"Shout to the Lord" is a popular worship anthem, written by singer/songwriter Darlene Zschech in 1993, published by Hillsong Music Australia. It is sung regularly at many Christian churches, festivals and youth gatherings.
My Jesus, my Saviour
Lord there is none like You
All of my days I want to praise
The wonders of Your mighty love
My comfort, my shelter
Tower of refuge and strength
Let every breath, all that I am
Never cease to worship You
Shout to the Lord
All the Earth, let us sing
Power and majesty
Praise to the King
Mountains bow down
And the seas will roar
At the sound of Your name
I sing for joy at the work
Of Your hand
Forever I'll love You
Forever I'll stand
Nothing compares
To the promise I have In You
dreams, hopes, faiths, happiness, excitements, sadness, fears, thoughts, inspirations, hates, likes, interests, passions, secrets.
Saturday, September 13, 2008
Thursday, September 4, 2008
Dari khotbah Joel Osteen
~Jangan melawan angin yang bertiup ke arahmu. Ikuti saja, karena angin itu bisa menjadi angin berkat yang membawamu ke tempat yang lebih baik.
~Tuhan mengguncang anak-anakNya, seperti burung rajawali yang mengguncang sarangnya dan memaksa anaknya belajar menggunakan sayap. Semuanya supaya kita semakin bertumbuh dan lebih kuat.
~Musim berubah. Orang berubah. Bukalah diri untuk perubahan-perubahan, dan diperbaharui Tuhan untuk menjadi lebih baik lagi.
~Get out from your comfort zone! Atau kita tidak akan berkembang. Ada yang lebih baik di luar sana!
~Tuhan membuka pintu dengan caraNya yang ajaib, dan dengan ajaib pula Dia menutup pintu. Tuhan menutup satu pintu untuk membawa kita ke pintu berikutnya. Percaya saja, pasti dibaliknya banyak rancangan indah Tuhan menanti kita.
~Tuhan tidak akan mengijinkan masalah mendatangi kita, kecuali itu akan menjadikan kita semakin kuat, semakin bertumbuh, semakin dibangun di dalamNya.
~Ada masa-masa lalu menyakitkan yang begitu kelam. Tapi semua sudah berlalu. Itu sudah lewat! Musimnya sudah lewat! Tuhan sudah mengampuni dan sekarang saatnya untuk maju. Jangan kembali ke sana. Tuhan sudah menutup pintu itu.
(Dikutip dari salah satu khotbah Joel Osteen tentang perubahan.
Kurang lebih demikian yang dia katakan.. gue lupa kalimat persisnya, tapi itu poin-poin pentingnya. Intinya: Menerima perubahan. Perubahan itu baik, apalagi yang dari Tuhan sendiri. Gbu.)
~Tuhan mengguncang anak-anakNya, seperti burung rajawali yang mengguncang sarangnya dan memaksa anaknya belajar menggunakan sayap. Semuanya supaya kita semakin bertumbuh dan lebih kuat.
~Musim berubah. Orang berubah. Bukalah diri untuk perubahan-perubahan, dan diperbaharui Tuhan untuk menjadi lebih baik lagi.
~Get out from your comfort zone! Atau kita tidak akan berkembang. Ada yang lebih baik di luar sana!
~Tuhan membuka pintu dengan caraNya yang ajaib, dan dengan ajaib pula Dia menutup pintu. Tuhan menutup satu pintu untuk membawa kita ke pintu berikutnya. Percaya saja, pasti dibaliknya banyak rancangan indah Tuhan menanti kita.
~Tuhan tidak akan mengijinkan masalah mendatangi kita, kecuali itu akan menjadikan kita semakin kuat, semakin bertumbuh, semakin dibangun di dalamNya.
~Ada masa-masa lalu menyakitkan yang begitu kelam. Tapi semua sudah berlalu. Itu sudah lewat! Musimnya sudah lewat! Tuhan sudah mengampuni dan sekarang saatnya untuk maju. Jangan kembali ke sana. Tuhan sudah menutup pintu itu.
(Dikutip dari salah satu khotbah Joel Osteen tentang perubahan.
Kurang lebih demikian yang dia katakan.. gue lupa kalimat persisnya, tapi itu poin-poin pentingnya. Intinya: Menerima perubahan. Perubahan itu baik, apalagi yang dari Tuhan sendiri. Gbu.)
Tiap orang memang beda!
Gue bertanya-tanya kenapa banyak sekali buku yang membahas perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Gue ga bicara fisikal.
