Wednesday, March 31, 2010

the right vs the left

Lagi menggali-gali inspirasi untuk menulis (tertantang oleh omongan teman bahwa tulisan gue cukup 'thought-provoking'), gue tiba-tiba menemukan sesuatu yang cukup menarik (menggelitik? menggugah?) tentang The Right and The Left.

Oke, coba gue lihat dari sisi alkitabiah dulu. Hey, He's still my priority :) Anyway, Sang Anak duduk di sisi kanan Bapa. Berarti, yang paling dipercaya, wakil, yang setara.

Nah, ini dia. Berbicara tentang pasangan (dalam hal ini, buat gue berarti sang lelaki), orang-orang selalu menyebut soulmatenya, pujaan hatinya, atau apalah itu namanya, sebagai The Right One. Buat cewek-cewek adalah The Right Man, buat cowok-cowok ya The Right Woman. Mudah-mudahan ga usah ada tengah-tengahnya, ya. Intinya, The Right One adalah orang yang tepat.

Mengesampingkan posisinya dalam arti harafiah ada di sebelah mana, The Right Man akan selalu menjadi tangan kanan si cewek, panutan, pemimpin, orang yang paling dipercaya. Vice-versa, The Right Woman adalah sang penolong, pendukung, orang yang paling bisa menjadi wakil dan tangan kanan si cowok.

Oke, bagaimana nasib The Left? Ga boleh bilang nasibnya ga seberuntung si kanan sih, apalagi Tuhan juga menciptakannya. Jadi pasti punya keunggulan juga. Di antaranya, ya menjadi tangan kanannya si tangan kanan. Bingung? Yup. Gue juga mulai agak bingung. Bukan berarti jadi ada dua tangan kanan, ya. Tapi kalau dipikir lagi, kalau ngisi TTS pun, lawan 'kanan' adalah 'kiri'.

Tiba-tiba aja sih, terbersit kenapa kayak kebetulan aja si Left ini menjadi lawannya si Right. Selain arti proposisinya.

Coba kita coba tilik 'left': bentuk lampau dari 'leave' atau pergi. Meninggalkan.

So. The Right Guy: Pria yang tepat. The Left Guy: Pria yang pergi, a.k.a tidak tepat.

Jadi sebetulnya, kiri dan kanan apakah berlawanan? Tidak sejalan? Ngga juga. Tanpa tangan kiri, tangan kanan ga punya pasangan untuk pegangan tangan, pasangan untuk ditangkupkan kala berdoa... :)


Saturday, January 2, 2010

..to the twenty-ten

Memasuki tahun baru 2010, blog ini kalau diukur dengan usia sekolah, sudah lulus SMA. Tiga tahun sudah.

Jujur, agak malas menulis, karena kreativitas menulis gue sudah tidak terasah lagi. Tahun-tahun yang lalu, posting pertama di tahun yang baru gue beri judul "Resolusi..." dari yang pertama, kedua, dan ketiga. Tetapi kali ini tidak ada yang keempat.

2009 adalah tahun yang sangat dinamis dan fluktuatif. Banyak tawa, tetapi seperti dua sisi mata uang, airmata juga banyak dicurahkan. Bukan tahun yang mudah, tetapi penuh mujizat.

Januari 2009, gue keterima kerja di salah satu perusahaan majalah terkemuka. Hari ini perjalanan gue genap satu tahun.
Februari 2009, gue sukses menjalankan event pertama gue, walaupun tertatih-tatih seorang diri.
April 2009, nyokap jatuh sakit. Melalui sakit ini, mujizat terbesar bagi keluarga gue di tahun 2009 terjadi. Dua minggu di Bandung, ngantor di lantai ruang tunggu Borromeus. Seluruh sanak saudara, teman, sahabat, mengirimkan salam dan doa.
Juli 2009, salah satu event tahunan majalah gue berhasil dijalankan. Di bulan-bulan ini jugalah untuk pertama kalinya gue melakukan doa puasa selama 30 hari, dan Tuhan menjadikan segalanya nyata :) Salah satu kalimat yang paling membekas adalah dari pemimpin redaksi gue, "Lo diberkati banget ya menjalankan event tahun ini.."
Agustus 2009, gue berhasil mendapatkan tandatangan calon sponsor untuk event ulang tahun majalah senilai ratusan juta... Dan pada saat yang sama, majalah gue ini shut down. Tanggal 12, Tuhan menjawab doa dengan memberikan pekerjaan buat seseorang. Kalau ga salah, sekitar bulan-bulan ini juga dia diberkati dengan menjadi pemimpin pujian (lupa pastinya....)
September 2009, gue resmi pindah majalah. Belajar lagi dari nol, dengan segala pergumulan, kemarahan, keragu-raguan.

