Thursday, May 15, 2008

Sekarang..

  1. Berbekal laptop kesayangan, menghabiskan waktu di kafe deket rumah, yang bisa ditempuh hanya dengan 7-10 menit jalan kaki sambil menikmati hari yang cerah dan pemandangan pepohonan hijau sepanjang jalan. Intinya: memanfaatkan wi-fi gratis.
  2. Travel yang akan membawa gue pulang ke Jakarta jam 1 siang nanti cuma sejarak 7-10 menit (juga) dari kafe ini, jadi inilah alasan gue duduk-duduk di kafe ini sekarang.
  3. Situasi: meja hijau (bukan pengadilan lho), kursi hijau. Di atas meja ada segelas cappuccino dingin, kacamata, daftar menu, handphone yang gue silent, laptop (tentunya), sehelai tissue, dan sepiring lotek. Hidup sehat.
  4. Sebenernya ga baik makan sambil mengerjakan hal lain, tapi ini mumpung ga di rumah, mumpung ga sama siapa-siapa, dan gue bersikap tidak sopan (ampun, Tuhan).
  5. Punggung gue pegel banget. Kayak nenek-nenek aja. Efek-efek kurang tidur. Sekarang susah sekali menikmati waktu yang berkualitas untuk tidur kalo lagi di Bandung, karena pagi2 dingin, selimut ga mendukung, kamar berdebu yang menyemangati gue untuk terus bersin-bersin, dan jalanan depan rumah yang berisik. Ga bisa gue tidur sampe siang-siang. Sebel.
  6. Menyelesaikan makan sebelum poin 6 ini ditulis.
  7. Pingin ke toilet, tapi ribet kalo harus pake titip-titip tas dan laptop. Ke toilet bawa tas dan laptop? Sama juga repotnya.
  8. Harus segera menyelesaikan postingan ini.
  9. Tinggal tidur di perjalanan.
  10. Nyampe jam 3 sore nanti, mau langsung pulang dan nerusin tidur. Bantuan obat mungkin akan sedikit mengurangi sakit punggung gue.

Wednesday, May 14, 2008

Soulmate

"At one point, I even thought.....soulmates."

This is how Harry Sanborn - a role played by Jack Nicholson in 'Something's Gotta Give' - describes his deep feeling to Erica Barry - played by Diane Keaton.

This 'soulmate' thing popped up in my mind when recently he brought this up. Which then makes me think, what is soulmate, actually? What is the definition? Who can be someone's soulmate? How can it happen? Where can someone finds his/her? When is it?

On Wikipedia, I find few definitions about soulmate, taken from many sources:

  • Merriam-Webster Online Dictionary: a person temperamentally suited to another
  • Encarta® World English Dictionary: somebody close to somebody else, or somebody with whom somebody else naturally shares deep feelings and attitudes
  • Infoplease Dictionary: a person with whom one has a strong affinity

I also find that soulmate is highly related to 'kontak batin' (I cannot find the suitable English for that term), where if someone is in sadness, angry, or happiness, the other half can feel it too, although they're far from each other.

Finding soulmate cannot be measured from 'outside' appearance, especially when it comes to physical measurement. It cannot be measured by social status, financial status, and/or many more status. Sometimes you just know it when you know it. Sometimes it comes when all of sudden you realize that you already found it.

Menurut gue, yang paling mengena bahwa soulmate adalah seseorang yang dengannya seseorang lain bisa menjadi dirinya sendiri; seseorang yang bisa membuat nyaman seorang lainnya; seseorang yang bisa mengerti seorang lainnya, walaupun dia sedang dalam mood yang tidak baik, misalnya. Seseorang yang bisa menerima seorang yang lain sebagaimana adanya, kelebihan dan kekurangannya; seseorang yang mengesampingkan ego demi seorang lainnya; seseorang yang memberikan kasih sayang tanpa syarat kepada seorang lainnya.

So..

Have you find your soulmate? :)

Monday, May 12, 2008

Yovie and Nuno vs. Paul McCartney feat. Michael Jackson

Tahu dong lagunya Yovie and Nuno yang judulnya 'Dia Milikku'..? Pertama kali gue tertarik dengan lagu ini karena lihat video klipnya yang ngambil tempat di London. One of the cities I really want to visit. Gue pikir, gile, bikin video klip aja sampe ke London booooo.. Kemudian hal kedua yang membuat gue tertarik dengan lagu ini adalah liriknya. Menceritakan tentang dua orang cowok yang berteman, tapi mereka ngerebutin satu cewek. Kalo jaman dulu mungkin ksatria-ksatria di Inggris sampe bersedia duel pedang demi mendapatkan si perempuan ini. Halahhhh... Mulai imajinasi berlebihan :) Tapi kayaknya seru juga ya direbutin dua cowok.. Hmm.. Hahahaha, tambah ngelantur aja gue.