Gue punya dua, Mars and Venus dan Why Men Don't Listen & Women Can't Read Maps. Menuntaskan penasaran gue apa sih sebenernya yang berbeda dari laki dan perempuan sampai harus dibikin buku soal itu. Memang ada perbedaan, tapi sebesar apa sih sampai segitu pentingnya? Laki-laki ya laki-laki. Perempuan ya perempuan. Tuhan menciptakan begitu adanya, ada tugasnya masing-masing, keunikannya masing-masing. Jadi kenapa mesti ribut?
Setelah gue baca, gue mengakui memang ada perbedaan pola pikir, cara pandang, melihat masalah, menanggapi sesuatu, merespon, antara laki-laki dan perempuan. Tetapi ga bisa ditarik garis lurus pembatas yang secara tegas mengkotak-kotakkan laki dan perempuan atas alasan itu. Kenapa? Karena, seperti contoh-contoh yang disebutkan dalam buku, misalnya bahwa perempuan ga bisa baca peta, hey, siapa bilang cewek ga bisa baca peta?? Kami ini cewek-cewek yang nyupir, bodoh kalau ga bisa baca peta. Mau modal nanya doang ama orang? Kalau ga ada orang di jalan? Kapan nyampenya?
Dan katanya perempuan itu cenderung ngomong terus. Apa iya? Temen-temen gue yang cowok banyak juga yang bawel. Malah, hampir semua laki-laki di sekitar gue bawel. Hehehe..
Intinya, ga bisa digeneralisasi bahwa semua perempuan begitu, atau laki-laki begitu. Namun memang ada detil-detil lain yang gue akhirnya sependapat bahwa memang secara garis besar, pola berpikir laki-laki beda dengan perempuan. Tapi ga bersifat mutlak.
Ada yang menganggap pembahasan ini perlu untuk belajar lebih mengenal lawan jenis dan menjembatani perbedaan-perbedaannya. Gue pribadi, menganggap diskusi ini untuk tambahan wawasan saja. Sebab menurut gue, setiap orang, ga peduli jenis kelaminnya apa, pasti beda. Pasti punya keunikan tersendiri. Bukan tanpa alasan Tuhan menciptakan kita masing-masing seperti ini. Bukan kebetulan, tapi justru penuh rencana. Perbedaan apapun memang harus dijembatani, kan? Bukan dari segi jenis kelamin saja.
Gue cenderung fleksibel. "Ya emang orangnya begitu," alias menerima apa adanya, bukan dimasalahkan kenapa bisa beda, dan sekaligus menyesuaikan tanpa menghilangkan identitas. Kita harus menyikapi perbedaan itu bukan dengan maksa dia harus satu kemauan dengan kita atau malah bikin garis tegas yang memisahkan kita dengan dia karena beda. Justru kita belajar untuk memahami orang lain (bukan berarti setuju, lho), berempati, belajar mengendalikan diri supaya garis tegas itu ga muncul.
Perbedaan bisa jadi alat untuk saling melengkapi. Perbedaan yang ada, gue selalu berdoa supaya bisa jadi berkat yang mempersatukan dan menguatkan.
Terdengar mudah? Jangan salah.
Gue masih harus belajar banyak tentang itu..
Gue punya dua, Mars and Venus dan Why Men Don't Listen & Women Can't Read Maps. Menuntaskan penasaran gue apa sih sebenernya yang berbeda dari laki dan perempuan sampai harus dibikin buku soal itu. Memang ada perbedaan, tapi sebesar apa sih sampai segitu pentingnya? Laki-laki ya laki-laki. Perempuan ya perempuan. Tuhan menciptakan begitu adanya, ada tugasnya masing-masing, keunikannya masing-masing. Jadi kenapa mesti ribut?
Setelah gue baca, gue mengakui memang ada perbedaan pola pikir, cara pandang, melihat masalah, menanggapi sesuatu, merespon, antara laki-laki dan perempuan. Tetapi ga bisa ditarik garis lurus pembatas yang secara tegas mengkotak-kotakkan laki dan perempuan atas alasan itu. Kenapa? Karena, seperti contoh-contoh yang disebutkan dalam buku, misalnya bahwa perempuan ga bisa baca peta, hey, siapa bilang cewek ga bisa baca peta?? Kami ini cewek-cewek yang nyupir, bodoh kalau ga bisa baca peta. Mau modal nanya doang ama orang? Kalau ga ada orang di jalan? Kapan nyampenya?