Ada yang dalam perencanaan gue, tapi banyak sekali juga hal yang di luar rencana namun diijinkan terjadi.

Lain-lainnya?
Gue menggunting rambut gue, akhirnya, setelah sekian lama dibiarkan memanjang. Selain rontok yang gila-gilaan, I need a fresh new look.
Pernikahan beberapa orang teman. Kepergian beberapa orang teman mewujudkan cita-cita mereka.
Kehidupan penuh cinta yang gue miliki dan kesempatan untuk terus boleh berbagi berkat. Belajar untuk mengalahkan keinginan diri sendiri, belajar untuk mengendalikan diri, belajar untuk menilai situasi, belajar untuk memahami bahwa mencintai adalah bukan tentang diri sendiri.

Seperti gue tuliskan di facebook beberapa hari yang lalu, tahun ini gue tidak punya resolusi yang terspesifikasi.. Banyak rencana, banyak keinginan, banyak harapan, namun semuanya yang terbaik ada di tanganNya.

Resolusi gue tahun 2010? Memenuhi mulut dengan ucapan syukur :)

Tuesday, November 24, 2009

November 2009


Dua tahun?

Setahun yang lalu.. Tidak menyangka akan menulis ini di tahun berikutnya, tapi tetap menantikannya dengan semangat.

Dua tahun. Bukan waktu yang singkat. Ada 2 x 365 hari di dalamnya. Sekaligus, bukan sebuah masa yang lama juga. Namun dalam waktu sedemikian, dua tahun yang lalu gue memulai sebuah perjalanan masa lalu dan sekarang genap dua tahun gue menjalani sebuah masa kini menuju masa depan.

Dua tahun terakhir yang terbaik dalam kehidupan gue, dan gue sangat yakin, menginjak tahun ketiga, it would be even better. Seperti Joel Osteen bilang, I haven't laugh my best laugh yet.

Hari itu, gue bolos ngantor. UPS! Gue memang kurang sehat (mungkin gara-gara stress di kantor), dan di rumah cuma gue sendiri. Selang beberapa malam yang lalunya, sebuah SMS muncul dan berisi ajakan nonton JakJazz 2007. Yeay! Mungkinkah...ajakan date? ;) Jam 3 sore hari itu gue sepakat bertemu di Plaza Senayan. Jadi bangunlah gue dari tidur jam 2 siang, mandi, dandan secukupnya dan berangkat dengan taxi.

Sesampainya di sana, gue duluan nyampe, yang ngajak bahkan masih di kereta (sekarang gue berpikir, dia turun di stasiun mana ya? Karena ga makan waktu lama sampai dia muncul). Jadi gue mengabari dia, gue bilang ketemu di ATM Mandiri saja. Dan gue ga tahu di mana itu ATM, jadi gue nanya dia :P

Pada saat gue mengantri di depan ATM, seseorang menyentuh bahu gue... And there he was :)
The rest is history, and we're living in it. Gue masih sangat mengingat setiap detilnya pertemuan pertama itu. Plus donuts J.Co setengah lusin dan ice thai tea.

Tidak mudah menjalani dua tahun ini, banyak deraan, airmata, tapi juga tawa, dan yang pasti, semuanya penuh berkat. Setiap hal dimaksudkanNya untuk membentuk gue menjadi yang lebih baik lagi, membawa kami menerima lebih banyak lagi berkat.

I have found a bestfriend, a lover, a brother..

Friday, November 13, 2009

Sekitaran Jakarta Fashion Week 09/10

Menjelang Festival Mode Indonesia - Jakarta Fashion Week 09/10.
Masih di kantor, menunggu approval dari sana-sini. Sembari menunggu, gue mencoba melihat apa yang ada di seputaran JFW ini.

