Showing posts with label contemplate. Show all posts
Showing posts with label contemplate. Show all posts

Monday, October 5, 2009

i try, really, at my best..

Gue membohongi siapa sih selama ini? Gue sendiri! Parahnya, gue sendiri! Dan jadinya, korban yang paling rugi adalah gue!

Selama ini gue selalu memandangnya baik-baik saja, dan memang at least itulah yang terlihat di permukaan, di kulit, namun pada kenyataannya itu tidaklah sebaik itu. Orang-orang bertanya, "Gimana?" Ya baik-baik saja. Mungkin karena apa yang dikatakan mulut akan meyakinkan hati, makanya gue mengatakan itu.

Apa kabar gue sekarang? Jujur, tidak terlalu baik. Gue mencoba bersikap jujur terhadap diri gue sendiri.

Gue mencoba, percayalah, gue selalu mencobanya dengan sekuat yang gue bisa. Berpikir positif. Tapi gue juga menyadari bahwa sekarang lambat laun positive attitude itu mulai menguap. Terkikis. Capek rasanya. Ga boleh capek sebetulnya kalau memperjuangkan sesuatu, tapi dengan mengerikan gue mendapati diri gue mulai capek. Dan yang ini gue juga mencoba jujur dan tidak menipu diri sendiri.

Gue menilik diri gue sendiri, apakah ada sikap-sikap gue yang justru bertentangan dengan perkataan gue? Jangan sampai gue ngomong bahwa gue tidak menyukai sesuatu tapi nyatanya gue malah melakukannya. Apakah ada yang tidak masuk akal dengan permintaan gue? Rasanya tidak. Apakah gue memang harus menerima apa adanya karena memang demikian adanya, walau tidak seperti yang gue inginkan? Gue akui memang tidak boleh menyamakan orang lain dengan diri sendiri, tapi bisakah ada kompromi dan jalan tengah? Apakah gue terlalu memaksakan pendapat dan selalu ingin benar sendiri? Kalau gue diinginkan untuk bicara dan lalu gue bicara, kenapa rasanya malah seolah kesalahan dikembalikan ke gue? Diam, salah. Bicara juga salah.

Bantu aku dong.. Harus apa..? Harus gimana..?
Kupikir aku harus berhenti sebentar dan menarik diri.

Saturday, May 30, 2009

Tahun dan tanda

Kamis lalu, gue dan beberapa orang teman kantor berencana (sebenernya rencananya baru terbentuk menjelang jam pulang kantor) nonton Terminator: Salvation. Ga jauh-jauh, di Setiabudi One. Tapi karena sebagian dari kami baru kelar meeting dengan klien jam 7 malam, alhasil kita jadi agak terburu-buru ngejar film yang diputar 7.30. Udah punya tiket sih, tapi kan kesel aja kalau ga bisa lihat dari permulaan.

Anyway, bukan itu sih yang mau gue bahas.

Alkisah, semuanya bermula di tahun 2003. Singkat kata, loncat deh ke tahun 2018, dimana digambarkan di masa tersebut, ras manusia udah semakin berkurang, dimusnahkan oleh robot-robot yang hendak menguasai bumi, semua hancur lebur, bangkai-bangkai kendaraan berserakan, gedung-gendung tinggal runtuh... dan sebagainya.

Yang kemudian membuat gue berpikir, apakah ga gegabah ya, yang membuat skenario cerita ini? Maksud gue adalah, astaga, 2018 tuh cuma tinggal di depan mata! 9 tahun dari sekarang! Gue akan masih di umur 30-an, yang mana gue yang sekarang optimis bahwa pada masa tersebut, begitu banyak kelimpahan berkat dalam hidup gue. Yeah, oke, gue bukan peramal dan gue juga tidak akan pernah tahu seperti apa jalan hidup yang ada di depan, tetapi menurut gue sih terlalu gegabah, ceroboh, menggambarkan bumi dalam 9 tahun akan berbentuk seperti itu.