Dan katanya perempuan itu cenderung ngomong terus. Apa iya? Temen-temen gue yang cowok banyak juga yang bawel. Malah, hampir semua laki-laki di sekitar gue bawel. Hehehe..
Intinya, ga bisa digeneralisasi bahwa semua perempuan begitu, atau laki-laki begitu. Namun memang ada detil-detil lain yang gue akhirnya sependapat bahwa memang secara garis besar, pola berpikir laki-laki beda dengan perempuan. Tapi ga bersifat mutlak.
Ada yang menganggap pembahasan ini perlu untuk belajar lebih mengenal lawan jenis dan menjembatani perbedaan-perbedaannya. Gue pribadi, menganggap diskusi ini untuk tambahan wawasan saja. Sebab menurut gue, setiap orang, ga peduli jenis kelaminnya apa, pasti beda. Pasti punya keunikan tersendiri. Bukan tanpa alasan Tuhan menciptakan kita masing-masing seperti ini. Bukan kebetulan, tapi justru penuh rencana. Perbedaan apapun memang harus dijembatani, kan? Bukan dari segi jenis kelamin saja.
Gue cenderung fleksibel. "Ya emang orangnya begitu," alias menerima apa adanya, bukan dimasalahkan kenapa bisa beda, dan sekaligus menyesuaikan tanpa menghilangkan identitas. Kita harus menyikapi perbedaan itu bukan dengan maksa dia harus satu kemauan dengan kita atau malah bikin garis tegas yang memisahkan kita dengan dia karena beda. Justru kita belajar untuk memahami orang lain (bukan berarti setuju, lho), berempati, belajar mengendalikan diri supaya garis tegas itu ga muncul.
Perbedaan bisa jadi alat untuk saling melengkapi. Perbedaan yang ada, gue selalu berdoa supaya bisa jadi berkat yang mempersatukan dan menguatkan.
Terdengar mudah? Jangan salah.
Gue masih harus belajar banyak tentang itu..
Sunday, August 31, 2008
Aku dan penghuni rumahku
Mau bilang bahwa rumah gue jorok, bilanglah. Gue kasih kesempatan sebesar-besarnya sekarang.
Gue tahu banget sih, selain nyokap, kakak gue dan gue sendiri, ada juga penghuni-penghuni lain di rumah gue. Wueits, jangan mikir yang serem-serem ya. Ini juga serem sih, tapi mohon dicatat konteks seremnya beda.
Memang, populasi manusia di sini cuma tiga. Satu, sekarang ini. Dengan tega gue ditinggal sendirian di rumah, merana dan sebatang kara, dua manusia lainnya pergi ke Bandung.
Anyway. Jadi melenceng. Nah, sementara gue mengendap, berhibernasi sendirian di kamar dan cuma keluar kalo cari makanan dan kamar mandi, penghuni-penghuni lain bersenang-senang. Dan gue sebel banget. Bukan karena mereka bersenang-senang tanpa ngajak gue, tapi mereka ini bikin ulah.
Satu. Ada kecoa di dalam oven listrik gue. Udah mah ovennya payah, ini ditambah lagi ada kecoa di dalamnya. Mungkin dia mau coba memanggang diri.
Dua. Pas gue ke bak cuci piring di belakang, ada dua ekor cicak. Bukan pacaran lho. Karena kebodohan mereka sendiri, mereka nyemplung ke dalam bak yang licin (walau kering) dan ga bisa keluar lagi. Akibatnya harus gue bikinin jembatan dari sendok kayu supaya mereka bisa keluar.
Tiga. Tikus. Sumpah, tikus. Ga gede sih, tapi tetep ngeselin. Tahu apa yang bikin kesel? Dia wafat dalam posisi cantik yang meringkuk, di kolong meja makan. Mampus deh gue. Masalahnya gue sendirian. Kalo mau nurutin keinginan gue, gue ga mau ngurusin mayat itu. Tapi kalo bukan gue, siapa? Masa mau gue biarin berhari-hari di sana dan mengundang penghuni lainnya ngerubutin dia? Akhirnya dengan mengumpulkan nyali dan berdoa kenceng-kenceng, gue menyodok-nyodok dia pake sodokan sampah, gue masukin kantong kresek dan gue sorong-sorong tuh kantong ke depan biar diangkut tukang sampah besok pagi. Semoga Tuhan mengampuni dia (karena bikin gue panik) dan Tuhan juga maafin gue (karena gue memperlakukan dia dengan kurang hormat, disodok-sodok aja gitu).