Seorang teman yang mengundurkan diri tepat dua hari sebelum perhelatan fashion ini dimulai.
Mengejar-ngejar design untuk undangan, mengejar-ngejar approval Board of Director dan mengejar-ngejar vendor percetakan karena dikejar-kejar Board of Director tersayang. Semuanya saling mengejar.
Chaos urusan produki Wall of Fame. Untung masih punya waktu beberapa hari sebelum acara kita.
Ribet urusan lembar acara untuk Opening Gala Indian Night besok malam.
Sebetulnya semua majalah sibuk, karena semua majalah punya acara masing-masing di rangkaian JFW ini. Semuanya saling senggol bacok: Lo nyenggol gue, gue bacok di tempat.
Gue kebagian salah satu kerjaan yang gue cukup suka melakukannya: Barter. Untuk leisure time foreign media.

Di luar urusan kantor:
Gue mulai menerapkan gaya hidup sehat: Seminggu 2-3 kali berolahraga, mulai mengubah pola makan.
Spion kanan mobil gue patah dan terkulai. Ditabrak mobil dari arah berlawanan, dan ga bisa berbalik dan mengejar karena jalanan sempit.
Nyokap mulai fisioterapi, dan gue senang karena nyokap semangat dan jalannya membaik. Memang perlahan progressnya, tapi membaik.
Seorang teman yang sudah lama menantikan kehamilan, akhirnya hamil juga.

Gue mengalami sebuah periode penuh tekanan emosi dan fisik. Sampai satu titik dimana gue memilih untuk menyerah kalah dan menyingkir.. Tapi gue bersyukur gue tidak melakukan pilihan itu. Sebuah suara di sebelahku menyemangati, menguatkan, dan percaya bahwa gue bisa mengalahkan tekanan dan hambatan itu. "Kamu pasti bisa." Bagaimanapun, memang itu yang gue butuhkan. Sebuah keyakinan bahwa gue pasti bisa, gue punya kekuatan, dan berharga. Bukan orang yang bisa diinjak-injak. Dan gue pun bangkit, semangat, dan entah darimana datangnya, kekuatan untuk berjuang.

Betul kata pendeta gue, rasa bersyukur mendatangkan banyak sekali berkat.

Sunday, October 11, 2009

Sunday afternoon..

I love Sunday.

Saat ini sore udah berganti malam, dan hari amat bersahabat. Ga mendung, panasnya ga terik. Udara ga berat, ga panas, cukup hangat dan enak.

Agak sedikit malas menghadapi minggu yang baru esok hari, tapi harus semangat. Dan itulah kenapa aku menyukai hari Minggu. Kepenatan, kebosanan, kelelahan selama seminggu udah hilang, udah dicharge kembali dengan segala pemulihan, pembaharuan, berkat-berkat baru, dan persiapan yang Dia sedang lakukan atasku untuk menjalani dengan kepala tegak satu minggu mendatang.

Aku ga akan menyangkal bahwa excitement untuk cepat-cepat nyampe ke hari Minggu dimunculkan sendiri olehNya dalam diriku. Menjalani satu minggu, selalu ada saat-saat dimana aku pingin cepat-cepat nyampe ke Minggu. Entah excitement untuk mendapat pencerahan kembali, kekuatan dan semangat baru, atau nyanyikan lagu-lagunya, atau menyampaikan syukur (tentu sebetulnya kalau ini malah jangan sampe harus nunggu hari Minggu), atau ketiganya, tapi kerinduan itu ada, dan aku senang karena Dia menaruhnya di dalam diriku.

Yang tadinya malas banget udah harus memulai hari Senin lagi, pekerjaan lagi, digantikan oleh semangat untuk melakukan lebih baik lagi, penuh dengan ide-ide baru, kemungkinan-kemungkinan baru, alternatif-alternatif baru, dan biasanya, dengan iman aku mengucapkan bahwa aku akan memenangkan setiap hari. Tuhan bersamaku, dan aku selalu yakin Ia akan membawaku memenangkan setiap hari.

Bukankah Ia begitu mempesona? :)

Monday, October 5, 2009

i try, really, at my best..

Gue membohongi siapa sih selama ini? Gue sendiri! Parahnya, gue sendiri! Dan jadinya, korban yang paling rugi adalah gue!

Selama ini gue selalu memandangnya baik-baik saja, dan memang at least itulah yang terlihat di permukaan, di kulit, namun pada kenyataannya itu tidaklah sebaik itu. Orang-orang bertanya, "Gimana?" Ya baik-baik saja. Mungkin karena apa yang dikatakan mulut akan meyakinkan hati, makanya gue mengatakan itu.