Banyak contoh-contoh ngawur yang sebetulnya udah ada sejak lama. Misalnya seperti Y2K sembilan (yup, sembilan!) tahun lalu, yang memunculkan isu tanggalan komputer akan ngaco, terus ada isu kiamat pula, ditambah ada film "End of Days", dan banyak rumor mengelilingi tahun millenium itu. Nyatanya? Semua aman-aman aja sampai sekarang. Sembilan tahun berselang dan isu-isu tersebut ga ada yang menjadi kenyataan.

Lalu ada lagi isu kiamat 2012. Katanya, itu adalah perhitungan ilmuwan-ilmuwan tentang usia bumi, lempengan-lempengan pembentuk bumi yang akan retak, daratan akan tenggelam, whatsoever itu, tapi, haloooohh! 2012 tuh tinggal 2,5 tahun lagi! Agak-agak gegabah menurut gue.

Memang, bukan berarti gue mengabaikan tanda-tanda jaman. Gue setuju, kita semua harus tetap waspada menghadapi tanda-tanda akhir jaman, bukannya ongkang-ongkang kaki dan semena-mena. Namun jangan terlalu gegabah deh. Bukan seperti itu caranya mengingatkan orang-orang tentang akhir jaman. Gue tidak menyangkal bahwa bukan tidak mungkin memang 2,5 tahun lagi akan ada kejadian-kejadian apa, justru gue setuju dengan kiamat bisa datang kapan aja. Tergantung Yang Punya Kuasa, Dia mungkin tinggal menghela napas doang, dan wuuuuuuttt... Habislah semuanya. Siapa tahu? Tapi dengan cara yang sama, jika Dia menghendaki, walau sampai habis bumi berlalu, sampai siang malam menyatu, manusia akan tetap ada dalam pemeliharaanNya, dan gue memimpikan tampilan bumi yang justru diliputi kemulianNya menjelang akhir jaman.

Menurut gue, bukankan lebih baik dalam menghadapi tanda-tanda jaman ini, kita melakukan apa yang terbaik dari kita seturut dengan rencanaNya? Tetap bersandar padaNya, membawa diri padaNya, semakin menjadi berkat bagi orang lain, semakin menjadi perpanjangan tanganNya?

Mungkin kita harus belajar untuk menjadi lebih bijak dalam menghadapi tanda-tanda akhir jaman.

Kok jadi serem ya?

Wednesday, May 20, 2009

indah

Siapa sih yang ga pingin jadi indah?
Membayangkan bunga matahari di padang rumput (bunga matahari tumbuh di padang rumput ga ya?), menantang angin, berseri-seri, ceria, indah, cantik.

Tetapi memberi diri untuk dibuat indah, itu hal lain. Tidak segampang itu menjadi indah, tidak hanya dalam semalam saja, tidak dalam sekejap mata. Memberi diri untuk dibuat indah, itu hal yang berat, penuh tantangannya. Ditempa, dibanting sana-sini.

Pernah membayangkan berlian? Untuk jadi indah, harus digosok, harus dimurnikan, ditempa. Setelah melewati serangkaian proses yang sulit, berat, menyakitkan, barulah dia bisa menjadi berlian yang seberlian-berliannya.

Melalui serangkaian pengalaman yang tiada henti selama hidup dan bernapas, aku ditempa, dibentuk, didewasakan. Memberi diri untuk dijadikan indah oleh Dia, jangan dikira isinya senang-senang. Namun upahnya, tuaiannya, amat besar. Memberi diri kepada Sang Bapa, berarti siap untuk diukir, dipahat, digosok sana-sini. Berarti siap untuk ditempa, didera, sulit, dengan airmata, dengan jeritan. Rasanya mungkin seolah-olah seperti Tuhan hilang atau bersembunyi, namun sebetulnya dalam keadaan diri kita yang paling rendah itulah kita diajar untuk mencari dan mendapatkanNya, dibantu untuk menyadari bahwa Dia selalu ada untuk kita, dibantu untuk menemukan Dia dan membiarkan Dia mencurahkan sepenuh-penuhnya kasih sayangNya. Belajar untuk bersandar penuh padaNya, belajar untuk mempercayakan segalanya padaNya, belajar untuk membiarkan Tuhan memeluk kita.