Untung ga pake acara ada kalajengking di kamar mandi kakak gue! Kalo ada, lengkaplah sudah..
Gue tahu banget sih, selain nyokap, kakak gue dan gue sendiri, ada juga penghuni-penghuni lain di rumah gue. Wueits, jangan mikir yang serem-serem ya. Ini juga serem sih, tapi mohon dicatat konteks seremnya beda.
Memang, populasi manusia di sini cuma tiga. Satu, sekarang ini. Dengan tega gue ditinggal sendirian di rumah, merana dan sebatang kara, dua manusia lainnya pergi ke Bandung.
Anyway. Jadi melenceng. Nah, sementara gue mengendap, berhibernasi sendirian di kamar dan cuma keluar kalo cari makanan dan kamar mandi, penghuni-penghuni lain bersenang-senang. Dan gue sebel banget. Bukan karena mereka bersenang-senang tanpa ngajak gue, tapi mereka ini bikin ulah.
Satu. Ada kecoa di dalam oven listrik gue. Udah mah ovennya payah, ini ditambah lagi ada kecoa di dalamnya. Mungkin dia mau coba memanggang diri.
Dua. Pas gue ke bak cuci piring di belakang, ada dua ekor cicak. Bukan pacaran lho. Karena kebodohan mereka sendiri, mereka nyemplung ke dalam bak yang licin (walau kering) dan ga bisa keluar lagi. Akibatnya harus gue bikinin jembatan dari sendok kayu supaya mereka bisa keluar.
Tiga. Tikus. Sumpah, tikus. Ga gede sih, tapi tetep ngeselin. Tahu apa yang bikin kesel? Dia wafat dalam posisi cantik yang meringkuk, di kolong meja makan. Mampus deh gue. Masalahnya gue sendirian. Kalo mau nurutin keinginan gue, gue ga mau ngurusin mayat itu. Tapi kalo bukan gue, siapa? Masa mau gue biarin berhari-hari di sana dan mengundang penghuni lainnya ngerubutin dia? Akhirnya dengan mengumpulkan nyali dan berdoa kenceng-kenceng, gue menyodok-nyodok dia pake sodokan sampah, gue masukin kantong kresek dan gue sorong-sorong tuh kantong ke depan biar diangkut tukang sampah besok pagi. Semoga Tuhan mengampuni dia (karena bikin gue panik) dan Tuhan juga maafin gue (karena gue memperlakukan dia dengan kurang hormat, disodok-sodok aja gitu).
Untung ga pake acara ada kalajengking di kamar mandi kakak gue! Kalo ada, lengkaplah sudah..
Thursday, August 28, 2008
Hujan
Tadi sore, Jakarta baru diguyur hujan. Lumayan deras, dan mendungnya udah dimulai sejak pukul setengah lima, yang membuat langit seperti udah jam enam lewat. Sepertinya musim hujan akan dimulai.Dan hujan pun turun. Setelah ga hujan sekian waktu lamanya, yang paling berkesan buat gue selain bunyinya (dan hujan itu sendiri, tentunya) adalah baunya. Entah kenapa gue senang sekali dengan bau tanah yang baru kena siraman air. Ada sensasi yang muncul waktu menghirup napas dalam-dalam dan mencium bau tanah basah.
Sayangnya, di Jakarta kalau hujan ga terasa terlalu ‘permai’ atau ‘damai’. Di Bandung, kalau hujan udaranya dingin dan menyenangkan. Gue suka berdiri di ruang depan, mandang hujan dari balik jendela. Jalanan yang basah, butiran-butiran air hujan yang meluncur di dedaunan, pohon-pohon mahoni ratusan tahun di pinggir jalan yang ikut menyemarakkan suasana. Sendu, kelabu, namun menyenangkan pada saat yang sama.
Atau berdiri di teras di bawah naungan atap, sedikit kena tempiasan air hujan. ‘Tenggelam’ dan damai dalam mantel hangat tapi tetep ada dingin yang sedikit menyusup, sambil menggenggam secangkir coklat panas yang masih ‘ngebul’. Hmmm..
Semasa kecil di Tawangmangu dahulu, kalau hujan cuacanya lebih dingin lagi. Ya iyalaaaahh, namanya juga di lereng gunung Lawu. Di sini, hujan turun plus kabut tebal. Kalau yang ini judulnya males keluar rumah. Enakan berkumpul sekeluarga di dalam rumah yang hangat, bahkan sampai masang heater saking dinginnya! Kadang-kadang, sesudah hujan reda Papa ngajak kita jalan-jalan dengan mobil ke satu daerah yang agak lebih tinggi lagi tempat kita bisa ngelihat kota Solo terhampar nun jauh di sana, dan waktu kabutnya menghilang,..breathtaking. Kalau hujannya malam hari, yang paling eksotis adalah pemandangan pagi harinya waktu hujan udah berhenti. Rumput bener-bener hijau, wangi, dan basah. Butiran-butiran air bergulir.
