This is my second one with the dearest one.
Tahun lalu adalah yang pertama, dan tidak akan pernah jadi yang terakhir.
So, I'm excitingly waiting for our next one.. ;)
Hmm.. Not more on myself and my dearest one.
Bagaimanapun, bukan suatu penyesalan besar (kecil sih sudah tentu). Hal positif yang bisa gue lihat dan alami adalah bahwa gue membantu orang-orang untuk merayakan Valentine's Day-nya.
Di hari Valentine, event pertama gue sebagai promotion executive sebuah majalah akhirnya terlaksana. Menyenangkan, sedikit kehebohan di sana-sini, namun gue puas dan bersyukur karena semuanya boleh berlangsung dengan baik, semua orang senang, apalagi peserta event yang dimanjakan oleh treatment-treatment di spa, makeover, dinner di salah satu kafe di Menteng (semenjak jadi Promotion Executive, gue semakin menyadari arti pentingnya sebuah nama atau brand), plus dapat hadiah-hadiah lagi. Walaupun kaki sakit banget, sedikit lecet, agak batuk dan masuk angin, namun gue puas.
Yang sedikit agak terbengkalai justru my own Valentine's Day. Agak sedih juga saat mengakhiri hari, karena kesempatan yang cuma sejam lewat dikit doang ga bisa gue perlakukan dengan sebaik-baiknya. Capek mungkin adalah alasan, namun sebetulnya itu ga bisa dijadikan alasan. Kenapa gue tidak bisa memberi diri sama baiknya, or even more, to the dearest one daripada kepada orang-orang yang gue 'layani' tadi? Seharusnya Valentine's Day bukan hari dimana gue merasa gloomy, tapi perasaan itu ada :( Bagaimanapun, gue mendapat hadiah Valentine pertama gue... Senangnya :)
Memang, Valentine's Day hanyalah sebuah simbol. Ga perlu diperlakukan dengan sebuah seremonial yang berlebihan, karena perasaan sayang bukan 'ditabung' untuk dicurahkan setahun sekali kok. Justru harus diungkapkan setiap waktu demi semakin bertumbuhnya hal-hal yang dijalin. Tapi gue juga setuju bahwa momen-momen seperti hari ini bisa menjadi sebuah momen yang lebih manis daripada biasanya.
This is my second one with the dearest one.
Tahun lalu adalah yang pertama, dan tidak akan pernah jadi yang terakhir.
So, I'm excitingly waiting for our next one.. ;)
Wednesday, February 4, 2009
gaya..?
Ada apa dengan menjadi perempuan?
Gue seringkali bingung dengan gaya perempuan. Yah, maklum, baru beberapa tahun belakangan ini gue jadi perempuan, sebelumnya ya perempuan jadi-jadian. Minjam istilah teman gue.
Gaya gue? Apa adanya. Tapi tetap harus necis. Buat gue, first impression itu penting. It's important to bring yourself up and make the crowd notice you. Memarketingkan diri sendiri lah.. Tapi penting untuk tetap nyaman. Menurut gue.
Itulah kenapa gue kadang-kadang agak heran dengan perempuan-perempuan yang 'berkeliaran' di mall kala weekend (gue sih ga mempermasalahkan nge-mall-nya karena jujur gue juga demen keliaran di mall, walau cuma beli jendela alias window shopping doang) dengan high-heels! Waduh.. Buat gue udah cukup lima hari dalam seminggu gue mendera kaki-kaki gue yang malang dengan heels, di kantor aja gue keliaran ksana kmari nyeker atau pake sandal jepit, ga perlu ditambah dengan di hari dimana gue bebas pake apapun semau gue senyaman gue, gue pake heels. Gue memang pecinta sepatu, termasuk high-heels, tetapi bukan untuk jalan-jalan atau menikmati waktu. It's just not my idea of having fun, juga dengan dearest ones.
But then again, ini cuma pikiran gue doang. Orang lain belum tentu.
Lalu ada juga soal make-up. Jujur, gue ga suka pake make-up. Buat gue, make-up cuma dipake kalo undangan atau konser. Sekarang nambah deh listnya, yaitu kalo meeting ketemu klien. Kalo ngga? Ya tampil polos apa adanya. Cuma pelembab, bedak, sedikit blush-on plus lipbalm ga berwarna. Bahkan gue sering diprotes dia karena bibir gue pucat (biarin, yang penting kan ga kering dan tetap oke). Lah, kalo pake lipgloss, dijilat-jilat juga warnanya ilang...
Tetapi, balik lagi, itu gimana masing-masing sih. Cuma sekedar pemikiran doang.
Subscribe to:
Posts (Atom)