Dia untukku, bukan untukmu
Dia milikku, bukan milikmu
Pergilah kamu,
jangan kauganggu
Biarkan aku mendekatinya..

Itu adalah sepenggal lirik lagunya. Dan gue ngerasa seolah pernah mendengar lagu yang kurang lebih serupa dengan itu. Setelah menggali-gali otak, ingatan gue melayang ke lagunya Paul McCartney. Di lagu itu dia duet sama Michael Jackson, dan lagunya judulnya 'The Girl Is Mine'.

I don't understand the way you think
Saying that she's yours not mine
Sending roses and your silly dreams
Really just a waste of time
Because she's mine
The doggone girl is mine

Mirip ya..? Sama-sama tentang dua orang cowok yang memperebutkan satu cewek.

Dan nyambung lagi, mengingatkan gue tentang Meredith Grey di serial TV 'Grey's Anatomy', dimana dia direbutin oleh Dr. Sheppard, si McDreamy, dan Dr. Finn, si McVet. Sebenernya agak heran juga gue kenapa dia direbutin.. Menurut gue, ironis bahwa serial ini tentang dia, tapi justru dialah karakter yang paling ga gue sukain. Anyway, instead of wordwar atau perang di mulut doang, dan bukan juga perang keahlian sebagai dokter -- secara yang satu dokter spesialis bedah dan satunya dokter hewan -- mereka perang lewat cara sehat, yang mereka lakukan lewat kencan-kencan mereka masing-masing sama si Meredith. How they treat Meredith as their date, jadi masing-masing mengusahakan date terbaik untuk si Meredith.

Lalu?
Ga ada lalu-lalu. Cuman sekedar pikiran iseng aja..

Sunday, May 11, 2008

The d*** layout

I really, really can never imagine how frustrating it is to change the layout of my blog!
Bener-bener bikin marah dan naik darah..
I've been sitting for 2 hours and still cannot change anything!

Aaaaaarrrrrrggghhhh...!

Tuesday, May 6, 2008

Oven listrik baru

Inget dengan cerita oven listrik gue yang dodol beberapa waktu lalu? Ingatannya boleh direfresh dengan klik Oven listrik.

Akhirnya kami punya oven listrik baru, yang dibelinya pun jauh, di Kalipah Apo Bandung. Bawa pulangnya pun ribet, karena naik travel. Huaaa...hh.

Lalu gue tiba2 pingin roti bakar alias french toast. Jadi dengan semangat '45 gue mengganti yang lama yang udah kacau balau itu dengan yang baru. Yang lama sekarang teronggok menanti belas kasihan di pojokan dapur.

Gue pasanglah si oven baru itu. Gue sambungin ke listrik, masukin roti, dan gue muter timernya sampe 5, untuk pembakaran 5 menit. Setelah gue liat bahwa pemanasannya sempurna - indikatornya adalah si besinya berubah warna jadi merah dan kacanya memanas - gue meninggalkan si oven, karena seharusnya pada menit kelima dia bunyi "ding!" dan berhenti memanggang. Pada waktu itu seharusnya roti gue udah terpanggang sempurna.

Seharusnya.

Timernya kagak berfungsi!
Jadi setelah beberapa lama, gue baru teringat gue manggang roti (I admit I have a very short term memory), plus gue heran kenapa ovennya ngga bunyi2, maka gue hampiri si oven.

Roti gue hampir jadi arang..! Hitam dan keras!
Sejenak terpesona sama si roti, gue kemudian tertawa geli banget di dapur..

Oalah, ada-ada aja sih oven di rumah gue :D

Sunday, May 4, 2008

Walked-out interview

Pernah melakukan sesuatu yang gila banget sampe jadi ga percaya bahwa kita melakukannya? Gue sering. Tapi yang terjadi atas gue beberapa hari yang lalu menurut gue gila banget.

Ditelepon hari Rabu untuk konfirmasi tentang lamaran kerja yang gue submit di sebuah organisasi global non-profit, gue kemudian diberitahu bahwa sebuah email berisi kuesioner interview telah dikirimkan ke gue untuk diisi dan dikembalikan selambat-lambatnya keesokan harinya, Kamis jam 5 sore. Yang membuat gue agak heran adalah karena hari Kamis itu tanggal merah, 1 Mei. Hmm, agak aneh. But then ya sudahlah, dimintanya begitu masa gue mau nawar? Apalagi gue punya harapan cukup besar sama tempat ini. Sampai kemudian gue akhirnya mensubmit dokumen itu keesokan harinya jam 3 sore.

Malam itu juga, jam 7, gue ditelepon untuk interview keesokan harinya jam 9.30 pagi di kantornya di Jakarta. Dan sintingnya pada malam itu gue lagi di Bandung..! Jadilah gue seperti kebakaran jenggot, cacing kepanasan kena garam, apalah itu namanya, rusuh jaya nyari travel untuk pulang malam itu juga ke Jakarta. Sempet kepikir pula, rada gila juga ya nelepon untuk interview kok malam-malam gitu?