Bukan perkara mudah. Ada kalanya di saat-saat pemurnian yang menyakitkan itu kita berbalik, sedih dan marah. Padahal, Dia tidak pernah meninggalkan kita, selalu menemani kita dengan setia.

Suatu kali, pernah aku baca bahwa orang yang paling bersyukur adalah orang yang pernah dibawa oleh Tuhan sampai ke titik terendah dalam hidupnya, karena pada saat itulah ia benar-benar merasakan dibawa kembali naik olehNya, lebih indah, lebih mulia.

Kudatang ya Bapa dalam kerinduan
Memandang keindahanMu
Kuberikan segalanya semuanya yang ada
Kuingin menyenangkan hatiMu oh Tuhan

Jadikan aku indah
Yang Kau pandang mulia
Seturut karyaMu didalam hidupku
Ajarku berharap hanya kepadaMu
Taat dan setia kepadaMu Tuhan

Sunday, November 16, 2008

si jelek

Beberapa hari yang lalu gue mendengar satu kalimat yang dilontarkan Joyce Meyer di televisi, tentang sekumpulan wanita yang terdiri dari ibu rumah tangga, wanita karier, single mother, mahasiswa yang dalam kehidupan keseharian terkadang menyesali diri atas apa yang ingin mereka lakukan namun tidak bisa karena ketidakpunyaan.

Dia bilang, kurang lebih demikian:
"Yang terpenting sekarang adalah menitikberatkan pada apa yang kita miliki; bukan pada apa yang tidak kita punyai. Tidak ada gunanya merasa bersalah. Iblis senang pada orang yang terus menerus merasa bersalah karena perasaan semacam itu menghalangi berkat Tuhan yang mau disampaikan."

Ya. Dengan cara apapun iblis akan menjauhkan manusia dari berkat-berkat Tuhan, sehingga tidak ada damai sejahtera di dalam diri manusia. Dan si bego itu seneng banget kalau demikian adanya.

Jadi kenapa seringkali gue merasa menyesal karena tidak bisa melakukan ini atau itu? Atau kenapa gue tidak punya ini atau itu? Kenapa gue lebih suka membiarkan perasaan-perasaan kacau tinggal di dalam diri gue dan malah menikmati sensasinya? Kenapa gue lebih memilih itu daripada melepaskan semuanya dan menaruhnya di kaki Tuhan untuk kelegaan dan damai sejahtera di dalam hati?

Worst of all: Kenapa gue membiarkan si konyol bertanduk itu bersenang-senang atas penderitaan gue dan kenapa gue ngijinin dia untuk singgah?

Beranikah gue pasang tampang, dan dengan garang mengusirnya, "Minggir lo, dasar jelek!" dan sepenuhnya bersukacita karena Tuhan?

Harus bisa, atuh! Aku kan anak Tuhan! Bersyukurlah atas apa yang kita miliki dan pergunakan itu sebaik-baiknya seperti yang Dia ingini untuk kita lakukan!

Saturday, October 4, 2008

.....

Terkadang aku benci diriku sendiri. Marah kepada diri sendiri karena sering menyakiti hati orang dengan perkataan-perkataanku yang tanpa pertimbangan. Setelah terlambat baru menyesal. Kenapa sih aku tidak bisa mengendalikan mulutku? Kenapa sih aku tidak bisa mengucapkan hal-hal yang baik-baik saja? Bahkan apa yang kukira baik pun ternyata tidak cukup baik.

Apalagi seringkali aku justru menyakiti perasaan orang-orang yang berarti buatku. Orang yang untuknya aku ingin semuanya yang paling baik, termasuk diriku yang terbaik, walau sarat dengan kelemahan dan ketidakberdayaan.

Apa yang harus kulakukan? Apakah mulai sekarang aku harus diam seribu bahasa, menutup mulutku rapat-rapat untuk menghindari keluarnya kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan? Mencuci mulut dengan sabun? Apakah aku musti menggigit bibir dan menyimpan semuanya dalam hati demi mencegah tersakitinya hati dan perasaan orang?