Menulis ini bener-bener melontarkan diri gue sendiri ke masa lalu. Beneran, untuk sesaat barusan gue lupa ada di mana, karena nginget-nginget gimana rasanya hujan di sana.
Di Jakarta, hujan ga bikin udara terlalu dingin seperti dua daerah di atas. Cenderung lembab dan berat udaranya. Tapi gue tetep suka berdiri di teras belakang, ternaung canopy, memerhatikan hujan dan tetesannya yang membuat genangan rendah. Selain itu, gue punya kesan mendalam tersendiri tentang hujan di Jakarta. Heart-warming things yang terjadi di kala hujan, dan angan-angan.. Atau menikmati hujan yang menerpa kaca mobil, menyusuri jalanan basah yang penuh lampu warna-warni, ditemani jazz. Gue jadi ga sabar menanti-nantikan musim hujan.
Ada yang mau berbagi pengalaman menyenangkan tentang hujan? :)
Animasi

Wall-E.
Gue nonton film ini dua kali dalam jangka waktu hanya tiga hari. Hehehe… Sekalian memanfaatkan promo buy 1 get 1 debit card salah satu bank tempat gue nabung.
Film ini termasuk salah satu film yang begitu menyentuh gue. Padahal cuman film animasi doang. Dari review yang gue sempet baca sebelum nonton, katanya inilah film animasi yang mengembalikan arti dari animasi itu sendiri sebagai gambar bergerak. Faktor ini juga yang mendorong gue tertarik untuk nonton, selain sepotong thriller-nya yang sempet muncul waktu nonton Kungfu Panda beberapa waktu yang lalu.
Dan bahwa kemudian gue nonton sampai dua kali, rasanya cukup bisa bilang gimana gue suka film ini. Selain moral inti ceritanya yang secara sarkastis, kasar dan mengerikan ngedekripsikan kemungkinan gambaran masa depan bumi akibat global warming kalau ga ditindaklanjuti dari sekarang (bumi yang kotor, ga ada kehidupan, bahkan semua penduduknya lari ke luar angkasa dan jadi gemuk karena begitu dimanjakan teknologi, belum lagi sampai harus ngirim robot ke bumi untuk nyari tumbuhan hidup!), gue juga suka dengan cerita ‘pembungkus’-nya, kisah cinta yang lucu antara si penghancur sampah Wall-E dengan Eve si robot cantik yang punya tugas nyari tumbuhan hidup. Emang dasar guenya aja yang suka ‘meleleh’ sama cerita-cerita model itu :)
Tetapi yang ditulis review itu tentang kembali ke hakikat film animasi, bener banget. Semuanya disampaikan melalui gerakan, perbuatan. Gambar yang bergerak. Ga ada dialog sama sekali. Ungkapan, perasaan, semuanya lewat perbuatan. Perubahan ‘sorot’ mata menggambarkan apakah si Wall-E atau si Eve lagi sedih, marah, tertawa, tersipu, terpesona. Wall-E yang nyeret-nyeret Eve pakai kabel lampu hias waktu dia tiba-tiba hibernasi setelah ketemu tumbuhan, Wall-E yang kesamber petir waktu mayungin Eve, Eve yang panik berat waktu Wall-E hampir penyet, udah mah kesetrum sampai hampir ga fungsi lagi, dan Eve yang sedih banget waktu setelah Wall-E-nya dibetulin malah jadi ga ngenalin Eve-nya lagi. Semuanya melalui sesuatu yang dilakukan, bukan dikatakan.
Action speaks better than words, indeed. A picture paints a thousand words, indeed. Dulu gue ga sependapat, sekarang menurut gue itu sangat betul. Kata-kata tidak cukup bisa melukiskan saratnya emosi atau perasaan, bahkan ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata.
Gue nonton film ini dua kali dalam jangka waktu hanya tiga hari. Hehehe… Sekalian memanfaatkan promo buy 1 get 1 debit card salah satu bank tempat gue nabung.