Tapi, gue optimis. Gue persiapkan diri gue sebaik mungkin, apalagi organisasi ini bergerak di bidang yang lumayan gue kuasain semasa kuliah dulu. Gue punya percaya diri.

Interview dimulai jam 9.30 pagi, dan pada saat itu ada 6 orang termasuk gue. Diawali perkenalan, rangkaian interview dilanjutkan dengan group discussion, lalu sesi games yang mewajibkan kami semua berperan sebagai public speaker, lalu ada role play, sesi tanya jawab, dan yang terakhir adalah pengumpulan petisi.

Sebelum seluruh rangkaian selesai, satu-persatu peserta berguguran. Eit, jangan salah sangka. Bukannya ga lolos. Tapi, berguguran meninggalkan medan perang karena keinginan sendiri alias walkout.

Ternyata deskripi pekerjaannya jauh sekali meleset dari perkiraan gue dan temen2 baru gue, setelah akhirnya belakangan kami ngobrol2. Kami ngiranya A, sementara ternyata pekerjaan yang ditawarkan adalah G. Jauh deh. Intinya, bukannya bermaksud sombong atau apa, kami overqualified. Oke, pekerjaan ini butuh hati, keteguhan, pantang menyerah, tapi bukan butuh hati, keteguhan dan pantang menyerah seperti yang kami kira. Oke, ga boleh juga menyebut diri overqualified, hanya aja kami ga sesuai dengan pekerjaan itu. Ga mengecilkan arti pekerjaannya lho, gue akui pekerjaan itu berat.

Alasan berikutnya, kompensasi. Oke, pekerjaan ini memang sesuatu yang sangat butuh idealisme tinggi, which is itu juga toh yang membuat gue semangat dan yakin. Tapi kompensasi tetaplah kompensasi...

Pada akhirnya, kami semua keenam-enamnya memang keterima. Tapi dari keseluruhan 6 orang, 4 orang walkout, dan itu termasuk gue. 2 orang pertama meninggalkan arena sebelum selesai, dan 2 orang kemudian (gue dan temen gue) walkout setelah menyelesaikan semua rangkaiannya. Gue rasa jarang sekali ada orang yang udah keterima kerja tapi malah memutuskan untuk walkout.

Agak sedih. Bukan karena faktor dari guenya, tapi gue agak kecewa dengan organisasi ini. Sayang aja, dengan nama besar, buat gue pribadi nampak seperti tidak sebesar itu.

Yah, satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Gue percaya bahwa di suatu tempat ada tempat yang lebih sesuai untuk gue, yang udah Dia pilihkan.

Friday, May 2, 2008

Facing your giants

Karena pengalaman dan cobaan berat yang dialaminya, seseorang mendorong dan mereferensikan ke gue sebuah buku karya Max Lucado, seorang Amerika, pendeta dan penulis buku2 kristiani. "Kamu udah pernah baca buku ini?" Dia mengangsurkan buku judulnya "Facing Your Giants". Dan serta-merta gue tersenyum, karena beberapa waktu yang lalu gue pernah mengangkat topik ini di blog, judulnya Siap atau tidak..

Buku ini inspirasional banget buat gue.

Setelah kemudian gue akhirnya membeli beberapa lagi buku karya Max Lucado ini, yang mana kemudian gue koleksi, sedikit banyak gue bisa melihat apa yang hendak disampaikan sama dia. Buku-bukunya terutama memang ditujukan untuk orang-orang yang mengalami pencobaan, pergumulan batin dan iman, baik yang berasal dari luar dirinya maupun dari dalam dirinya sendiri. Itulah 'raksasa-raksasa' yang dimaksud.

Buku ini penuh penghiburan, selain petunjuk-petunjuk yang dipedomani oleh Alkitab tentang gimana selanjutnya kita mau berbuat, apa yang bisa kita lakukan, what next. Gimana caranya kita mau move on, berdamai dengan diri sendiri, keluar dari kubangan masa lalu dan dosa. Buku ini juga menulis berita pengampunan dari Dia, anugerah dan berkat yang berlipat-lipat yang membanjiri kita yang sering tidak kita sadari dan syukuri. Yang penting kita mau percaya dan berserah, membiarkan Dia membentuk kita, mengukir, memahat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Untuk yang merasa tidak sedang dalam pencobaan, kalimat-kalimat, ayat-ayat dan ilustrasi-ilustrasi yang dituangkan dalam buku ini bermaksud mengajar, mengantisipasi, memberi petunjuk, membangun iman percaya, atau bahkan tidak disangka-sangka, teguran bagi yang tidak menyadari. Atau juga, seperti yang seringkali gue alamin, tiba-tiba aja, "Oh! Ini ternyata. Ini jawabannya, jawaban dari pertanyaan gue selama ini, respon Dia dari doa gue selama ini."

Hebat bukan, cara Dia bicara melalui buku, teman, keadaan, apapun? :)