Apa kabar gue sekarang? Jujur, tidak terlalu baik. Gue mencoba bersikap jujur terhadap diri gue sendiri.

Gue mencoba, percayalah, gue selalu mencobanya dengan sekuat yang gue bisa. Berpikir positif. Tapi gue juga menyadari bahwa sekarang lambat laun positive attitude itu mulai menguap. Terkikis. Capek rasanya. Ga boleh capek sebetulnya kalau memperjuangkan sesuatu, tapi dengan mengerikan gue mendapati diri gue mulai capek. Dan yang ini gue juga mencoba jujur dan tidak menipu diri sendiri.

Gue menilik diri gue sendiri, apakah ada sikap-sikap gue yang justru bertentangan dengan perkataan gue? Jangan sampai gue ngomong bahwa gue tidak menyukai sesuatu tapi nyatanya gue malah melakukannya. Apakah ada yang tidak masuk akal dengan permintaan gue? Rasanya tidak. Apakah gue memang harus menerima apa adanya karena memang demikian adanya, walau tidak seperti yang gue inginkan? Gue akui memang tidak boleh menyamakan orang lain dengan diri sendiri, tapi bisakah ada kompromi dan jalan tengah? Apakah gue terlalu memaksakan pendapat dan selalu ingin benar sendiri? Kalau gue diinginkan untuk bicara dan lalu gue bicara, kenapa rasanya malah seolah kesalahan dikembalikan ke gue? Diam, salah. Bicara juga salah.

Bantu aku dong.. Harus apa..? Harus gimana..?
Kupikir aku harus berhenti sebentar dan menarik diri.

Saturday, October 3, 2009

yang praktis ajah..

Gue orang yang praktis. Gue menyenangi kepraktisan, memilih menghemat waktu supaya waktu yang tertabung bisa dipakai untuk hal lain.

Praktis nomor 1.
Gue ngga suka mandi lama-lama dan menghabiskan terlalu banyak waktu di kamar mandi, kecuali memang niat mandi lama misalnya ada bath tub. Dalam keseharian, gue bisa mulai dari bangun sampai dengan masuk ke mobil untuk berangkat kantor, it takes only 30 minutes. Mandi bersih, tidak ada satu titikpun terlewat, dan ritual sesudah mandi semuanya terlaksana. Kecuali make up, karena gue ngga suka pakai make up. Cukup moisturizer dan bedak serta sedikit blush on. Cukup.

Praktis nomor 2.
Gue ngga bisa lama-lama menghabiskan waktu memilih baju, walaupun tidak bisa memungkiri bahwa gue lumayan pemilih dalam soal ini. Akhirnya gue suka mematok berapa lama gue boleh memilih baju. Ini biasanya terjadi kalau mau ngantor atau pergi gereja.

Praktis nomor 3.
Gue ngga demen pakai high heels. Koleksi high heels gue cukup banyak, dan gue penggemar sepatu, tapi gue ga menyukai memakai high heels untuk keseharian. Bahkan untuk ngantor. Buat gue, sepatu-sepatu cantik itu adalah untuk kesempatan-kesempatan tertentu aja, seperti pesta atau pergi gereja. Namun mengantisipasi kalau tiba-tiba ada hal-hal urgent, gue menyimpan sepasang high heels di kolong meja kantor.

Praktis nomor 4.
Kalau traveling, gue membawa barang sesedikit mungkin. Ga mencuci kalau dirasa tidak perlu, dan kalau belum perlu ga usah ganti baju. Gue agak heran dengan orang yang demi gaya sampai harus ganti baju beberapa kali dalam sehari. Kalau harus travel dengan koper, pakai koper yang tidak terlalu besar yang kalaupun penuh sesak, gue masih bisa mengangkatnya dengan kedua tangan sendiri. Jangan sampai merepotkan orang lain lah. Makanya gue jarang bawa jinjingan kecil-kecil, selain karena takut kececer dan ketinggalan juga sih.

Praktis nomor 5.
Soal makan pun praktis! Ga milih-milih. Walau bisa sampai bersih banget piringnya, tapi ga lama-lama makannya. Ngapain sih lama-lama? Harus 32 kali mengunyah supaya tercerna sempurna?