Film ini termasuk salah satu film yang begitu menyentuh gue. Padahal cuman film animasi doang. Dari review yang gue sempet baca sebelum nonton, katanya inilah film animasi yang mengembalikan arti dari animasi itu sendiri sebagai gambar bergerak. Faktor ini juga yang mendorong gue tertarik untuk nonton, selain sepotong thriller-nya yang sempet muncul waktu nonton Kungfu Panda beberapa waktu yang lalu.
Dan bahwa kemudian gue nonton sampai dua kali, rasanya cukup bisa bilang gimana gue suka film ini. Selain moral inti ceritanya yang secara sarkastis, kasar dan mengerikan ngedekripsikan kemungkinan gambaran masa depan bumi akibat global warming kalau ga ditindaklanjuti dari sekarang (bumi yang kotor, ga ada kehidupan, bahkan semua penduduknya lari ke luar angkasa dan jadi gemuk karena begitu dimanjakan teknologi, belum lagi sampai harus ngirim robot ke bumi untuk nyari tumbuhan hidup!), gue juga suka dengan cerita ‘pembungkus’-nya, kisah cinta yang lucu antara si penghancur sampah Wall-E dengan Eve si robot cantik yang punya tugas nyari tumbuhan hidup. Emang dasar guenya aja yang suka ‘meleleh’ sama cerita-cerita model itu :)
Tetapi yang ditulis review itu tentang kembali ke hakikat film animasi, bener banget. Semuanya disampaikan melalui gerakan, perbuatan. Gambar yang bergerak. Ga ada dialog sama sekali. Ungkapan, perasaan, semuanya lewat perbuatan. Perubahan ‘sorot’ mata menggambarkan apakah si Wall-E atau si Eve lagi sedih, marah, tertawa, tersipu, terpesona. Wall-E yang nyeret-nyeret Eve pakai kabel lampu hias waktu dia tiba-tiba hibernasi setelah ketemu tumbuhan, Wall-E yang kesamber petir waktu mayungin Eve, Eve yang panik berat waktu Wall-E hampir penyet, udah mah kesetrum sampai hampir ga fungsi lagi, dan Eve yang sedih banget waktu setelah Wall-E-nya dibetulin malah jadi ga ngenalin Eve-nya lagi. Semuanya melalui sesuatu yang dilakukan, bukan dikatakan.
Action speaks better than words, indeed. A picture paints a thousand words, indeed. Dulu gue ga sependapat, sekarang menurut gue itu sangat betul. Kata-kata tidak cukup bisa melukiskan saratnya emosi atau perasaan, bahkan ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata.
Tuesday, August 26, 2008
Semua yang campur-campur
Sebagian besar makanan atau minuman yang modelnya dicampur-campur rasanya biasanya enak. Tentunya mengikuti kaidah yang berlaku (kaidaaaaaahhhh.. Emangnya kaidah tangan kanan). Coba aja es campur, rujak, gado-gado, lotek, nasi campur.Kenapa ya harus dimisalkan dengan makanan? Hmm.. Tau deh. Yang pertama kali muncul di otak adalah makanan, soalnya.
Ada juga model not dicampur-campur. Alhasil bikin chord yang ngga lazim (baca: agak bikin sakit kepala, hehehe). Namanya disonans. Di otak gue, highly associated dengan seseorang yang demen banget bikin chord disonans. Katanya sih, yang disonans-disonans ini semacam 'benang kusut' yang seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian mengawali suatu bentuk harmonisasi yang indah setelahnya. Jadi, seperti keindahan chord harmonis yang muncul sesudah yang disonans-disonans itu, begitulah juga kehidupan kita yang terasa bahagia sesudah masalah lewat. Gitu deh kurang lebih.
Yang dicampur-campur, ada juga model pelangi. Warnanya campur-campur, tapi membentuk sebuah keindahan. Bisa diasosiasikan dengan kehidupan majemuk dalam masyarakat kita. Walau berbeda, namun jika berdampingan justru bisa membentuk kehidupan yang damai. Eit, maap, itu bukan dicampur deng judulnya.. Disejajarkan. Kalau warna-warna itu semua dicampur, hasilnya cuman satu: putih. Itu kalau komposisi warnanya semua sebanding. Kalau ngga, judulnya butek.
Tapi jangan karena yang dicampur-campur itu biasanya enak, kemudian semua hal jadi dicampur. Perasaan yang dicampur-campur, emosi yang dicampur-campur, malah menimbulkan hal yang kurang baik.
Hmm.. Tiba-tiba jadi kepikiran es campur.. Sluuurrrrp. Yummy.
Subscribe to:
Posts (Atom)